ANALIS MARKET (20/8/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi kembali terkapar. Kali ini obligasi tidak sendiri, saham pun ikut terkapar.

Tekanan dari risalah memang sudah dapat diperkirakan, namun ternyata tidak disangka, tidak dinyana sedalam ini rasa sakitnya.

Kekuatan pasar obligasi pun tampaknya tidak kuasa untuk menahan pelemahan hari ini, dan mungkin pekan depan apabila pertemuan The Fed dengan para Bankir di Jackson Hole memberikan indikasi, mungkin pasar akan kembali bergerak melemah. Apalagi biasanya, pertemuan The Fed di Jackson Hole selalu menyampaikan perubahan-perubahan kebijakan.

Kami melihat sejauh mata memandang, tekanan mungkin akan dimulai dalam kurun waktu 2 bulan sejak dari sekarang, hingga pertemuan The Fed pada bulan September.

Menjelang akhir pekan, kami rasa pelaku pasar dan investor masih akan shock dengan situasi dan kondisi yang terjadi, dimana, para pejabat The Fed sepakat untuk nominal pengurangan, namun masih belum sepakat terkait dengan time frame kapan pengurangan obligasi dapat dilakukan.

Kami pesimis namun bukan sinis, saat ini untuk melihat pasar obligasi mengalami penguatan dalam waktu dekat.

Kekuatan pasar obligasi untuk terus melangkah mungkin akan tertahan. Bank Indonesia sudah menyampaikan bahwa mereka siap untuk melakukan intervensi baik di pasar Rupiah, DNDF, maupun dalam obligasi.

Namun sekuat apakah Bank Indonesia dapat bertahan? Hal ini akan menjadi cerita tersendiri kedepannya.

“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan melemah dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (20/8/2021).

Adapun cerita di akhir pekan ini akan ktia awali dari;

1.CHINA TERUS MENEKAN!!

Kita sudah melihat betapa besar dampak dari sebuah risalah yang tidak hanya membuat gelisah namun juga sengsara. Nah, kali ini sebuah berita kembali datang, khususnya dari pemerintah China pemirsa. Yang dimana Pemerintah China kembali mengeluarkan peraturan baru terkait dengan kebijakan kebijakan yang dapat menekan perusahaan China. Alhasil, perusahaan China seperti Tencent Holding dan Alibaba Group Holing mengalami penurunan lebih dari 6% pada perdagangan kemarin. Sebetulnya apa sih yang dilakukan oleh China? Kok sebegitunya? Yap, China lagi lagi melakukan sebuah pengembangan dari regulasi yang mereka miliki khususnya di sector teknologi. China terus kembali membuat regulasi yang lebih menekan perusahaan teknologi, pendidikan, hingga game. Dari sisi Didi Global Inc, China sedang memastikan agar hak pengemudi untuk perusahaan online dapat terpenuhi serta akan meningkatkan pengawasan industry streaming secara langsung. Hal ini yang membuat para pelaku pasar dan investor mulai kembali menarik dananya dari pasar ekuitas yang terfokus pada saham saham perusahaan China. Sejauh ini dana keluar dari perusahaan perusahaan China tersebut sudah hampir senilai $4.9 miliar dan berpotensi untuk bertambah besar apabila China terus menggalakkan kampanye terkait dengan regulasi yang ada. Sejauh ini, dalam rentang waktu 6 bulan, Nasdaq Golden Dragon China Index yang dimana didalam indeks tersebut terdapat 98 perusahaan yang terdaftar di Amerika telah mengalami penurunan 52%. Tidak hanya masalah regulator saja pemirsa, namun China juga menyampaikan kemarin bahwa masyarakat China yang kaya harus memberikan kembali kesempatan kepada masyarakat lainnya untuk merasakan kemakmuran bersama. Sejak Xi menjabat menjadi Presiden sejak 2012, memang dirinya menginginkan untuk dapat mengakhiri kemiskinan dan membangun masyarakat yang sejahtera serta memperkuat tata kelolanya. Sebelumnya China sendiri juga belum terlalu aktif untuk mengurangi kemiskinan, terutama di daerah pedesaan. Namun akhirnya pada pertemuan Komite Partai Komunis untuk perihal Keuangan dan Ekonomi, pemerintah memberikan strategi baru untuk focus terhadap eselon atas. Pejabat juga berjanji untuk memperkuat regulasi dan penyesuaian pendapatan yang tinggi, melindungi pendapatan yang legal, serta melakukan penyesuaian pendapatan yang berlebihan secara wajar, dan mendorong masyarakat yang kaya untuk dapat memberikan lebih banyak kepada orang yang berkekurangan. Tidak hanya itu saja, para pejabat juga berjanji untuk dapat memperluas masyarakat yang berpenghasilan menengah, serta melarang pendapatan illegal yang dimana hal tersebut merupakan bagian dari keadilan dan keadilan sosial. Saat ini ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan China telah mengalami penurunan hingga ke tahap yang serius, yang dimana para pejabat harus menjadikannya sebagai prioritias. Hal ini yang membuat Presiden Xi mengangkat masalah ini ke tahap yang lebih tinggi, dimana ini menjadi signal penting untuk arah kebijakan di masa yang akan datang. Presiden Xi sendiri berjanji akan menyediakan situasi dan kondisi yang lebih baik bagi masyarakat untuk meningkatkan jenjang pendidikan merata sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendapatan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah akan terus membantu melindungi hak hak masyarakat yang memiliki pekerjaan yang baru. Well, China tampaknya berbenah untuk menjadi negara yang lebih baik lagi dengan adanya pemerataan pembangunan nasional. Blueprint untuk rencana kerja dimana yang akan datang, tampaknya sudah siap untuk dijalankan. Oleh sebab itu kami melihat, memang tidak mudah untuk melakukan dan mewujudkan sesuatu ditengah situasi dan knodisi saat ini. Namun apa yang dilakukan China merupakan upaya untuk menjaga agar pertumbuhan dapat terus berkelanjutan.

2.PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL

Kementerian Keuangan mencatat realisasi anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional per 13 Agustus 2021 mencapai Rp320,35 triliun atau setara dengan 43% dari total pagu Rp744,77 triliun. Adapun, pagu PEN sebesar Rp744,77 triliun merupakan penyesuaian yang dilakukan dari pagu sebelumnya sebesar Rp699,43 triliun, untuk menghadapi eskalasi penyebaran Covid-19 akibat varian Delta pada awal Juli lalu. Fokus pemerintah hingga akhir tahun 2021 dan 2022 masih akan berpusat pada pemulihan kesehatan serta ekonomi. Kementrian Keuangan telah menetapkan anggaran PEN untuk tahun 2022 sebesar Rp321,2 triliun, anggaran untuk program PEN tersebut akan bersifat responsif dan fleksibel. alokasi anggaran PEN untuk pos kesehatan mencapai Rp115,9 triliun pada 2022. Anggaran tersebut akan difokuskan pada program vaksinasi dan penanganan kesehatan. Beberapa di antaranya yaitu untuk penerapan testing, tracing, dan treatment, perawatan pasien Covid-19, pembiayaan vaksinasi, obat Covid-19, insentif tenaga kesehatan, dan penanganan kesehatan di daerah. Di samping itu, anggaran PEN untuk pos perlindungan sosial pada 2022 mencapai Rp153,7 triliun. Beberapa bantuan social yang akan tetap digulirkan pemerintah pada tahun depan, yaitu bantuan berupa Kartu Sembako, PKH, dan Kartu Prakerja. Kemudian, pemerintah juga akan melanjutkan sebagian program perlindungan sosial di masa pandemic seperti BLT desa. Sri Mulyani menambahkan, fokus anggaran juga untuk antisipasi perlindungan kepada masyarakat lanjutan, seperti BST, Kartu Sembako PPKM, dan bantuan kuota internet. Hal ini diharapkan dapat mempertahankan konsumsi masyarakat tetap stabil dimana subsidi tersebut dapat menggantikan kebutuhan pokok harian.