ANALIS MARKET (30/7/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih bergerak menguat sesuai dengan yang kami perkirakan.

Begitu luar biasanya penguatan, hingga pada akhirnya menembus batas atas resistensinya secara harga, yang artinya memberikan potensi yang lebih besar bagi pasar obligasi untuk mengalami penguatan.

Namun masalahnya, secara imbal hasil justru obligasi berdurasi 10y, terlihat kesulitan untuk menembus penurunan lebih lanjut.

Namun kami percaya, ini hanya masalah waktu saja hingga obligasi berdurasi 10y dapat berada di bawah 6.3%.

Fokus berikutnya adalah inflasi seperti biasa yang akan keluar pada pekan depan.

Secara proyeksi, kami melihat inflasi berpotensi mengalami kenaikkan pekan depan, meskipun masih dibawah 1.5%. Kenaikkan inflasi yang masih terbatas diperkirakan karena masih adanya PPKM Level 4 yang membatasi mobilitas dan aktivitas perekonomian.

Namun kami percaya, inflasi pun mungkin akan meleset dari target pemerintah pada akhir tahun, sehingga kami juga melihat inflasi tidak akan terlalu memberikan dampak terhadap pasar obligasi untuk saat ini.

Covid 19 masih akan mengintai pertumbuhan ekonomi sejauh ini, oleh sebab itu harapan kami adalah imbal hasil pasar obligasi dapat bertahan di level yang ada saat ini atau bahkan justru lebih rendah dari 6.20% untuk obligasi 10y.

Well, The Fed sudah memberikan ketenangan, sudah saatnya kita beranjak penuh keyakinan.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas. Kami merekomendasikan ikut beli lagi yuk!” ungkap analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (30/7/2021).

Adapun cerita hari ini akan datang dari;

1.AMERIKA, KONSISTEN LHO!

Wuiih pemirsa, meskipun pertumbuhan ekonomi Amerika jauh dibawah proyeksi pasar, namun kami tetap mengapresiasi pertumbuhan ekonomi di Amerika yang sejauh ini masih konsisten dengan mengalami kenaikkan. Melesetnya proyeksi pertumbuhan ekonomi pasar didominasi oleh karena terkendalanya supply chain yang ada di pasar, sehingga memberikan perlambatan pada kecepatan pertumbuhan ekonomi di Amerika. Permintaan rumah tangga yang kuat, masih belum bisa diimbangi dengah kehadiran pasokan yang kuat dari para perusahaan. Keterbatasan itulah yang membuat perusahaan menjadi tidak mampu untuk mengimbangi tingginya permintaan, yang dimana pada akhirnya membuat permintaan menjadi terbatas. Proyeksi yang sudah diberikan memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika akan berkisar di 8.4%, bahkan beberapa proyeksi lanjutan memproyeksikan peningkatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke 3 mendatang di kisaran 8.4%. Banyak proyeksi yang menyatakan bahwa mereka memperkirakan bahwa rebound besar akan terjadi, sehingga akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ke 3 mendatang. Meskipun tidak sesuai dengan ekspektasi, namun indeks di Amerika mengalami kenaikkan, hal ini yang memberikan kita sebuah gambaran bahwa perekonomian Amerika masih sejalan dengan proyeksi, meskipun dengan tingkat kecepatan yang lebih rendah. Kekurangan pasokan juga pernah disampaikan oleh The Fed kemarin, bahwa ketiadaan pasokan akan membuat kelangkaan barang terjadi. Hal ini lah yang mendorong The Fed juga untuk tetap terus memberikan dukungan terhadap pemulihan ekonomi di Amerika. Saat ini Personal Consumption juga berada di level terbaiknya, bahkan lebih dari yang diproyeksikan. Hal ini tentu mendorong bahwa masyarakat mulai meningkatkan konsumsinya, yang dimana saat ini data Personal Consumption di Amerika telah menembus 11.8% yang dimana merupakan kemajuan terbesar sejak tahun 1952. Secara data, masyarakat di Amerika cenderung menghabiskan uang secara cash selama pandemic, yang dimana nilai tabungan mengalami penurunan dari sebelumnya 20.8% menjadi 10.9%. Hal ini juga memberikan sebuah gambaran yang sangat jelas bahwa konsumsi yang tinggi akan menjadi salah satu pendorong kenaikkan inflasi, ditambah lagi apabila pasokan tidak bisa memenuhi permintaan. Hal ini juga yang harus di antisipasi oleh The Fed meskipun The Fed menutup mata terkait dengan kenaikkan inflasi. Berbicara inflasi yang tidak termasuk biaya makanan dan energi telah naik 6.1% secara YoY pada kuartal kedua kemarin, yang dimana kenaikkan tersebut merupakan kenaikkan terbesar sejak tahun 1983. Laporan tersebut memberikan indikasi bahwa perekonomian di Amerika mulai pulih dari penurunan sebelumnya yang terjadi akibat pandemic. Kedepannya, pertumbuhan ekonomi masih akan ditantang oleh meningkatnya varian delta yang terjadi di Amerika, kendala pasokan, serta lapangan kerja yang masih belum stabil meskipun penurunan pengangguran terus terjadi. Berbicara pasokan, ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan di Amerika termasuk beberapa perusahaan besar seperti Apple Inc, Fastenal Co. dan lainnya. Pemulihan ekonomi di Amerika yang sesuai harapan, tentu memberikan kita sebuah keberuntungan dimana bagi Indonesia, Amerika merupakan salah satu mitra dagang terbesar saat ini. Tentu pemulihan ekonomi di Amerika akan menjadi salah satu katrol yang bagus untuk menopang, dan mengangkat perekonomian di Indonesia yang sejauh ini masih tertatih tatih akibat adanya PPKM lanjutan serta menurunnya konsumsi serta daya beli. Tetap hati hati, dan cermati setiap situasi dan kondisi yang ada khususnya terkait dengan daya tahan perekonomian di Indonesia.