ANALIS MARKET (23/8/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, menjelang hari kedua dari sejak pengumuman risalah FOMC meeting, pasar obligasi kembali mengalami pelemahan.

Kali ini mungkin akan kembali menguji support, apakah pelemahan dapat tertahan dan berubah menjadi penguatan? Ataukah justru pasar obligasi lagi lagi harus kembali terkapar?

Ditengah situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, pekan ini justru menjadi salah satu pekan yang sangat penting. Karena, The Fed akan bertemu para bankir di Jackson Hole. Tempat ini akan menjadi sakral, karena setelah risalah diumumkan, biasanya Jakcson Hole selalu menjadi saksi setiap kali The Fed melakukan perubahan kebijakan. Apakah kali ini juga akan menjadi saksi? Ataukah justru kita diberikan nafas hingga pertemuan The Fed pada bulan September mendatang?

Well, volatilitas kami lihat akan bertambah seiring dengan menjelang pertemuan di Jackson Hole dan FOMC meeting pada bulan September.

Hati hati, dan cermati setiap situasi dan kondisi yang terjadi. Tidak banyak data yang kita nantikan pekan ini selain data PMI Manufacturing, Composite, dan Services dari berbagai negara seperti Amerika, Eropa, dan Jepang.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (23/8/2021).

Adapun cerita di awal pekan ini akan kita awali dari;

1.DUET MAUT

Menjelang berakhirnya masa kerja dari Powell, yang dimana ada potensi dirinya digantikan meskipun dirinya punya peluang yang lebih besar untuk menjabat 2x, kali ini mendapat dukungan dari kawan baiknya, yaitu Janet Yellen, Menteri Keuangan Amerika. Yellen telah memberitahu penasihat senior White House bahwa dirinya mendukung kembali jabatan untuk periode kedua Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Yang dimana tentu saja dukungan seorang Yellen akan menjadi pertimbangan yang mendorong tingkat probabilitas Powell menjabat 2 periode mengalami kenaikkan. Sejauh ini Joe Biden belum memberikan keputusan apapun terkait dengan pemilihan ketua The Fed tersebut, namun tentu saja kami menyakini bahwa Biden akan memberikan peluang yang lebih besar tersebut kepada Powell sebagai salah satu seseorang yang telah dipandang oleh Wall Street sebagai seorang pejabat yang mampu membuat kebijakan yang penuh dengan tanggung jawab terkait dengan posisinya sebagai Ketua Bank Sentral terkuat di dunia. Hal ini akan memberikan sebuah gambaran juga bahwa Biden terus mendukung langkah dan sikap Powell dalam memulihkan perekonomian Amerika melalui kebijakan moneternya. Jabatan Powell yang akan berakhir pada bulan February mendatang telah memberikan sebuah gonjang gonjing, apakah The Fed akan dipimpin oleh orang yang sama ataukah mungkin sosok yang berbeda. Sejauh ini White House terus melakukan seleksi terkait dengan posisi tersebut terhadap kandidat yang memiliki potensi. Sejauh ini, Powell mampu melewati setiap gejolak yang timbul akibat Covid 19 dengan sangat baik, oleh sebab itu jangan sampai apabila terjadi perubahan kepemimpinan dalam tubuh The Fed, maka akan membuat stabilitas The Fed menjadi terganggu. Oleh sebab itu kami yakin bahwa potensi Powell akan terpilih kembali akan semakin besar. Dukungan Yellen kepada Powell memberikan dorongan terbesar bagi Powell karena Yellen sendiri yakin dengan pengalaman hampir di 2 dekade di The Fed, nasehat dari seorang Yellen akan menjadi sangat berharga bagi Joe Biden. Terlebih lagi seperti yang dulu kami sampaikan, bahwa Yellen pernah bekerjasama dengan Powell dalam 1 institusi, dan kali ini keduanya bekerjasama mewakili 2 institusi yang berbeda yang begitu luar biasa dalam menggerakan perekonomian melalui kebijakan di Amerika. Duet maut antara Yellen Powell merupakan salah satu yang membuat pelaku pasar dan investor tenang kala itu, karena pelaku pasar dan investor tahu, bahwa pengalaman keduanya dapat membantu membawa Amerika keluar dari situasi dan kondisi yang saat itu sedang sulit akibat Covid 19. Dukungan ini tentu membuat Powell semakin memantabkan langkahnya sebelum berpidato di Jackson Hole pekan depan di Kansas City, dimana pertemuan tersebut akan menjadi salah satu yang paling penting saat ini. Di satu sisi, kami melihat Biden membutuhkan Powell, karena sejauh ini rencana stimulus yang diberikan Biden terhadap perekonomian Amerika mengundang serangan dari Partai Republik yang mengatakan bahwa inflasi akan bergerak liar apabila Biden mengeluarkan stimulus tersebut. Namun sayangnya, Yellen mengatakan bahwa inflasi tersebut hanyalah sementara dan tidak akan berlangsung lama. Hal inipun yang dikatakan oleh Powell bahwa inflasi yang terjadi akibat pemulihan ekonomi merupakan sesuatu yang wajar, dan berlangsung sementara. Oleh sebab itu, tentu saja dukungan Powell merupakan salah satu alasan bagi Biden untuk terus melangkah maju dengan stimulusnya. Partai Republik sudah pasti, seperti biasa, tidak akan menerima begitu saja, karena Partai Republik sempat mengatakan bahwa sikap The Fed sangat beresiko dengan membiarkan inflasi bergerak bebas dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Oleh sebab itu, Partai Republik juga sangat mendukung kebijakan Taper Tantrum untuk segera dilakukan. Powell sendiri di sikat kiri dan kanan terkait akan hal ini, bahkan termasuk sang wakil ketua yang mengatakan bahwa Wakil Ketua The Fed mendukung untuk dilakukannya penarikan stimulus, meskipun lagi lagi Powell tidak bergeming dengan mengatakan bahwa dirinya akan terus mengamati situasi dan kondisi yang terjadi dengan sangat cermat, dan hal tersebut memberikan The Fed waktu yang lebih lama untuk menarik dukungan stimulus karena perekonomian masih sangat rentan saat ini apabila The Fed menarik dukungan. Kritik tentu pasti akan terjadi, Namanya kita hidup, tentu sebaik dan sehebat apapun kita, pasti akan selalu ada yang dislike. Dan hal ini juga terjadi terhadap Powell yang dimana beberapa Senator dari Demokrat juga tidak mengatakan secara gamblang akan mendukung pemilihan Powell tersebut. Sebagai informasi, Biden tidak hanya akan mengganti Ketua The Fed saja pemirsa, tapi juga harus mengganti Wakil Ketua Pengawasan Peraturan Perbankan, Richard Quarles, Wakil Ketua yang mendukung untuk dilaksanakannya Taper Tantrum, Richard Clarida, dan kursi Dewan The Fed. Perjalanan masih akan panjang, meskipun kalau boleh kami melakukan vote, tentu kami akan melakukan vote untuk Powell.

2.WOW, NAIK 3 PERINGKAT LHO!

Survei World Competitiveness Yearbook (WCY) 2021 yang dilakukan oleh IMD memposisikan daya saing Indonesia pada peringkat 37 dari total 64 negara, yang sebarannya mewakili seluruh kawasan ekonomi dunia. Penilaian daya saing dari 64 negara tersebut berdasarkan 4 komponen utama yang meliputi kinerja perekonomian, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Ranking daya saing negara pada survei 2021, turut mencerminkan ketahanan negara terhadap pandemic Covid-19. Bahkan, negara-negara dengan penanganan Covid-19 yang baik di Asia Pasifik mengalami kenaikan ranking seperti Taiwan, China, dan Selandia Baru. Taiwan naik ke peringkat ke-8 atau naik 3 peringkat, China naik ke peringkat ke-16 atau naik 4 peringkat, dan Selandia Baru naik ke peringkat ke-20 atau naik 2 peringkat. Di sisi lain, menyebut Indonesia juga naik 3 peringkat ke 37, meski pun masih berada di posisi bawah di antara negara-negara Asia Pasifik. Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin mengatakan negara-negara dengan akses vaksin yang tinggi, mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ia menilai Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi mencapai 7,07% secara tahunan YoY di kuartal II/2021 meski di tengah keterbatasan akses vaksin, merupakan suatu keberhasilan. Selain itu, Indonesia dinilai masih bisa mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi. Menurutnya, Indonesia belum mencapai level potensialnya, hal ini terlihat dari inflasi dalam negeri yang masih cukup stabil meski pertumbuhan ekonomi mengalami rebound dari kontraksi cukup dalam sebesar -5,32% YoY di kuartal II/2020. Ia juga menambahkan di negara-negara berkembang, hal itu terkadang tidak berkaitan dengan potential growth, namun lebih berkaitan dengan manajemen logistik atau distribusi barang dan jasa. Di Indonesia, pemerintah turut berusaha memastikan barang dan jasa memiliki harga yang terjangkau bagi seluruh masyarakat, hal ini terjadi di tengah tekanan pendapatan. Berbeda dengan Indonesia, Amerika Serikat mencatat inflasi yang tinggi seiring dengan pemulihan ekonomi yang pesat. Indeks Harga Konsumen Amerika pada Juli 2021 menunjukkan adanya inflasi sebesar 5,4% YoY. Antisipasi terhadap pemulihan ekonomi yang pesat khususnya di Amerika yang dibarengi oleh tingginya inflasi menjadi kekhawatiran dari negara emerging. Inflasi tinggi di Amerika dapat memicu kebijakan moneter bank sentral yaitu tapering, yang turut diantisipasi oleh berbagai negara khususnya emerging markets.