ANALIS MARKET (18/1/2022) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, kemarin Bank Sentral Korea menaikkan tingkat suku bunga, sekarang Bank Sentral China yang memangkas tingkat suku bunganya.

Waahh.. Akhirnya China memangkas tingkat suku bunganya, karena pada kenyataannya China tak kuasa harus menerima bahwa data di atas kertas harus berbicara lebih banyak.

Hal ini yang kita harus apresiasi pemirsa. Pasalnya nih, dengan kehadiran Bank Sentral China yang mengakui bahwa perekonomiannya melemah, hal ini semakin memberikan keyakinan bahwa China akan melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendorong perekonomiannya, menunjukkan eksistensi dirinya, untuk bisa bertahan ditengah pelemahan yang terjadi.

Hal ini yang mendorong imbal hasil obligasi di China mengalami penurunan, sehingga mendorong terjadinya kenaikkan harga.

Kami cukup yakin, bahwa China akan dapat berbicara lebih baik nantinya, namun bukan sekarang. Yang terpenting sekarang ini adalah lelang yang akan datang hari ini lho.

Dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, kami menyakini bahwa total penawaran akan masuk berkisar Rp 50 – 70 T, dan apabila imbal hasil yang diminta terlalu tinggi, mungkin pemerintah hanya menyerap sesuai dengan target indikatifnya.

Yuk, kita ikuti lelang, dengan beli obligasi yang jangka pendek ya. Lho kok begitu? Iya, soalnya kan yang jangka pendek mampu meredam volatilitas pasar yang terjadi saat ini.

“Kisah kita pagi ini akan diawali dari pasar obligasi yang akan dibuka menguat dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (18/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.TAK BERDAYA NAMUN BERUSAHA

Pada akhirnya, Pemerintah China harus mengakui data perekonomian yang ada di atas kertas yang dimana penurunan dan perlambatan perekonomian China sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Industrial Production yang mengalami penurunan bersama dengan Penjualan Ritel juga membuat China semakin khawatir, apakah perlambatan ini akan terus menerus berlanjut atau tidak. Dan ketika China semakin khawatir, Bank Sentral China pada akhirnya kembali memangkas tingkat suku bunga utamanya untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir 2 tahun untuk membantu meningkatkan perekonomian yang kehilangan momentum karena menurunnya sector property dan Covid 19 yang mengalami kenaikkan. Dalam perbedaan kebijakan yang mencolok dengan perekonomian dunia lainnya, Bank Sentral China memangkas tingkat suku bunganya sebesar 10 bps, dimana ini merupakan pengurangan pertama sejak April 2020 silam. Sementara inflasi menjadi perhatian dominan bagi para Gubernur Bank Sentral di Amerika dan Eropa, inflasi China cenderung relative stabil, yang itu artinya penurunan tingkat suku bunga Bank Sentral China bukan untuk mengatasi inflasi, namun lebih kepada mendorong pertumbuhan untuk mengalami kenaikkan, alih alih sebagai sebuah usaha dari perekonomian yang kian melambat. Pertumbuhan ekonomi China secara YoY sebetulnya tidak seburuk yang kami proyeksikan, meskipun memang tidak bisa dipungkiri mengalami penurunan. Pertumbuhan ekonomi China 2021 turun dari sebelumnya 4.9% menjadi 4%, dimana pertumbuhan ekonomi China turun dibandingkan dengan 2020 dimana Covid-19 bermula. Pemangkasan tingkat suku bunga China merupakan bagian dari sebuah usaha, daya, untuk dapat mendorong pertumbuhan di tengah tahun transisi kepemimpinan sepanjang masa Presiden Xi Jinping. Namun yang terpenting adalah, hal tersebut dilakukan oleh China untuk dapat melawan meningkatnya Covid 19 versi Omicron dan penurunan di sector property yang terus berlanjut yang dimana hal tersebut mengurangi investasi di sector perumahan. Penjualan perumahan tetap rendah pada bulan December, sementara itu belanja konsumen juga masih melambat secara cepat karena pemerintah tengah melakukan pembatasan untuk mengontrol virus. Konsumsi akan tetap menjadi indicator pelemahan yang mungkin dapat dikatakan cukup menyedihkan dalam upaya mendorong pertumbuhan China pada tahun ini, mungkin bicara konsumsi dan daya beli tidak hanya China, Indonesia juga masih lemah. China sejauh ini kami yakin akan memantau situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini yang dimana apabila ternyata situasi dan kondisi terkait dengan pemulihan ekonomi masih juga tidak berubah, pelonggaran kebijakan akan menjadi salah satu yang akan ditempuh oleh China. Sebetulnya ada apa sih dengan China? Kenapa kok yang tadinya di agung agungkan untuk menjadi lokomotif pemulihan ekonomi bersama Amerika, kenapa tiba tiba seperti kekurangan gairah? Memang betul, banyak yang mengatakan bahwa akibat Omicron, atau Covid 19 yang berkali kali menerpa China. Ada lagi yang mengatakan bahwa daya beli mengalami penurunan akibat hal tersebut. Tidak ada yang salah, semua yang disampaikan ya begitu adanya. Namun bagi kami, momentum pelemahan perekonomian China pertama kali timbul adalah sejak Presiden Xi menginginkan Kemakmuran Bersama yang ingin di capai oleh China melalui konsep ekonominya saat ini. Namun sayang bukan kepayang, pemilihan waktunya salah. Ditambah lagi dengan industry teknologi yang dipukul karena demi mengejar Kemakmuran China tersebut. Apakah semua itu salah? Hal tersebut tidak salah, karena tujuannya bersifat secara jangka panjang dan meluas. Namun pemilihan waktu tatkala pemulihan ekonomi belum usai, menurut kami merupakan sesuatu yang memberatkan pemulihan ekonomi sehingga momentum pemulihan ekonomi tersebut menjadi hilang. Alhasil, mau tidak mau Bank Sentral China harus bekerja keras dengan melakukan lebih banyak pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. Apalagi saat ini sector property juga sedang dalam keadaan 3L, lesu, lunglai, dan loyo. Yang dimana seperti yang kita ketahui, sector property merupakan sector terbesar yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi China dengan besaran sebesar 20%. Beberapa Bank besar, memberikan sebuah pandang bahwa kebijakan yang akan dilakukan selanjutnya adalah dengan mendorong penurunan Giro Wajib Mininum kembali untuk menambah likuiditas di pasar. Ingat lho ya, banjir likuiditas namun tidak disalurkan juga akan menjadi sia sia nantinya. Lagipula kami merasa bahwa ini semua merupakan akibat dari salah melangkah dan tidak bisa memanfaatkan momentum dengan baik. Pada tahun 2020 silam, perekonomian China tengah memasuki momentum yang baik, terpukul akibat Covid 19 pertama kalinya, dan langsung di tebus oleh China dengan pertumbuhan ekonomi China yang berada di 8.1%. Izinkan penulis mengetik, WoW!! Sektor teknologi digunakan untuk mendorong pembangunan kembali perekonomian yang sebelumnya terkena dampak dari Covid 19. Saat ini dengan penurunan tingkat suku bunga yang dilakukan, Bank Sentral China telah mendorong suntikkan likuiditas yang lebih besar senilai 700 miliar yuan atau $110 miliar. Saham China bereaksi mengalami kenaikkan melihat tingkat suku bunga China di turunkan, bahkan imbal hasil obligasi negara Pemerintah China pun mengalami penurunan sebagai respon dari penurunan tingkat suku bunga. Lagipula kami berharap pemotongan tingkat suku bunga ini, hanyalah awal dari kebijakan moneter China yang pro terhadap pertumbuhan ekonomi, menstabilkan ekspektasi. Namun ingat lho ya, Pemerintah China tidak bisa mengandalkan kebijakan moneter semata, namun harus ada bauran kebijakan fiscal disana.