ANALIS MARKET (20/5/2019) : Pasar Obligasi Masih Berpotensi Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi kembali terkoreksi, setelah sebelumnya bertahan dari zona pelemahan akibat intervensi oleh Bank Indonesia.

Memang ada kenaikkan, namun tidak cukup kuat untuk menahan pelemahan lebih lanjut. Seberapa kuat Bank Indonesia mampu menahan arus pelemahan apabila hanya seorang diri?

Oleh sebab itu ditengah tengah situasi dan kondisi saat ini, dibutuhkan bantuan dari berbagai instansi dalam negeri untuk bisa mulai masuk kedalam pasar modal, untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam, baik saham maupun obligasi. Dalam obligasi sendiri, kita tidak perlu khawatir karena Pemerintah memiliki Bond Stabilization Framework yang menjaga pasar obligasi tidak akan mengalami pelemahan terlalu dalam.

Lebih lanjut, analis Pilarmas menilai, diperdagangan awal pekan ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah.

Ditengah tekanan global dan local, minggu ini merupakan minggu terberat terutama didorong dari dalam Negeri.

Sementara itu, sentimen akan datang dari serunya pertarungan China dengan Amerika yang terus memasuki babak baru.

China menyampaikan mulai kurangnya minat untuk melanjutkan pembicaraan kesepakatan dengan Amerika yang dimana pembahasan tesebut berlangsung dibawah ancaman tarif yang lebih tinggi saat ini.

China menyampaikan tanpa adanya ketulusan dari pihak Amerika untuk mengadakan pembicaraan, maka tidak artinya pejabat Amerika untuk datang ke China untuk diskusi mengenai kesepakatan.

Oleh karena itu mau tidak mau, maka diskusi selanjutnya diserahkan kepada Xi Jinping dan Trump pada pertemuan G20 di Osaka, Jepang.

Kami juga melihat bahwa China tampaknya mulai bersikap tegas terhadap kesepakatan dengan Amerika, serta tidak terburu buru untuk membuat kesepakatan sampai semuanya setara dan seimbang bagi kedua Negara. Sementara itu, Pemerintah China akan meningkatkan stimulus untuk menopang perekonomian domestic atas dampak yang diberikan oleh kenaikkan tarif Amerika.

Selain itu, dalam surat kabar halaman depan di China ada judul yang cukup menarik perhatian yaitu, ”Tidak Ada Kekuatan yang Dapat Menghentikan Orang Orang China dalam Mencapai Impian Mereka”.

Surat kabar tersebut juga mengatakan, “Perang dagang tidak akan melumpuhkan China, itu hanya akan memperkuat kita seperti yang dulu kita pernah melewati kesulitan yang kita alami”.

China tidak bisa mengubah Amerika, namun Amerika juga tidak dapat menyuruh China untuk mengikuti apa yang Amerika inginkan. Tentu hal ini menunjukkan bahwa, rakyat China sendiri sudah siap apabila Amerika terus memainkan peran antagonis.

Dalam hal ini kesepakatan, namun sesuai dengan cara Amerika, tentu hal ini membuat China akan semakin kuat dalam menghadapi persaingan global, sekalipun tanpa Amerika yang menjadi partner ekspornya.

Beralih kepada sector otomotif, dengan tenggat waktu yang diberikan Amerika kepada para importir mobil khususnya dari Jepang dan uni Eropa, membuat Toyota yang telah membangun pabrik di Alabama, menjadi kecewa. Dalam kurun waktu 180 hari, Amerika dan Jepang bersama dengan Uni Eropa harus menegosiasikan ulang kesepakatannya.

Impor mobil asing ke Amerika akan menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional Amerika, hal ini yang membuat Amerika menginginkan negosiasi ulang. Hal ini akan menjadi perhatian penting dalam World Trade Week pada pekan depan.

Selain dari global, tekanan dari local juga kian meninggi. Ditengah keputusan KPU akan pemenangan Calon Presiden pada tanggal 22 Mei, tensi politik dan stabilitas menjadi perhatian utama.

Oleh sebab itu, pekan ini akan menjadi pekan yang krusial bagi pasar modal, sekaligus akan menjadi titik balik setelah pengumuman 22 Mei dan disahkan pada tanggal 26 Mei, apabila dalam kurun waktu tersebut tidak ada gugatan terhadap pengumuman pemenang tersebut dan situasi serta kondisi berjalan dengan baik, seharusnya pekan depan akan menjadi moment penguatan pasar modal.

“Kami merekomendasikan wait and see serta bersiap untuk membeli,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (20/5/2019).