ANALIS MARKET (09/8/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih terus melanjutkan pelemahannya, ditengah ekspektasi dan harapan yang membuncah dari pasar ekuitas akibat adanya optimisme dari pemulihan ekonomi yang terjadi di Indonesia.

Meskipun kami cukup merasakan gegap gempitanya, namun kami sebetulnya melihat bahwa kita juga tidak boleh terlalu terlena dengan situasi dan kondisi yang terjadi kemarin akibat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ke 2 2021.

Memang benar kita tumbuh, namun semester 1 kita diberikan kesempatan untuk merasakan pemulihan ekonomi dunia yang mengkatrol pemulihan ekonomi di Indonesia.

Pertanyaannya sederhana, apakah kita mampu bertahan di tengah optimisme yang terjadi kemarin untuk kuartal ke 3 ditengah gelombang Covid 19 kembali melanda Indonesia?

Tentu besar harapannya, bahwa hari ini (09/8), PPKM level 4 dapat diturunkan untuk dapat mendorong aktivitas perekonomian kembali berjalan.

Harapannya sederhana, jangan sampai pemulihan ekonomi yang sudah terjadi kemarin, berakhir sia-sia pada kuartal ke-3 ini.

Tidak banyak yang dapat kita perhatikan pekan ini selain tentunya melihat data perekonomian yang dapat menopang pemulihan ekonomi Indonesia dan global.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (09/8/2021).

Adapun cerita di awal pekan ini akan kita awali dari;

1.KEYAKINAN VS KEGALAUAN

Data perekonomian Amerika menunjukkan kinerja terbaiknya. Dan apakah ini yang disebut kemajuan substansial? Tentu ada kemungkin seperti itu. Pasalnya data ketenagakerjaan terus melaju mengalami peningkatan terbesarnya dalam kurun waktu 1 tahun, dimana hal ini memberikan optimisme kekuatan akan pemulihan ekonomi disana meskipun Corona kembali melanda. Payrolls mengalami kenaikkan, dan tingkat pengangguran turun menuju 5.4%, didukung dengan pendapatan dan jam kerja yang tinggi hal ini memberikan bahwa pengangguran mulai terus mengalami penurunan dan ini yang diinginkan oleh The Fed. Meskipun sampai dengan hari ini kita tidak pernah tahu, seberapa angka pengangguran yang tepat untuk disebut dengan kemajuan yang substantial. Mungkinkah dibawah 5%? Ataukah mungkin dibawah 4%? Hanya Powell yang mengetahui jawabannya pemirsa. Namun satu hal yang pasti, angka angka ini merupakan sebuah langkah bagi The Fed untuk terus melangkah dengan harapan dan keyakinan mendekati kemajuan yang substansial tadi yang sempat kita bahas. Imbal hasil terus mengalami kenaikkan, karena pelaku pasar dan investor mulai beralih menyakini bahwa perekonomian akan pulih. Ekuitas tentu menjadi sebuah pilihan. Sejauh ini The Fed mulai terbagi pemirsa, Om Powell sendiri yang mengatakan bahwa waktunya belum siap bagi The Fed untuk mengurangi pembelian obligasi, dan Wakil Ketua dan beberapa Gubernur The Fed yang mengatakan bahwa pengurangan pembelian obligasi sudah dapat dilakukan. Apalagi Wakil Ketua The Fed sendiri yang mengatakan bahwa pengumuman sudah dapat dilakukan pada bulan September mendatang. Tentu hal ini menjadi sebuah cerita tersendiri bagi sikap The Fed kedepannya. Bulan ini sendiri pun menjadi salah satu bulan yang dinantikan oleh pelaku pasar dan investor, pasalnya pada bulan ini biasanya perubahan sikap kebijakan The Fed terjadi. Apalagi pertemuan akan dilakukan di Jackson Hole, Wyoming, tempat dimana biasanya The Fed menyampaikan perubahan kebijakan selalu terjadi di sana. Nah sejauh ini, dukungan terhadap pengurangan pembelian obligasi kembali datang dari Gubernur Fed Christopher Waller yang dimana dirinya mengatakan bahwa apabila laporan ketenagakerjaan selalu mengalami kenaikkan seperti yang kami ingingkan, Waller sudah siap untuk mendukung langkah pengurangan pembelian obligasi di pasar. Sejauh ini meskipun ada beberapa indikasi bahwa data ketenagakerjaan naik dan turun, ditambah dengan variant delta yang terus menyebar, namun pejabat The Fed sendiri cukup senang dengan kenaikkan yang terjadi pada bulan July kemarin, dan tentu saja ekspektasi dan harapan akan pemulihan ekonomi terus mengalami kenaikkan. Hal ini yang menjadi bekal bagi pasar ekuitas untuk mengalami kenaikkan secara konsisten diikuti dengan fundamental yang kuat. Pertumbuhan pekerjaan pada bulan July silam memang menggembirakan. Kenaikkan data pekerjaan khususnya di bidang pendidikan, rekreasi, dan perhotelan menunjukkan sebuah harapan. Pelayanan kesehatan, transportasi dan logistic, serta manufacture juga mulai pulih secara konsisten. Masyarakat Amerika yang telah mengalami pengangguran panjang selama kurang lebih 27 minggu telah turun menjadi 560.000 pada bulan July, angka tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Tentu ini menunjukkan bahwa masyarakat Amerika mulai kembali bekerja yang justru secara tidak langsung mendorong perekonomian untuk mulai kembali secara penuh. Data itupula yang menjadi sebuah saksi, bagi stimulus yang disiapkan Biden tidak sia sia untuk menopang perekonomian dan mendorong vaksinasi. Namun di satu sisi, rencana Biden masih akan berkutat mengenai stimulus lanjutan, mulai dari The American Families Plan, dan American Jobs Plan merupakan 2 stimulus yang siap diberikan oleh Biden. Namun kalau pemulihan terus berlangsung seperti ini, tentu saja Partai Republik akan menentang dengan mengatakan bahwa stimulus tidak lagi dibutuhkan karena pemulihan mulai terjadi. Kami cukup senang, karena banyak masyarakat yang mulai kembali bekerja, apalagi setengah dari Gubernur di Amerika mulai mengakhiri program tunjangan pengangguran yang dimana secara resmi akan berakhir pada bulan September. Saat ini rasio pekerjaan masyarakat di Amerika mengalami kenaikkan dari sebelumnya 58% menjadi 58.4%. Tingkat pengangguran untuk masyarakat Amerika berkulit putih telah turun menjadi 4.8%, sedang untuk berkulit hitam turun menjadi 8.2%, dan Amerika Hispanic turun menjadi 6.6%. Ingat, ini bukan mendiskriminasi warna kulit lho ya, sudah dari sana datanya begitu. Oleh sebab itu, kami melihat perekonomian Amerika cukup memuaskan keinginan kami, oleh sebab itu kami melihat dan yakin bahwa mungkin tidak lama lagi The Fed akan mengumumkan untuk melakukan pengurangan pembelian obligasi. Kapan? Kapan? Mungkin hanya Om Powell yang tahu.

2.MENGUJI KONSISTENSI

Pergerakan pasar saham masih diselimuti antusias pelaku pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi di semester II 2021. Saat ini penanganan pandemi cukup penting guna menjaga pertumbuhan ekonomi tetap pada jalur positif. Dapat dikatakan saat ini tidak ada pertukaran antara kesehatan dan ekonomi, hal ini berbanding lurus dimana pemulihan dari kesehatan dapat menopang laju pertumbuhan ekonomi. Sepanjang semester I/2021 pemerintah telah mengeluarkan berbagai stimulus guna menjaga dan mengembalikan daya beli masyarakat, termasuk dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk menjaga tekanan sebagai dampak dari pandemi. Hal ini tercermin dari realisasi APBN hingga pertengahan tahun mencapai 42,6% dari total keseluruhan. Pemerintah juga masih dapat melonggarkan defisit APBN sampai minus 5,7%. Angka tersebut setara dengan Rp2.750 triliun. Program vaksinasi dan juga pengetatan aktivitas diharapkan dapat menurunkan laju kenaikan dari sebaran kasus baru virus corona. Kami memperkirakan pemulihan ekonomi bertahap akan terus berjalan di tengah penerapan PPKM level 3-4. Kami melihat katalis dari pemulihan ekonomi di paruh kedua tahun ini adalah permintaan komoditas dari eksternal yang didorong oleh pemulihan global yang lebih cepat, permintaan domestik yang didorong oleh percepatan vaksinasi, inflasi yang relatif rendah dan stabil untuk mendukung daya beli. Selanjutnya, peningkatan belanja pemerintah di paruh kedua karena faktor musiman, penerapan UU Cipta Kerja serta peran Indonesia Investment Authority dalam memperbaiki iklim investasi. Selanjutnya komitmen pemerintah dan Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan fiskal serta moneter yang akomodatif dinilai berperan penting dalam pemulihan tersebut. Di sisi lain, risiko yang dihadapi oleh prospek pemulihan adalah mutasi virus, yang dapat dipicu juga oleh buruknya pengendalian kasus baru seperti capaian vaksinasi yang tidak sesuai target.