ANALIS MARKET (18/1/2022) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin, 17/01/2022, IHSG ditutup melemah 48 poin atau 0,72% menjadi 6.645. Sektor technology, basic materials, infrastructures, properties & real esate, consumer cylicals, healthcare, financials, consumer non cyclicals, industrials, trasnportation & logistic bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih Rp77 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan ditradingkan pada 6.585 – 6.700. Apakah ada potensi penguatan? Antara ada dan tiada,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (18/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.TAK BERDAYA NAMUN BERUSAHA

Pada akhirnya, Pemerintah China harus mengakui data perekonomian yang ada di atas kertas yang dimana penurunan dan perlambatan perekonomian China sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Industrial Production yang mengalami penurunan bersama dengan Penjualan Ritel juga membuat China semakin khawatir, apakah perlambatan ini akan terus menerus berlanjut atau tidak. Dan ketika China semakin khawatir, Bank Sentral China pada akhirnya kembali memangkas tingkat suku bunga utamanya untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir 2 tahun untuk membantu meningkatkan perekonomian yang kehilangan momentum karena menurunnya sector property dan Covid 19 yang mengalami kenaikkan. Dalam perbedaan kebijakan yang mencolok dengan perekonomian dunia lainnya, Bank Sentral China memangkas tingkat suku bunganya sebesar 10 bps, dimana ini merupakan pengurangan pertama sejak April 2020 silam. Sementara inflasi menjadi perhatian dominan bagi para Gubernur Bank Sentral di Amerika dan Eropa, inflasi China cenderung relative stabil, yang itu artinya penurunan tingkat suku bunga Bank Sentral China bukan untuk mengatasi inflasi, namun lebih kepada mendorong pertumbuhan untuk mengalami kenaikkan, alih alih sebagai sebuah usaha dari perekonomian yang kian melambat. Pertumbuhan ekonomi China secara YoY sebetulnya tidak seburuk yang kami proyeksikan, meskipun memang tidak bisa dipungkiri mengalami penurunan. Pertumbuhan ekonomi China 2021 turun dari sebelumnya 4.9% menjadi 4%, dimana pertumbuhan ekonomi China turun dibandingkan dengan 2020 dimana Covid-19 bermula. Pemangkasan tingkat suku bunga China merupakan bagian dari sebuah usaha, daya, untuk dapat mendorong pertumbuhan di tengah tahun transisi kepemimpinan sepanjang masa Presiden Xi Jinping. Namun yang terpenting adalah, hal tersebut dilakukan oleh China untuk dapat melawan meningkatnya Covid 19 versi Omicron dan penurunan di sector property yang terus berlanjut yang dimana hal tersebut mengurangi investasi di sector perumahan. Penjualan perumahan tetap rendah pada bulan December, sementara itu belanja konsumen juga masih melambat secara cepat karena pemerintah tengah melakukan pembatasan untuk mengontrol virus. Konsumsi akan tetap menjadi indicator pelemahan yang mungkin dapat dikatakan cukup menyedihkan dalam upaya mendorong pertumbuhan China pada tahun ini, mungkin bicara konsumsi dan daya beli tidak hanya China, Indonesia juga masih lemah. China sejauh ini kami yakin akan memantau situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini yang dimana apabila ternyata situasi dan kondisi terkait dengan pemulihan ekonomi masih juga tidak berubah, pelonggaran kebijakan akan menjadi salah satu yang akan ditempuh oleh China. Sebetulnya ada apa sih dengan China? Kenapa kok yang tadinya di agung agungkan untuk menjadi lokomotif pemulihan ekonomi bersama Amerika, kenapa tiba tiba seperti kekurangan gairah? Memang betul, banyak yang mengatakan bahwa akibat Omicron, atau Covid 19 yang berkali kali menerpa China. Ada lagi yang mengatakan bahwa daya beli mengalami penurunan akibat hal tersebut. Tidak ada yang salah, semua yang disampaikan ya begitu adanya. Namun bagi kami, momentum pelemahan perekonomian China pertama kali timbul adalah sejak Presiden Xi menginginkan Kemakmuran Bersama yang ingin di capai oleh China melalui konsep ekonominya saat ini. Namun sayang bukan kepayang, pemilihan waktunya salah. Ditambah lagi dengan industry teknologi yang dipukul karena demi mengejar Kemakmuran China tersebut. Apakah semua itu salah? Hal tersebut tidak salah, karena tujuannya bersifat secara jangka panjang dan meluas. Namun pemilihan waktu tatkala pemulihan ekonomi belum usai, menurut kami merupakan sesuatu yang memberatkan pemulihan ekonomi sehingga momentum pemulihan ekonomi tersebut menjadi hilang. Alhasil, mau tidak mau Bank Sentral China harus bekerja keras dengan melakukan lebih banyak pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. Apalagi saat ini sector property juga sedang dalam keadaan 3L, lesu, lunglai, dan loyo. Yang dimana seperti yang kita ketahui, sector property merupakan sector terbesar yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi China dengan besaran sebesar 20%. Beberapa Bank besar, memberikan sebuah pandang bahwa kebijakan yang akan dilakukan selanjutnya adalah dengan mendorong penurunan Giro Wajib Mininum kembali untuk menambah likuiditas di pasar. Ingat lho ya, banjir likuiditas namun tidak disalurkan juga akan menjadi sia sia nantinya. Lagipula kami merasa bahwa ini semua merupakan akibat dari salah melangkah dan tidak bisa memanfaatkan momentum dengan baik. Pada tahun 2020 silam, perekonomian China tengah memasuki momentum yang baik, terpukul akibat Covid 19 pertama kalinya, dan langsung di tebus oleh China dengan pertumbuhan ekonomi China yang berada di 8.1%. Izinkan penulis mengetik, WoW!! Sektor teknologi digunakan untuk mendorong pembangunan kembali perekonomian yang sebelumnya terkena dampak dari Covid 19. Saat ini dengan penurunan tingkat suku bunga yang dilakukan, Bank Sentral China telah mendorong suntikkan likuiditas yang lebih besar senilai 700 miliar yuan atau $110 miliar. Saham China bereaksi mengalami kenaikkan melihat tingkat suku bunga China di turunkan, bahkan imbal hasil obligasi negara Pemerintah China pun mengalami penurunan sebagai respon dari penurunan tingkat suku bunga. Lagipula kami berharap pemotongan tingkat suku bunga ini, hanyalah awal dari kebijakan moneter China yang pro terhadap pertumbuhan ekonomi, menstabilkan ekspektasi. Namun ingat lho ya, Pemerintah China tidak bisa mengandalkan kebijakan moneter semata, namun harus ada bauran kebijakan fiscal disana.

2.AMIINNNN!!

BPS merilis kinerja perekonomian Indonesia untuk bulan Desember yang masih terjaga pada jalur pertumbuhan positif. Impor tercatat naik 47,93% lebih rendah dari periode lalu yang tumbuh sebesar 52.62%. Secara tahunan kinerja impor pada bulan Desember 2021 merupakan capaian yang tertinggi sepanjang 2021. Impor migas tercatat mengalami kenaikan sebear 127.95% YoY sementara impor non migas mengalami kenaikan sebesar 38.78% YoY. Berdasarkan penggunaan barang, impor tertinggi secara bulanan terjadi pada barang konsumsi sebesar 25.55% MoM. Sementara itu, secara tahunan impor tertinggi pada bahan baku/penolong sebesar 53.33% YoY. Pada periode yang sama, BPS mencatat total nilai ekspor Indonesia pada Desember 2021 mencapai US$22,38 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2021 masih mencatatkan surplus sebesar US$1,02 miliar. Dilain sisi, kinerja ekspor tercatat naik 35.3% YoY, namun lebih rendah -2.04% MoM. Penurunan tersebut disebabkan oleh ekspor migas yang turun 17,93% MoM dan ekspor nonmigas turun sebesar -1,06% MoM. Berdasarkan sektornya, penurunan ekspor terdalam secara bulanan terjadi pada sektor pertambangan dan lainnya, yaitu sebesar 21,2% MoM. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020, ekspor pertambangan dan lainnya tercatat tumbuh tinggi, sebesar 74,92% YoY. Sementara secara tahunan, penurunan terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sebesar 7,51% YoY. Masih tingginya ekspor dibandingkan impor membuat neraca dagang Indonesia pada bulan Desember tercatat surplus US$ 1.02 miliar.

3.TREND POSITIVE

Mengacu pada Survei Kegiatan Dunia Usaha oleh Bank Indonesia memperkirakan kinerja dunia usaha pada kuartal I 2022 masih melanjutkan tren pertumbuhan yang positif dan berpotensi lebih tinggi dari kuartal IV 2021. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kuartal I 2022 yang naik 9.39% QoQ dan 4.50% YoY. Peningkatan kinerja dunia usaha tersebut didorong oleh kinerja sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan dengan SBT 1,96%, sejalan dengan musim panen raya subsektor tanaman bahan pangan. Di samping itu, sektor industri pengolahan turut menjadi kontributor utama dengan SBT sebesar 2,74%, sejalan dengan perkiraan normalisasi aktivitas masyarakat di tahun 2022. Pada kuartal IV/2021, kinerja dunia usaha tercatat tumbuh positif, tercermin dari nilai SBT sebesar 7,1%, sedikit lebih rendah dari SBT kuartal III/202 persen, namun meningkat dibandingkan dengan SBT kuartal IV/2020 sebesar -3,90%. Peningkatan kinerja usaha terindikasi pada sektor industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran dan pengangkutan, serta komunikasi. Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya permintaan sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas di berbagai daerah, serta perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan libur akhir tahun. Perbaikan terjadi pada beberapa sektor utama, seperti sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan serta sector jasa-jasa sejalan dengan kegiatan usahanya yang meningkat. Sementara, kondisi keuangan dunia usaha terindikasi membaik dibandingkan dengan kondisi pada periode sebelumnya, baik dari aspek likuiditas maupun rentabilitas, didukung oleh akses pembiayaan yang lebih mudah. Hal tersebut tentu dapat mendapat respon positif dari pelaku pasar dimana progress pemulihan terlihat semakin jelas, saat ini tantangan dari pengendalian pengendalian Omicron tentu menjadi focus pelaku pasar dimana hal tersebut dinilai dapat menjadi hambatan terhadap pemulihan yang telah terjadi.