ANALIS MARKET (13/1/2022) : Pasar Obligasi Diperkirakan Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, untuk kesekian kalinya, inflasi di Amerika mengalami kenaikkan kembali, dan menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Hal ini yang semakin memberikan kita sebuah gambaran besar, bahwa ternyata panggung utama The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga sudah dipersiapkan.

Yang dimana itu artinya, langkah pertama akan dimulai pada pertemuan The Fed bulan ini yang dimana akan memulai peningkatan jumlah pemangkasan dan mempercepat pengurangan pembelian obligasinya, untuk menghadapi kenaikkan tingkat suku bunga pada bulan Maret nanti.

Tentu hal ini semakin memberikan The Fed keyakinan bahwa kenaikkan merupakan sesuatu yang pasti dan harus kita hadapi.

Yang menggelitik justru Bank Indonesia nantinya, kira kira seperti apa ya sikap mereka. Apa ya yang akan mereka sampaikan kepada kita nantinya untuk meredam volatilitas yang terjadi di pasar.

Hal ini yang akan memberikan kita gambaran, apakah pelaku pasar dan investor tetap tenang ataukah semakin bergejolak.

Pasalnya bukannya apa, harga obligasi juga masih belum move on, masih terkulai lemas di dasar lautan.

Tidak hanya itu saja lho pemirsa, kami melihat saat ini berita mengenai inflasi dan Bank Sentral tengah di masak sehingga memberikan dampak terhadap volatilitas pasar.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas, itupun kalau masih ada kekuatan tambahan pagi ini ya pemirsa. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (13/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.INFLASI OH INFLASI

Kali ini tidak langsung membahas Amerika lho pemirsa, tapi kita akan mulai dari China. Meskipun nanti akan bermuara di Amerika. Tekanan inflasi di China, mulai menunjukkan tanda tanda melemah pemirsa pada bulan December kemarin, sehingga memberikan ruang yang lebih besar kepada Bank Sentral untuk dapat memangkas tingkat suku bunga mereka untuk dapat menopang perekonomian. Karena kalau tidak, perlambatan perekonomian di China akan terus terjadi dan tentu saja hal ini berbeda dengan kebijakan moneter yang terjadi di berbagai berlahan dunia lainnya yang dimana mereka mulai masuk ke dalam tahap pengetatan. Indeks Harga Produsen mengalami penurunan dari sebelumnya 12.9% menjadi 10.3% pada bulan December kemarin. Inflasi pun menurun dari sebelumnya 2.3% di bulan November menjadi 1.5% pada bulan December. Inflasi yang rendah, akan memberikan tekanan kepada Bank Sentral China untuk dapat bertindak pada awal tahun 2022 ini agar tidak mengalami penurunan daya beli yang lebih dalam, dan mungkin saja nih pemirsa, Bank Sentral China akan memberikan kebijakan moneter baru pada awal tahun ini, yang dimana perubahan pemotongan tingkat suku bunga pertamanya terjadi pada April 2020 silam. Para pejabat yang berwenang tampaknya telah focus terhadap kebijakan yang mendukung pertumbuhan pada tahun ini, karena sebelumnya disebabkan oleh adanya penurunan di pasar property dan Covid 19 yang terjadi berulang kali sehingga mengganggu prospek pemulihan ekonomi. Sebelumnya kalau teman teman ingat, Bank Sentral China sudah menurunkan biaya pinjaman jangka panjang, dan pemangkasan Giro Wajib Minimum perbankan yang menambah likuiditas di pasar. Namun ternyata apabila hal tersebut dirasa belum cukup, tentu saja Bank Sentral China harus segera bereaksi untuk memberikan dorongan kepada perekonomian China. Pemotongan tingkat suku bunga di Bank Sentral China, akan menjadikan konsep antara Bank Sentral China dan Amerika menjadi berbeda. Volatilitas dalam mata uang pun pasti bertambah ditengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Inflasi China yang rendah di harapkan akan mengalami pemulihan pada hari raya Imlek yang di perkirakan akan mengalami lonjakan permintaan makanan pokok dengan harga yang lebih tinggi. Kami melihat ada kesempatan yang lebih besar Bank Sentral China untuk dapat memangkas tingkat suku bunga jangka pendek untuk dapat memberikan likuiditas tambahan. Yang cukup menenangkan adalah bahwa tingkat pengangguran di China cukup stabil, meskipun indicator alternative menunjukkan bahwa ada kemungkinan tingkat pengangguran lebih buruk dari yang di proyeksikan. Yang menarik bagi kami adalah indicator M0, M1, dan M2 mengalami kenaikkan. Apakah masyarakat kembali menunda konsumsinya karena adanya gelombang Covid? Ini menjadi sesuatu yang menarik untuk kita perhatikan, karena situasi dan kondisinya sama seperti Indonesia kala itu. Bagi Partai Komunis, lowongan pekerjaan merupakan salah satu yang terpenting saat ini. Pemerintah China pun tadi sudah kita bahas, akan memberikan kebijakan yang pro pertumbuhan, dengan asumsi adanya pemangkasan tingkat suku bunga. Yang mengkhawatirkan adalah, di China, industry jasa merupakan sumber pekerjaan terbesar di China karena mempekerjakan sekitar 47% dari Angkatan tenaga kerja. Namun masalahnya, industry jasa sedang tidak melakukan penambahan tenaga kerja baru, alih-alih Covid yang lagi lagi akan membatasi pertumbuhan ekonomi. Nah yang bagian China selesai lho ini, tapi apakah researchnya berhenti sampai disini? Oh tentu tidak pemirsa. Seperti biasa, kebetulan Amerika juga baru saja mengeluarkan data inflasinya. Dan coba tebak pemirsa, inflasi yang keluar kemarin, lagi lagi menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Mantab! Hal ini semakin menunjukkan bahwa panggung The Fed akan siap untuk menaikkan tingkat suku bunga pada bulan Maret mendatang. Panggung yang bernama kenaikkan tingkat suku bunga tampaknya sudah mulai disiapkan untuk menahan laju inflasi yang dimana inflasi mengalami kenaikkan menjadi 7%, yang dimana inflasi saat ini merupakan yang tertinggi sejak June 1982. Inflasi yang mengalami kenaikkan didominasi oleh kenaikkan biaya sewa tempat tinggal dan kendaraan bekas. Biaya makanan juga memiliki kontribusi yang tinggi, namun harga energi justru mengalami penurunan. Padahal biaya energi yang memakan lebih banyak korban tahun lalu. Dengan dukungan tingkat pengangguran dibawah 4%, tentu hal ini akan membuat The Fed akan melakukan penyesuaian kebijakan yang akan dimulai pada pertemuan bulan January ini sebagai langkah persiapan menuju pertemuan The Fed pada bulan Maret 2022 mendatang. Ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran memberikan dampak inflasi yang konsisten, apalagi pasokan global yang mengalami hambatan. Namun kami melihat inflasi yang mengalami kenaikkan pun mungkin hanya akan sementara, karena kami melihat inflasi akan relative stabil di kisaran 3%. Well, apapun itu, inflasi akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, bisakah China melaluinya dan Amerika menghadapinya? Biar waktu yang akan menjawabnya.

2.DUILEE

Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 mencapai 5,2% pada tahun ini. Pertumbuhan tersebut didukung oleh permintaan yang kembali kuat dari dalam negeri diikuti dengan kenaikan harga komoditas. Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 mencapai 3,7 persen. Perkiraan ini masih sama dengan proyeksi sebelumnya yang dirilis Desember 2021 lalu. Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2023 masih melanjutkan kenaikan yaitu berada di 5.1%. Proyeksi Bank Dunia terhadap Indonesia lebih tinggi dibandingkan Thailand yang diperkirakan tumbuh hanya 3,9% pada 2022 dan 4,3% pada 2023, namun masih lebih rendah dibandingkan Filipina yang mencapai 5,9% pada 2022. Bank Dunia memperkirakan negara-negara yang bergantung pada pariwisata di Asia Tenggara seperti Kamboja, Malaysia, Filipina, dan Thailand tidak akan pulih ke level pra-pandemi hingga tahun 2022 atau 2023. Di sisi lain, Bank Dunia mencermati risiko penurunan terhadap prospek pertumbuhan di tengah tantangan terhadap penyebaran Covid-19 varian Omicron meskipun banyak negara di kawasan ini diperkirakan mencapai tingkat vaksinasi 70% pada pertengahan 2022. Disamping itu, meningkatnya risiko keuangan seiring dengan pertumbuhan tingkat utang juga menjadi hal yang dicermati oleh Bank Dunia.