ANALIS MARKET (05/1/2022) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, ternyata, bahkan lelang pun tidak sanggup menghentikan penurunan di pasar obligasi.

Pasalnya, meskipun penawaran yang masuk besar dan sesuai ramalan kami, namun sayangnya yang dimenangkan merupakan batas bawah. Hal ini dikarenakan tingginya yield yang diminta, dan menurut kami memang wajar.

Mengapa?

Seperti yang kita ketahui bahwa The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga, begitupun juga dengan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang akan menaikkan tingkat suku bunganya yang dimana akan memberikan dampak terhadap pasar obligasi yang dimana otomatis yield obligasi akan mengalami kenaikkan juga.

Hal ini yang menurut kami wajar kalau pelaku pasar dan investor meminta imbal hasil yang lebih besar sebagai bagian dari kompensasi dari sebuah risiko.

Setelah lelang, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Pasar akan kembali mengalami penurunan untuk mulai menguji batas atas imbal hasil untuk obligasi 10y yang sudah berhasil menyentuh 6.4%.

Apabila imbal hasil obligasi 10y menyentuh di atas 6.4%, maka selanjutnya adalah terciptanya level baru yang dimana akan bermain di rentang 6.4% - 6.5%.

Jadi, menahan pembelian merupakan salah satu yang diharapkan menjadi sebuah strategi untuk mendapatkan harga termurah. Potensi beli boleh dilakukan apabila sudah menyentuh di atas 6.5% bagi imbal hasil obligasi 10y.

“Pagi ini pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (05/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.CERITA THE FED!

Sebentar lagi mungkin akan banyak kisah yang akan hadir dari The Fed, khususnya terkait dengan puncak acara dilantiknya Powell kembali pada tanggal 11 January 2022. Namun sebelum kita kesana, seperti biasa ada desas desus terkait dengan gossip kenaikkan tingkat suku bunga pada bulan January ini. Lho bukannya sudah pasti? Betul, memang sudah pasti, namun salah satu pertanyaan yang menarik adalah seperti ini. Seberapa banyak sih, The Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya? Nah beberapa ada yang mengatakan 2x, hingga 4x. Tapi Presiden Fed, Neel Kashkari mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh untuk kenaikkan tingkat suku bunga sebanyak 2x pada tahun ini untuk melawan risiko yang ditimbulkan oleh inflasi. Kashkari mengatakan bahwa dirinya telah memberikan usulan tersebut karena inflasi berpotensi bergerak lebih tinggi dan persisten daripada yang diharapkan saat ini. Inflasi bergerak cepat dan konsisten, bahkan pada akhirnya dapat berada di level tertinggi dalam kurun hampir 40 tahun terakhir. Namun tidak sedikit juga lho yang mengatakan bahwa masih banyak pejabat The Fed yang lebih suka menahan tingkat suku bunga acuannya mendekati nol setidaknya hingga 2023 berakhir. Namun hal yang berbeda justru ditunjukkan oleh Bank Sentral Kanada bahwa mereka akan mulai menaikkan tingkat suku bunga pada awal tahun ini. Saat ini investor, tampaknya di semua negara mulai mengesampingkan kekhawatiran mereka tentang Omicron. Hal ini yang membuat Bank Sentral Kanada semakin yakin untuk mulai menaikkan tingkat suku bunga mereka pada awal tahun ini. Setidaknya hingga saat ini, ada 2 moment 2 pertemuan yang berpotensi salah satunya akan mengalami kenaikkan, pertemuan bulan January atau bulan Maret. Hal ini akan menjadi keputusan penting bagi Bank Sentral Kanada, setidaknya mereka memiliki target tingkat suku bunga untuk berada di kisaran 1.5% pada akhir tahun ini.

2.INFLASI?

Kenaikan dari biaya energi dan bahan baku dinilai dapat menjadi trigger pada kenaikan inflasi di tahun 2022. Hal tersebut cukup terlihat dari kenaikan harga minyak goreng seiring dengan kenaikan harga CPO di pasar global. Selain itu, factor cuaca juga ikut memberikan kontribusi kenaikan pada harga cabai yang turut memberikan dampak pada kenaikan harga produksi. Kenaikan inflasi pada bulan Desember dinilai sebagai dampak dari cost push inflation dimana konsumsi masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga gas untuk jenis non subsidi ukuran 5.5 kg dan 12 kg dinilai dapat mempengaruhi kenaikan inflasi dan juga pengeluaran masyarakat. Trend kenaikan harga energi dinilai sudah cukup terbatas di tahun ini, namun kebijakan pemerintah untuk menambah porsi subsidi dinilai dapat memberikan dampak pada konsumsi domestic. Dalam hal ini kami melihat dasar tarif listrik dan juga wacana penghapusan premium serta pertalite mampu memberikan dampak pada konsumsi masyarakat yang lebih besar di tahun 2022. Selain itu, kebijakan dari kenaikan PPN menjadi 11% dan juga cukai rokok dinilai ikut menopang kenaikan pada inflasi di tahun 2022. Sehingga dengan asumsi kenaikan dari biaya – biaya dasar tersebut, Kami melihat inflasi pada tahun 2022 dapat mencapai 3% hingga 4%.