See More

12 Agustus 2026, 19:04

12 Agustus 2026, 18:50

12 Agustus 2026, 17:05

12 Agustus 2026, 16:38

12 Agustus 2026, 15:30

12 Agustus 2026, 15:13
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Selasa (26/11/08); indeks S&P 500 turun 0,32% ke level 7.728,20, Nasdaq Composite melemah 0,60% ke 26.445,45, dan Dow Jones terkoreksi 0,34% ke 53.791,85.
Pelemahan ini terutama dipicu oleh tekanan pada saham-saham teknologi utama, sementara investor cenderung bersikap wait-and-see menjelang rilis data CPI AS.
Dari sisi korporasi, saham CoreWeave melonjak lebih dari 14% dan Super Micro Computer naik lebih dari 7% setelah memberikan proyeksi pendapatan yang optimistis.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar tetap berhati-hati, dengan investor mempertahankan posisi defensif menjelang sejumlah katalis makro dan laporan kinerja keuangan. Musim laporan keuangan tetap menjadi faktor pendukung utama, di mana 85,1% dari 436 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja mereka mencatatkan hasil yang melampaui ekspektasi analis. Fokus jangka pendek juga tertuju pada laporan dari Cisco Systems, Cerebras, dan Enersys, yang dapat memberikan arah bagi sektor teknologi.
GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai tuntutan mereka dipenuhi. Lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun drastis, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Sementara itu, upaya diplomatik melalui Oman dan Qatar masih terus berlangsung dan dikabarkan telah memasuki tahap kritis.
REGULASI & KEBIJAKAN: Data CPI AS bulan Juli menjadi penentu penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed, mengingat pasar mulai terpecah pendapatnya mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan September. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan, sedangkan inflasi yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan. Selanjutnya, pasar akan memantau data PPI pada hari Kamis sebagai konfirmasi tambahan mengenai arah tekanan harga.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun menjadi 4,68% dari sebelumnya di atas 4,71% pada sesi sebelumnya, sementara yield tenor 2 tahun turun 2 bps menjadi 4,23%. Indeks DXY berada di kisaran 99,8, Euro bertahan di atas US$1,155, sementara Yen melemah melampaui level JPY159 per Dolar AS. Di Jepang, imbal hasil (yield) JGB tenor 10 tahun stabil di angka 2,81% dan tenor 2 tahun di 1,62%.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa bergerak variatif. Indeks DAX Jerman naik 0,3% ke rekor 26.385, didorong oleh saham sektor utilitas dan Siemens Energy. Indeks CAC 40 Prancis turun 0,1% ke 8.715, FTSE MIB Italia stagnan di 53.706, STOXX Europe 600 naik tipis 0,01%, sementara FTSE 100 Inggris relatif stabil.
-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 Jepang melonjak 2,08% ke 66.970 dan KOSPI Korea Selatan naik 0,73% ke 6.346. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 1,1% ke 25.653, Shanghai Composite melemah 0,82%, dan Shenzhen Component turun 0,40%.
KOMODITAS: Harga energi kembali menguat di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Minyak Brent naik 1,72% ke kisaran US$89/barel dan WTI naik 1,30% ke atas US$83/barel. Batu bara termal naik 0,23% menjadi US$129,3/ton. Emas turun 0,52% menjadi US$4.368/oz akibat aksi ambil untung (profit-taking), sementara tembaga naik 0,3% ke atas US$6,6/lb. Timah naik 0,40% menjadi US$55.752/ton, sedangkan nikel turun 0,74% menjadi US$16.820/ton di tengah ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia. CPO Malaysia naik 0,53% menjadi MYR4.748/ton.
INDONESIA: Penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 mencapai Rp1.209,6 triliun, atau 51,31% dari target APBN, tumbuh 22,17% secara tahunan (year-on-year) dari Rp990,01 triliun. Namun, pemerintah masih menghadapi potensi kekurangan penerimaan (shortfall) sebesar Rp46,9 triliun, dengan proyeksi penerimaan tahun 2026 sebesar Rp2.310,8 triliun, atau sekitar 98% dari target.
-Selain itu, pemerintah terus memperkuat regulasi dan insentif untuk mendorong investasi swasta di sektor energi terbarukan, termasuk melalui Peraturan Presiden No. 112/2022 dan Peraturan Menteri ESDM No. 19/2025, serta fasilitas perpajakan, impor, dan perizinan. Kebijakan ini bertujuan mendukung target pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GW. Di sektor kendaraan listrik, Presiden Prabowo dijadwalkan meresmikan Program Sepeda Motor Listrik Nasional pada 13 Agustus 2026 di fasilitas ALVA, Cikarang. Namun, rincian mengenai produsen, model, spesifikasi, dan skema program masih menunggu pengumuman resmi pemerintah.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,53% di level 6.267,88 pada hari Selasa (11/8), bergerak dalam rentang 6.230,10 – 6.388,58. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp279,98 miliar di Pasar Reguler dan Rp687,80 miliar di seluruh pasar; arus masuk (inflow) terbesar terjadi pada saham BBRI, ANTM, AMMN, BRPT, dan INCO, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada TPIA, BMRI, DSSA, ASII, dan BBCA. Nilai tukar Rupiah juga melemah ke kisaran Rp17.820/US$ di tengah data domestik yang lebih lemah. Hari ini, investor juga akan mencermati pengumuman hasil Tinjauan Indeks MSCI bulan Agustus yang dijadwalkan rilis setelah pukul 23.00 CEST pada 12 Agustus, dengan perubahan indeks mulai berlaku pada penutupan perdagangan tanggal 31 Agustus 2026.
-Secara teknikal, IHSG membentuk candle bearish setelah gagal mempertahankan posisi di atas level resistansi 6.377; indeks ditutup sedikit di atas EMA50 (6.264) namun kembali berada di bawah EMA10 (6.293) dan masih di atas EMA20 (6.233). Kondisi ini mengindikasikan bahwa tren bullish jangka pendek relatif masih terjaga, meskipun momentum mulai melemah. Indikator RSI (14) di level 53,66 menunjukkan momentum masih berada di wilayah positif namun mulai menurun dan belum memasuki area jenuh beli (overbought). Selama mampu bertahan di atas kisaran 6.264–6.233, IHSG memiliki peluang untuk kembali menguji level 6.377; penembusan di atas level tersebut akan membuka ruang penguatan menuju 6.463–6.500. Sebaliknya, pelemahan di bawah 6.264 berisiko mendorong IHSG untuk menguji level 6.233, kemudian 6.186 (area gap) dan 6.106.
“Kami menyarankan strategi Hold atau Accumulate on weakness (beli saat harga turun), dengan menerapkan trailing stop jika IHSG kembali ditutup di bawah area 6.233,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (12/8).