ANALIS MARKET (17/1/2022) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, ditengah usaha akan pemulihan harga obligasi, Bank Sentral Korea Selatan beraksi dengan menaikkan tingkat suku bunga.

Awesome dude! Kira kira begitu reaksinya.

Mengapa begitu? Karena kami melihat sejauh ini Bank Sentral Korea Selatan tidak ragu dalam menaikkan tingkat suku bunga, sebagai bagian dari menjaga stabilitas di pasar.

Padahal alasannya lebih dari itu, memang apa sih alasan utamanya?

Untuk menjaga premi pasar tingkat suku bunga Bank Sentral Korea Selatan dengan tingkat suku bunga The Fed. Tentu hal ini memberikan sebuah pengertian bahwa Korea Selatan sudah menjaga stabilitas pasar dengan menaikkan tingkat suku bunga sebagai bagian dari meredam volatilitas pasar dan menjaga mata uangnya.

Kami kagum dengan ketegasan sikap dari Bank Sentral Korea Selatan dalam menghadpi potensi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed.

Yang jadi penasaran adalah, bagaimana dengan sikap Bank Indonesia pada pertemuan bulan ini?

Apakah masih mengulang pernyataan yang sama, ataukah Bank Indonesia juga bergerak maju?

Well, apapun itu kita coba nantikah, apakah Bank Indonesia juga minggu ini memiliki ketegasan yang sama dengan Bank Sentral Korea Selatan?

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (17/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.BANK KOREA BERSIAP, KITA?

Ditengah situasi dan kondisi serta potensi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed tahun ini, tampaknya Bank Sentral Korea Selatan tidak mau ketinggalan kereta lho. Mereka ingin menggunakan strategi head of the curve untuk mengantisipasi gelombang tekanan dan volatilitas pasar yang akan mungkin terjadi pada tahun ini. Dan hasilnya? Pada akhirnya Bank Sentral Korea Selatan menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 25 bps, dari sebelumnya 1% menjadi 1.25%. Dan apakah Bank Sentral Korea Selatan akan berhenti sampai disitu? Tentu tidak buddy. Gubernur Bank Sentral Korea Selatan mengatakan akan memberikan ruang untuk terjadinya kenaikkan tingkat suku bunga yang lebih banyak pada waktu yang akan datang. Hal ini memberikan gambaran bahwa Bank Sentral Korea Selatan cemas akan 3 hal, mengenai inflasi, covid, dan kenaikkan tingkat suku bunga The Fed. Saat ini tingkat suku bunga Bank Sentral Korea Selatan tengah berada di 1.25%, yang dimana mereka telah kembali kepada tingkat di mana sebelum pandemi. Ada kemungkinan terjadinya kenaikkan tingkat suku bunga, tapi setiap kenaikkan tingkat suku bunga, bukan berarti ada pengetatan kebijakan moneter disana. Bank Sentral Korea Selatan sendiri mengatakan bahwa mereka memproyeksikan inflasi akan tetap berada di atas 3% untuk waktu yang cukup lama, dan hal ini merupakan alasan utama kenapa Bank Sentral Korea Selatan menaikkan tingkat suku bunga kemarin atau nanti ke tingkat yang lebih tinggi. Kenaikkan tingkat suku bunga Bank Sentral Korea Selatan, memang jarang terjadi, meskipun Korea Selatan masih menghadapi ancaman Covid19. Inflasi yang mengalami kenaikkan pun tidak pernah digubris oleh Bank Sentral Korea Selatan. Namun kami menyakini bahwa alasan bahwa tingkat suku bunga The Fed juga mengalami kenaikkan juga merupakan salah satu alasan bagi Bank Sentral Korea Selatan dalam menaikkan tingkat suku bunga. Tekanan inflasi diperkirakan akan jauh lebih besar daripada yang diproyeksikan sebelumnya. Memang benar, ada ketidakpastian akan pemulihan ekonomi akibat Covid 19, namun ancaman Covid 19 tidak akan pernah menggagalkan pemulihan ekonomi, imbuh Gubernur Bank Sentral Korea Selatan. Lee mengatakan bahwa The Fed tengah bersiap untuk menaikkan tingkat suku bunga pada bulan Maret, dan Bank Sentral Korea Selatan juga akan berada selangkah lebih maju dalam kenaikkan tingkat suku bunga The Fed untuk menjaga stabilitas di pasar. Untuk menahan gejolak volatilitas tersebut, Bank Sentral Korea Selatan berkeinginan untuk menaikkan tingkat suku bunga Korea Selatan sebanyak 3x tahun ini. Untuk Dewan Bank Sentral Korea Selatan, juga berencana untuk mengalokasikan anggaran tambahan untuk melangkah maju dengan menaikkan tingkat suku bunga. Dengan dukungan kebijakan fiscal pemerintah maka kenaikkan tingkat suku bunga pinjaman akan terjaga supaya tidak terjatuh dan tidak meningkatkan gagal bayar. Yang membuat situasi dan kondisi kian semakin sulit, adalah prospek kapan Bank Sentral Korea Selatan akan kembali menaikkan tingkat suku bunga ditengah ketidakpastian akan masa jabatan Lee, sang Gubernur Bank Sentral yang sebentar lagi akan pensiun. Tidak hanya Gubernur Bank Sentral yang akan melakukan penggantian, namun Pemilihan Presiden juga masih membuat pengganti Lee semakin abu abu. Presiden Bank Sentral Korea sendiri akan berakhir pada bulan May nanti, serta Lee akan berakhir pada bulan Maret nanti. Namun ada potensi Bank Sentral Korea Selatan akan kembali menaikkan tingkat suku bunga pada pertemuan BanK Sentral Korea Selatan pada bulan February mendatang. Kenaikkan tingkat suku bunga Bank Sentral Korea Selatan akan membuat Korea Selatan merupakan yang terdepan dalam menaikkan tingkat suku bunga tanpa keraguan sedikitpun, berbeda dengan kita yang masih maju mundur dan sebatas formalitas. Lee mengatakan bahwa pergerakan tingkat suku bunga akan memberikan Bank Sentral lebih banyak ruang untuk terfokus kepada masalah dalam negeri dalam memutuskan sebuah kebijakan, namun potensi kenaikkan dari tingkat suku bunga The Fed memberikan pertimbangan penting tersendiri bagi Bank Sentral Korea. Mempertahankan premi tingkat suku bunga Bank Korea Selatan diatas dari tingkat suku bunga Amerika dapat membantu menjaga stabilitas dan mencegah pelemahan won untuk berlanjut. Sejauh ini kami melihat pemulihan ekonomi sedang berjalan dengan sangat baik, bahkan lebih baik dari yang bisa diperkirakan. Oleh sebab itu, kami menyakini bahwa variable Covid 19 masih bisa di kendalikan, begitupun dengan inflasi dan kenaikkan tingkat suku bunga The Fed. Oleh sebab itu selama semuanya masih bisa terukur, kami menyakini bahwa volatilitas pasar mungkin akan bisa lebih terjaga dalam rentang tertentu. Yuk kita nantikan aksi selanjutnya dari Bank Sentral Korea Selatan.

2.INSENTIF

Penyaluran insentif pada dunia usaha di tahun 2022 menjadi focus pelaku pasar terkait efektivitas stimulus terhadap dampak pemulihan. Insentif pajak dinilai dapat membantu pemulihan pada sektor riil dimana pemerintah juga telah berkomitmen untuk mendorong industry dalam negeri dapat pulih seperti sebelum pandemi. Saat ini sektor yang telah mengalami pemulihan seperti manufaktur, perdagangan, pertanian dan pertambangan dinilai sudah cukup kuat untuk dapat melanjutkan pertumbuhannya. Sehingga, penyaluran insentif pajak akan difokuskan untuk sektor-sektor lain yang masih membutuhkan dukungan pemerintah. Beberapa sektor yang masih menjadi perhatian dari pemerintah yaitu transportasi umum dan pariwisata. Adapun, dalam anggaran PEN 2022, insentif perpajakan masih akan disalurkan dalam kluster penguatan pemulihan ekonomi. Program-program pada kluster tersebut terdiri dari tiga program PEN 2021 yang dileburkan seperti insentif pajak, dukungan UMKM dan korporasi, serta program prioritas. Pemerintah menetapkan pagu sebesar Rp414,1 triliun untuk PEN 2022. Sebesar Rp141 triliun disalurkan untuk kluster program penguatan pemulihan ekonomi. Pemerintah berkomitmen untuk menjamin ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan pada awal 2022. Saat ini langkah antisipasi guna memastikan ketersediaan pangan seperti operasi pasar menjadi upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Selain menjaga stabilitas harga pangan, pemerintah juga mendorong digitalisasi pasar dengan penggunaan transaksi non tunai di pasar tradisional.