ANALIS MARKET (22/10/2021) : Pergerakan IHSG Berpotensi Terkoreksi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Reliance Sekuritas menyebutkan, setelah sempat optimis diawal perdagangan, IHSG berakhir melemah (-0.35%) ke level 6632,97, kemarin (21/10). Adapun pelemahan tersebut juga sejalan dengan mayoritas bursa regional yang tengah dalam aksi tunggu menanti lebih banyak laporan kuartal seiring terjadinya inflasi dan gangguan rantai pasokan. Secara sectoral, sector perindustrian (-2.69%) dan energi (-3.26%) menjadi penekan pergerakan indeks. Meski demikian, investor asing masih mencatat aksi beli bersih sebesar IDR531.82 miliar dengan saham yang paling banyak dikoleksi antara lain BBRI, TLKM, BMRI.

Di sisi lain, pada pasar AS, Saham sebagian besar lebih tinggi pada hari Kamis (21/10), dengan S&P 500 naik ke rekor tertinggi sepanjang masa karena parade hasil pendapatan yang kuat dan data ekonomi membantu mendorong harga ekuitas. S&P 500 naik 0,3% untuk mencapai rekor intraday dan penutupan tertinggi, dipimpin oleh kinerja yang lebih baik di sektor konsumen dan teknologi informasi. Laporan yang lebih baik dari perkiraan tentang klaim pengangguran mingguan baru juga membantu meningkatkan aset berisiko, dengan ini meningkat ke level terendah baru di era pandemi. Selanjutnya, investor akan menanti data PMI manufaktur dari beberapa negara dan mengamati pidato dari ketua Fed.

Sementara itu, pada pasar regional, Indeks Nikkei (+0.12%) dan Topix (+0.11%) dibuka lebih tinggi di akhir pekan mempertimbangkan laporan pendapatan dan tenggat waktu pembayaran yang menjulang untuk China Evergrande Group. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun memangkas kenaikan tetapi tetap lebih tinggi untuk minggu ini. Federal Reserve semakin dekat untuk mengurangi pembelian obligasi dan para pedagang meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan harga. Di China, Evergrande memiliki waktu hingga akhir pekan ini untuk membayar kupon obligasi senilai $83,5 juta. Kekhawatiran masih ada tentang kemungkinan penularan jika gagal bayar serta implikasinya bagi pertumbuhan China dari perlambatan sektor properti yang lebih luas.

Dari komoditas, harga minyak WTI (+0.01%) cenderung moderat setelah di hari sebelumnya turun lebih dari 1% setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan OPEC+ mungkin lebih banyak meningkatkan produksi. Batu bara turun signifikan setelah China nampaknya akan melakukan intervensi untuk memangkas batu bara. Selain itu, Harga nikel (-4.98%) dan timah (-3.06%) turun signifikan.

“Sehingga secara sentimen, pergerakan IHSG diakhir pekan berpotensi terkoreksi ditengah penurunan harga komoditas yang cukup signifikan,” sebut analis Reliance Sekuritas dalam riset yang dirilis Jumat (22/10/2021).