ANALIS MARKET (19/8/2021) : Pasar Obligasi Diproyeksi Bervariatif, Aksi Wait and See Direkomendasikan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih mengalami kenaikkan, meskipun masih dalam rentang yang terbatas.

Namun setidaknya penguatan ini mampu memberikan signal yang lebih kuat agar trend pelemahan secara harga dapat berubah untuk dapat mempertahankan imbal hasil di posisi yang rendah.

Kami melihat hal ini menjadi penting, karena saat ini imbal hasil obligasi sedang berada di level ternyaman-nya. Oleh sebab itu, penting untuk mempertahankan moment seperti ini hingga akhir tahun untuk mencapai imbal hasil obligasi 10y berada di bawah 6.20, meskipun prediksi kami imbal hasil obligasi akan bermain di 6.20% - 6.30% hingga akhir tahun.

Saat ini, hari ini (19/8), pasar obligasi akan memasukin moment terpenting dalam hidupnya. Yaitu menanti pertemuan Bank Indonesia yang akan diadakan hari ini. Meskipun secara tingkat suku bunga tidak ada perubahan, tapi kebijakan akan sangat dinantikan.

Kebijakan inilah yang juga menjadi perhatian pelaku pasar dan investor apakah pergerakan pasar masih menjanjikan atau tidak.

Kita juga tengah memasuki fase akhir dari kuartal ke 3, dan bersiap untuk menyongsong kuartal ke 4. Apa yang bisa diberikan oleh pemerintah pada sisa kuartal ini akan menjadi point penting bagi kita untuk bisa menatap perekonomian pada kuartal ke 4 agar dapat menutup tahun 2021 dengan sesuatu yang manis.

Risalah The Fed akan menjadi sebuah cerita tersendiri hari ini, apakah imbal hasil obligasi kita akan mengalami kenaikkan lagi atau tidak, setelah penurunan terjadi 2 hari berturut turut. Memang ada apa sih sama The Fed?

“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan potensi pergerakan 30 – 50 bps. Kami merekomendasikan wait and see ya,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (19/8/2021).

Adapun cerita di hari Kamis (19/8) ini akan kita awali dari;

1.ISI HATI THE FED

Tidak ada yang pernah tahu, hingga hari ini apa isi hati dari The Fed. Namun yang kami ketahui dari risalah yang sudah keluar pada subuh tadi pagi adalah bahwa sebagian besar pejabat dari The Fed telah setuju untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada akhir tahun ini. Hal tersebut disampaikan setelah mereka melihat bahwa kemajuan perekonomian telah cukup, karena telah mendorong inflasi dan ketenagakerjaan untuk mengalami kenaikkan. Berbagai peserta dari The Fed juga berkomentar bahwa situasi dan kondisi ekonomi dan keuangan saat ini akan memberikan kesempatan kepada The Fed untuk mulai mengurangi pembelian obligasinya dalam kurun waktu beberapa bulan mendatang di tahun ini. Namun beberapa peserta juga mengatakan bahwa pengurangan pembelian obligasi dapat dilakukan pada awal tahun depan. Hal ini menjadikan situasi dan kondisi menjadi 2 kubu, dimana keduanya menginginkan hal yang berbeda secara time frame, meskipun tujuannya sama, yaitu pengurangan pembelian obligasi. Pertemuan selanjutnya akan terjadi pada tanggal 21 – 22 September dimana hal ini tentu akan menjadi titik balik, apakah pengumuman akan dilakukan ataukah justru Powell akan mengabaikan kembali mengenai pengurangan pembelian obligasi di pasar. Kami melihat sejauh ini ada kemungkinan sebesar 60% mereka akan mengumumkan mengenai pengurangan pembelian obligasi, meskipun kami percaya, Powell masih akan menahan pengurangan tersebut. Powell sendiri telah berjanji untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan kepada dunia, tatkala The Fed akan memulai Taper Tantrum. Oleh sebab itu, dalam risalah tersebut dikatakan bahwa para pejabat tidak memiliki kesepakatan apapun mengenai waktu dan nilai dari pengurangan pembelian obligasi serta time frame dalam proses normalisasi. Namun para pejabat dikabarkan telah mendapatkan kata sepakat secara consensus untuk jumlah dari komposisi yang akan di kurangi baik kepada obligasi maupun kepada hipotek agar pengurangan tersebut dapat terjadi secara proporsional. Tidak hanya membahas mengenai Taper Tantrum, namun risalah juga memperdebatkan mengenai inflasi dimana para peserta ternyata mereka khawatir lho bahwa inflasi berpotensi untuk berada di bawah 2% dari target mereka. Di bidang tenaga kerja itu sendiri, para pejabat melihat adanya kemajuan, namun masih menunjukkan ketidakpastian karena masih banyaknya tenaga kerja yang hilang akibat pandemi kemarin. Pilihan kebijakan mungkin akan bertambah pemirsa, setelah Biden akan mencoba untuk menaruh pejabat baru di Dewan pada awal tahun 2022 sebanyak 4 orang baru. Beberapa peserta menekankan bahwa pekerjaan masih berada jauh di level sebelum pandemi, namun kebijakan moneter yang akomodatif akan mencoba untuk memulihkan pasar tenaga kerja agar menjadi lebih kuat dan solid. Tidak hanya itu saja, mereka juga mengatakan bhawa kenaikkan harga di sejumlah kategori indicator, tidak akan mengubah dinamika inflasi secara keseluruhan. Para pembuat kebijakan The Fed sejauh ini memang telah terbagi bagi, dari Presiden Fed Minneapolis sendiri mengatakan bahwa dirinya ingin melihat beberapa laporan pekerjaan kembali sebelum akhirnya memutuskan. Presiden Fed Boston siap untuk mendukung Taper Tantrum apabila pada pertemuan berikutnya data ketenagakerjaan mulai membaik. Presiden Fed St. Louis mengatakan bahwa dirinya melihat bahwa Taper Tantrum akan terjadi pada kuartal pertama tahun 2022, sebuah langkah yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Secara keseluruhan memang risalah menunjukkan bahwa para pejabat masih melihat ruang bagi ketenagakerjaan untuk bisa pulih dimana sebelumnya angka pengangguran masih berada di 5.4% pada bulan lalu. Oleh sebab itu The Fed melihat bahwa pengurangan dalam jumlah yang proporsional baik obligasi maupun hipotek akan menjaga keseimbangan tetap terjaga agar perekonomian tetap mendapatkan dukungan yang dibutuhkan namun dengan jumlah yang lebih ringan. Saat ini fokusnya adalah pemulihan terjadi lebih kuat, namun ada ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan yang membuat inflasi mengalami kenaikkan. Indikator inflasi dari The Fed mengalami kenaikkan dengan tingkat kecepatan 4% dalam rentang 12 bulan terakhir, berbeda pada bulan Juni dimana tingkat kecepatan tersebut hanya berada di 2%. Sebagian peserta setuju bahwa tujuan dari The Fed terhadap standar kemajuan perekonomian telah tercapai, seiring dengan stabilitas harga yang terjadi di pasar. Sejauh ini kalau kita ringkas apa yang dilakukan oleh The Fed untuk perekonomian juga sudah cukup banyak pemirsa, mulai dari memangkas tingkat suku bunga hingga mendekati nol pada Maret 2020 dan melakukan pembelian sebesar $200 miliar untuk sekuritas berbasis hipotek dan $500 miliar treasuries untuk mendukung fungsi pasar. Pada December 2020 mereka kembali melakukan penyelarasan kebijakan moneter dengan melakukan pembelian $80 miliar per bulan di Treasuries, dan $40 miliar untuk sekuritas berbasis hipotek. Dan mereka akan terus melakukan hal tersebut hingga tujuan mereka mengenai kemajuan substantial terkait dengan pekerjaan maksimum dan stabilitas harga tercapai. Kapankah itu? Hanya mereka yang tahu.

1.SEBUAH HARAPAN

Rilis neraca perdagangan pada bulan Juli yang mencatatkan surplus sebesar USD 2.59 miliar atau lebih tinggi dari periode Juni yang surplus sebesar USD 1.32 miliar turut mengiringi optimisme dari pelaku pasar. Naiknya perolehan ekspor sebesar 29.32% YoY lebih rendah dari periode Juni yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 54.46% YoY. Ekspor non migas masih menjadi penyumbang terbesar dengan US$ 16,71 miliar atau tumbuh 28,26% YoY dan migas tumbuh 50% menjadi US$ 1 miliar. Meski terjadi tekanan akibat PPKM, Kami melihat kinerja ekspor Indonesia sangat terbantu dengan kenaikan harga komoditas. Dalam sebulan terakhir, harga minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara mencatatkan kenaikan tertinggi yaitu 9.75% untuk CPO dan 18.43% untuk batubara. Impor tercatat naik 44.44% YoY lebih rendah dari periode bulan Juni yang tercatat naik sebesar 60.12% YoY. Penurunan dari impor pada bulan Juli dinilai sebagai dampak dari adanya perlambatan mobilitas masyarakat dan juga turunnya utilitas dari pabrik. Impor barang konsumsi turun 1,22% MoM, bahan baku/penolong turun 12,37% MoM, barang modal turun 18,58% MoM. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, impor barang konsumsi masih tumbuh 45,97% YoY, bahan baku/penolong tumbuh 54,61% YoY, dan barang modal meningkat 5,38% YoY. Semoga di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini, pemulihan ekonomi global akan sangat membantu pemulihan ekonomi kita, meskipun kita juga tidak boleh bergantung dengan situasi dan kondisi saat ini saja, apalagi ditengah konsumsi dalam negeri tidak bisa cepat pulih karena masih adanya PPKM lanjutan.