ANALIS MARKET (11/8/2026): Tren Bullish Jangka Pendek Masih Terjaga
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan hari Senin (26/10/08), setelah mencatatkan kenaikan mingguan terbaiknya sejak pertengahan April.
Indeks S&P 500 turun 0,1% menjadi 7.753,11, Nasdaq Composite melemah 0,3% menjadi 26.605,36, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,1% menjadi 53.975,98.
Pelemahan terutama terjadi pada saham-saham teknologi, termasuk Intel, yang harganya turun setelah mengumumkan rencana penerbitan saham senilai US$15 miliar.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati menjelang rilis data IHK (CPI) AS bulan Juli pada hari Rabu, yang merupakan indikator penting bagi arah kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan inflasi tahunan akan melambat menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan Juni, sementara data ketenagakerjaan sebelumnya yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan September.
GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS dan menetapkan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk pencabutan sanksi dan pengakhiran blokade angkatan laut. Ketidakpastian ini meningkatkan risiko terhadap kelancaran jalur perdagangan energi global.
REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan moneter AS kini tertuju pada data inflasi setelah laporan lapangan kerja bulan Juli menunjukkan penurunan jumlah lapangan kerja sebanyak 23.000 dan revisi data penggajian (payroll) periode Mei–Juni sebesar 103.000. Kondisi ini mendorong pasar untuk menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September, dengan data IHK bulan Juli sebagai indikator kunci berikutnya.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik menjadi 4,70%, level tertinggi bulan ini, sementara imbal hasil tenor 2 tahun naik 0,04 poin menjadi 4,24%. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik di atas 2,80% dan tenor 2 tahun naik menjadi 1,62%. Di pasar valuta asing, indeks DXY naik tipis ke level 99,7 dan euro bertahan di atas US$1,155, sementara yen melemah melampaui level JPY158 per dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 turun 0,35%, DAX relatif stagnan di angka 26.320, CAC 40 naik 0,1%, dan FTSE MIB melemah 0,18%. STOXX Europe 600 naik tipis sebesar 0,03%.
-Pasar Asia sebagian besar menguat. Nikkei 225 naik 2,08%, KOSPI menguat 0,65%, Hang Seng naik 1,1%, dan Shanghai Composite naik 0,67%. Sebaliknya, indeks Sensex India turun sekitar 0,2%, sementara Shenzhen Component bergerak stagnan.
KOMODITAS: Harga energi menguat tajam; WTI naik 5,03% ke atas US$82/barel dan Brent melonjak 4,92% ke atas US$87/barel. Harga emas naik 1,24% menjadi sekitar US$4.397/oz, sementara nikel turun 0,15% menjadi US$16.945/ton, timah melemah 1,01% menjadi US$55.530/ton, dan tembaga turun ke bawah US$6,6/lb. Harga batu bara termal berada di bawah US$130/ton.
AGENDA HARI INI:
-Australia (AU): Indeks Keyakinan Bisnis NAB bulan Juli & Keputusan Suku Bunga RBA.
-Amerika Serikat (AS): Penjualan Rumah Bekas (Existing Home Sales) bulan Juli.
INDONESIA: Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia untuk bulan Juli 2026 turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada bulan sebelumnya, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah menjadi 125,7 dari 126,4. Meskipun masih berada pada tingkat optimis, penurunan ini mengindikasikan bahwa konsumen menjadi lebih berhati-hati terhadap prospek pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli. Porsi pendapatan yang dialokasikan untuk pembayaran cicilan naik menjadi 10,5% dari 10%, sedangkan porsi konsumsi sedikit meningkat menjadi 73% dari 72,7%, yang menunjukkan semakin terbatasnya ruang bagi belanja masyarakat.
-Di sisi kebijakan, Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur definitif Bank Indonesia kepada DPR. Destry saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo. LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) menilai pengalaman Destry di LPS dan Kementerian Keuangan sebagai aset positif untuk memperkuat koordinasi kebijakan sektor keuangan melalui KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan).
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,69% di level 6.365,37 pada hari Senin (10/8), bergerak dalam rentang 6.362,76 – 6.462,74. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp875,51 miliar di Pasar Reguler, meskipun secara keseluruhan pasar mereka masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp829,70 miliar. Arus masuk dana asing terutama tertuju pada saham DSSA, MDKA, TINS, BBCA, dan PSAB, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada TPIA, BMRI, TLKM, ASII, dan BBRI. Di pasar valuta asing, Rupiah menguat ke kisaran Rp17.760/US$, mencatatkan kenaikan selama dua sesi berturut-turut dan mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu, didukung oleh pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI serta pelemahan indeks DXY.
-Secara teknikal, IHSG membentuk candle bearish setelah gagal mempertahankan posisi di atas level resistansi 6.377 pasca-breakout; namun, indeks masih ditutup di atas EMA10 (6.299), EMA20 (6.230), dan EMA50 (6.264), sehingga tren bullish jangka pendek tetap terjaga meski momentum mulai melambat. Indikator RSI (14) di level 60,69 menunjukkan bahwa momentum positif masih cukup kuat dan belum memasuki zona jenuh beli (overbought). Selama IHSG mampu kembali menembus dan bertahan di atas level 6.377, terdapat ruang untuk melanjutkan penguatan menuju kisaran 6.463–6.500, dengan target berikutnya di sekitar 6.723. Sebaliknya, pelemahan di bawah level 6.299 berisiko memicu koreksi menuju 6.264, lalu ke 6.230.
“Kami menyarankan strategi Hold atau Accumulate on weakness (beli saat harga turun), dengan menerapkan trailing stop jika IHSG kembali ditutup di bawah area 6.299,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (11/8).





