Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (23/7/2026): IHSG Masih Bergerak dalam Tren Bullish

Oleh: Ria

23 Juli 2026, 08:21
ANALIS MARKET (23/7/2026): IHSG Masih Bergerak dalam Tren Bullish

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Rabu (22/07/26) karena investor cenderung menahan diri menjelang rilis laporan keuangan dari perusahaan teknologi besar seperti Alphabet dan Texas Instruments, yang diharapkan memberikan petunjuk baru mengenai prospek tema kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 turun 0,1% menjadi 7.498,96, Nasdaq Composite melemah 0,6% menjadi 25.690,90, sementara Dow Jones Industrial Average ditutup relatif datar di 52.218,58.

Pelemahan ini terutama dipicu oleh sikap menunggu dan melihat terhadap musim pendapatan, meskipun sebagian besar perusahaan yang telah merilis kinerja sejauh ini berhasil melampaui ekspektasi pasar.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati menjelang laporan keuangan perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, yang dianggap sebagai penentu arah reli saham AI. Fokus utama investor tertuju pada panduan belanja modal (capex) Alphabet, setelah perusahaan sebelumnya mengalokasikan pengeluaran AI sebesar US$180–190 miliar pada tahun 2026. Sejumlah analis bahkan memperkirakan bahwa capex ini dapat meningkat menjadi US$190–200 miliar seiring dengan tingginya permintaan AI dan kenaikan harga chip memori. Di sisi lain, kekhawatiran mengenai skala investasi AI dan ketidakpastian mengenai jangka waktu pengembalian modal masih membayangi pasar, sehingga saham semikonduktor yang sebelumnya memimpin reli mengalami koreksi tajam lebih dari 20% dari puncaknya. Meskipun demikian, prospek pertumbuhan laba untuk sektor chip tetap kuat, dengan laba perusahaan semikonduktor S&P 500 diproyeksikan tumbuh 133% YoY pada kuartal kedua dan berkontribusi sekitar 44% terhadap pertumbuhan pendapatan indeks secara keseluruhan.

GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki hari ke-11. Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur strategis Iran jika terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Iran menanggapi dengan ancaman untuk membalas terhadap fasilitas energi dan infrastruktur yang memiliki kepentingan AS di kawasan tersebut. Kondisi ini memperburuk gangguan distribusi energi global setelah ancaman juga meluas ke jalur pelayaran Laut Merah melalui Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Meskipun demikian, upaya diplomatik masih berlangsung dengan usulan gencatan senjata 10 hari melalui mediator internasional.

REGULASI & KEBIJAKAN: Investor juga mencermati pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menekankan bahwa pemerintah AS tetap terbuka untuk saluran diplomatik dengan Iran selama komitmen yang disepakati dipatuhi. Pernyataan tersebut menawarkan harapan bahwa konflik dapat diredam melalui negosiasi, meskipun AS menegaskan kembali bahwa mereka akan tetap melindungi jalur pelayaran internasional jika ancaman terhadap perdagangan global terus berlanjut.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di sekitar level 101,1. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik menjadi 4,64%, level tertinggi dalam dua bulan terakhir, sementara imbal hasil 2 tahun meningkat menjadi 4,30%, mencerminkan kenaikan premi risiko akibat lonjakan harga minyak. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik menjadi sekitar 2,74%, level tertinggi dalam seminggu, menyusul kenaikan imbal hasil obligasi AS. Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan sekitar JPY163 per dolar AS menyusul spekulasi bahwa Bank Sentral Jepang berpotensi mempercepat kenaikan suku bunga bersamaan dengan peluang intervensi nilai tukar.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup lebih tinggi didorong oleh laporan keuangan perusahaan yang solid. DAX Jerman naik 0,7% menjadi sekitar 25.200, FTSE MIB Italia menguat 1,0% menjadi 52.792, CAC 40 Prancis bertambah 0,9% menjadi 8.438, FTSE 100 Inggris melonjak lebih dari 1% di atas 10.700, sementara STOXX Europe 600 naik 0,58% menjadi 646,92. -Pasar Asia bergerak beragam. KOSPI Korea Selatan naik 0,74% berkat rebound saham semikonduktor, sementara Nikkei 225 Jepang turun 0,18% karena investor mengambil sikap hati-hati menjelang laporan pendapatan teknologi AS. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,4%, Shanghai Composite ditutup relatif datar, Shenzhen Component turun 1,42%, indeks Malaysia (FKLCI) melemah 0,52%, sementara STI Singapura menguat 1,24%.

KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas didominasi oleh kenaikan di sektor energi karena meningkatnya risiko geopolitik. Harga minyak WTI naik 2,95% menjadi sekitar US$88/barel, sementara Brent melonjak 4,9% menjadi di atas US$95/barel, level tertinggi dalam enam minggu setelah serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Harga emas menguat 1,04% menjadi US$4.120/ounce didorong oleh permintaan aset safe-haven. Sebaliknya, tembaga turun 1,10% menjadi sekitar US$6,45/lb setelah reli tajam pada hari sebelumnya. Harga batu bara Australia relatif stabil di sekitar US$130/ton (-0,04%), minyak mentah Malaysia (CPO) naik tipis 0,26% menjadi sekitar MYR4.600/ton, timah turun menjadi US$50.550/ton meskipun masih mencatat kenaikan harian sebesar 1,90%, sementara nikel naik 0,29% menjadi sekitar US$17.100/ton di tengah ketidakpastian mengenai kebijakan produksi Indonesia.

INDONESIA: Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di 5,75%, Fasilitas Deposito di 4,75%, dan Fasilitas Pinjaman di 6,50% pada RDG tanggal 21-22 Juli 2026. BI memilih untuk memperkuat insentif investasi portofolio asing daripada menaikkan suku bunga karena dianggap lebih efektif dalam menjaga stabilitas rupiah tanpa meningkatkan biaya pendanaan domestik di tengah ketidakpastian global. •Selain itu, BI memperluas berbagai insentif untuk menarik masuknya modal asing, termasuk menaikkan insentif Sell Hedge Swap dari 10% menjadi 12,5%, memperluas insentif Sell Hedge DNDF menjadi 15%, dan memberikan insentif tambahan untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperdalam pasar uang domestik dan pasar valuta asing.

-Di sisi lain, PEFINDO menerbitkan 143 publikasi pemeringkatan untuk 59 entitas jasa keuangan selama semester pertama tahun 2026, didominasi oleh sektor perbankan. Semua entitas mempertahankan prospek stabil tanpa pemeringkatan. Perubahan tersebut, dengan mayoritas berada dalam kategori peringkat investasi, mencerminkan kondisi fundamental sektor jasa keuangan Indonesia yang masih solid.

-JCI ditutup lebih rendah sebesar 0,09% ke level 6.334,48. Sepanjang perdagangan Rabu (22/07), JCI bergerak dalam kisaran 6.284,88 – 6.394,69. Investor asing mencatatkan penjualan bersih di Pasar Reguler sebesar Rp1,11 triliun, sementara di seluruh pasar investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp920,34 miliar. Arus masuk dana asing terutama masuk melalui TINS, ANTM, BNBR, VKTR, dan BUMI, sementara tekanan penjualan asing tercatat di DSSA, BBRI, ASII, AMMN, dan TPIA. Di sisi lain, Rupiah bergerak stabil dalam kisaran Rp17.900/US$ setelah Bank Indonesia mempertahankan Suku Bunga BI di 5,75%, mencerminkan kepercayaan bahwa kebijakan moneter saat ini masih memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

-Secara teknis, JCI masih bergerak dalam tren bullish setelah menembus resistensi 6.377 dan belum mampu bertahan di atas level tersebut. Meskipun demikian, posisi indeks tetap di atas EMA10, EMA20, dan EMA50, sehingga tren naik jangka menengah tetap utuh. RSI (14) berada di 62,69, mencerminkan momentum bullish yang masih kuat, meskipun ruang untuk peningkatan mulai menjadi lebih terbatas karena mendekati area overbought. Selama JCI mampu bertahan di atas area support 6.284 – 6.260 (EMA50), peluang untuk terus menguat tetap terbuka untuk menguji resistensi di 6.377 lagi. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.398 – 6.459. Sebaliknya, jika gagal menembus resistensi lagi, JCI berpotensi mengalami koreksi yang cukup signifikan dengan support terdekat di 6.284 – 6.260 (EMA50), diikuti oleh 6.231.

“Kami menyarankan investor untuk mengambil keuntungan secara bertahap selama JCI belum mampu menembus di atas 6.377, dengan trailing stop di area EMA50 (6.260),” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (23/7).

Berita Terkini

See More