ANALIS MARKET (21/10/2021) : Pergerakan IHSG Diproyeksi Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Reliance Sekuritas menyebutkan, diperdagangan Selasa (19/10) lalu, IHSG ditutup sedikit lebih rendah (-0.04%) ke level 6656.0 sejalan dengan sector teknologi (-1.57%) dan sektor eneri (-0.59%) menyusul harga batu bara dan minyak mentah yang terkoreksi. Secara sentimen, pergerakan IHSG dipengaruhi oleh keputusan bank Indonesia yang kembali menahan suku bunga di level 3.5% untuk menjaga ekonomi dari pandemi. Selain itu, Bank Indonesia (BI) tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang tahun 2021 berada di kisaran 3,5% hingga 4,3%. Proyeksi tersebut berdasarkan pada perbaikan ekonomi yang terus berlanjut pada kuartal III-2021 didukung oleh kinerja ekspor yang tetap tingggi dan aktivitas konsumsi dan investasi yang naik lagi seiring pelonggaran pembatasan mobilitas. Optimisme investor pada pasar domestic juga tercermin dari investor asing yang masih membukukan aksi beli bersih sebanyak IDR 513.38 miliar dengan saham yang paling banyak dikoleksi investor asing secara value antara lain, BBRI, ASII dan BBNI.

Di sisi lain, mayoritas saham di AS memperpanjang kenaikan pada hari Rabu, karena investor mengamati sejumlah hasil pendapatan yang lebih kuat dari perkiraan dengan meningkatnya optimisme atas lintasan keuntungan perusahaan, bahkan dalam menghadapi kendala rantai pasokan yang sedang berlangsung. Dow Jones Industrial Average naik ke level tertinggi sepanjang masa, mengambil rekor tertinggi sebelumnya dari Agustus. Di sisi lain, Investor dengan gugup memantau data inflasi yang menunjukkan harga melonjak paling tinggi dalam beberapa dekade , di atas segudang laporan tentang kekurangan tenaga kerja dan bahan serta masalah pengiriman. Semua faktor ini diperkirakan akan sangat membebani laba perusahaan.

Sementara itu, pada perdagangan Kamis (21/10), Indeks Nikkei (-0.60%) dan Topix (-0.41%) dibuka lebih rendah karena investor menimbang pendapatan perusahaan, inflasi tinggi dan risiko dari sektor properti China. Adapun hasil pendapatan perusahaan telah membantu meredakan kekhawatiran pasar tetapi tidak berarti menghilangkan kekhawatiran bahwa tekanan biaya - yang dipicu oleh krisis energi dan gangguan rantai pasokan - akan memperlambat pemulihan pandemi. Pada saat yang sama, investor juga bergulat dengan prospek berkurangnya dukungan bank sentral dan tetap waspada terhadap kesulitan di sektor real-estate China. Di tempat lain, dalam komentar terbaru Federal Reserve, Gubernur Randal Quarles mengungkapkan, bahwa dia mendukung langkah awal untuk memperlambat stimulus moneter bulan depan dan khawatir dengan meluasnya tekanan inflasi yang dapat memerlukan respons kebijakan.

Dari komoditas, harga minyak WTI (+1.10%) memperpanjang kenaikannya didukung oleh penurunan mingguan dalam persediaan minyak mentah AS dan penurunan stok bensin ke level terendah dalam hampir dua tahun. Sementara itu harga batu bara (-3.05%) kembali terkoreksi dan CPO (+2.57%) naik.

“Secara sentimen, pergerakan IHSG hari ini akan mencoba menguat ditengah optimisme masuknya musim pendapatan di dalam negeri. Di sisi lain adanya perpanjangan stimulus di sektor properti terkait DP 0% untuk KKB dan KPR hingga 31 Desember 2022 dapat menjadi katalis positif untuk indeks,” beber analis Reliance Sekuritas dalam riset yang dirilis Kamis (21/10/2021).