ANALIS MARKET (03/8/2021) : Pasar Obligasi Diperkirakan Bergerak Bervariasi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi akan memasuki lelang terpenting dalam hidupnya.

Ditengah kenaikkan inflasi yang di luar proyeksi kami, meskipun kami salah tapi kami bersyukur, karena tingkat inflasi yang tinggi inilah yang menunjukkan bahwa sebuah gambaran daya beli itu masa ada dan nyata.

Namun dengan inflasi di 1.5%, hal tersebut belum cukup mampu untuk mengejar pertumbuhan ekonomi berada di 5%.

Masih dibutuhkan kekuatan lebih dari sekedar 1.5% untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi, dan masih dibutuhkan kerja keras untuk menjaga daya beli tetap terjaga ditengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini.

Perlanjutan PPKM selama 1 minggu, masih belum memberikan tekanan terhadap perekonomian jangka menengah hingga panjang. Namun apabila ternyata PPKM di lakukan lebih dari 8 minggu, maka efeknya akan berubah menjadi jangka pendek dan menengah.

Nah, beralih kepada lelang kali ini akan terasa sangat special pemirsa, karena lelang kali ini adalah lelang obligasi konvensional yang biasanya di banjiri peminatnya. Total penawaran yang masuk diperkirakan akan berkisar lebih dari Rp 50 T, dan apabila imbal hasil yang masuk sesuai dengan keinginan pemerintah, bukan tidak mungkin pemerintah akan menyerap secara target maksimal. Fokus utamanya bukan lagi terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi, namun bagaimana perekonomian dapat bertahan di tengah situasi dan kondisi saat ini.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif hingga lelang usai. Kami merekomendasikan ikuti lelang,” ungkap analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (03/8/2021).

Adapun cerita di hari ini akan kita awali dari;

1.HAYOLOH, SEBUAH TANDA!

Seperti yang kami katakan sebelumnya, bukan gossip namanya kalau tidak di gosok gosok pemirsa. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan kemarin, apabila dalam kurun waktu 2 bulan berikutnya laporan ketenagakerjaan Amerika menunjukkan sebuah kenaikkan yang berkelanjutan, maka dirinya akan dapat segera memberikan dukungan terhadap pengurangan pembelian obligasi oleh The Fed di pasar. Waller mengatakan bahwa kita semua sudah siap untuk melakukan pengumuman pada bulan September mendatang, namun itu semua kembali lagi tergantung seberapa bagus data ketenagakerjaan dalam kurun waktu 2 bulan mendatang. Jika ternyata data ketenagakerjaan telah membuat kemajuan yang kita semua butuhkan, maka kita harus melangkah maju kedepan. Namun apabila ternyata tidak membuat kemajuan yang kami ingingkan, berarti kita harus menunda beberapa bulan kebelakang. Apakah ini yang dimaksud oleh Waller perubahan substansial terhadap inflasi dan ketenagakerjaan? Ataukah ada tanda tanda lain yang dimaksudkan oleh Waller? Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan besar yang ada di benak pelaku pasar dan investor. The Fed kemarin tetap mempertahankan program pembelian asset bulannya ditambah lagi dengan mempertahankan tingkat suku bunganya mendekati nol. Namun apa yang disampaikan oleh Powell kemarin berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Waller. Powell kemarin mengatakan bahwa kemajuan memang telah dibuat, namun masih jauh dari target yang di inginkan. Oleh sebab itu masih sulit rasanya perekonomian untuk mulai melakukan take off. Sejauh ini selain Waller, beberapa Presiden Fed Regional ditambah dengan James Bullard mulai mendesak The Fed untuk melakukan pengurangan pembelian obligasi karena adanya dorongan inflasi yang lebih tinggi. Dan musim gugur dirasa tepat untuk memulai melakukan pengurangan pembelian obligasi tersebut, yang dimana musim gugur di Ameriak akan dimulai dari September hingga December. Meskipun mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, Powell mengatakan bahwa The Fed belum hingga sampai ke titik dimana The Fed harus melepaskan dukungannya terhadap ekonomi. Waller sendiri menambahkan bahwa The Fed harus menggunakan kesempatan dari pemulihan pasar ketenagakerjaan untuk dapat mendapatkan ruang yang lebih fleksibel dalam menaikkan tingkat suku bunga pada tahun depan apabila hal tersebtu diperlukan. Jika laporan ketenagakerjaan yang akan masuk nanti dalam kurun waktu 2 bulan mendatang memiliki hasil yang baik, maka kita harus berangkat lebih awal dan bergerak lebih cepat untuk dapat memastikan bahwa posisi The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga dapat terjadi pada tahun 2022 mendatang. Meskipun memberikan penekanan, namun Waller tidak mengatakan bahwa The Fed harus melakukannya, karena The Fed sendiri secara proyeksi akan mempertahankan tingkat suku bunga hingga tahun 2023, yang dimana secara proyeksi kami apabila semuanya berjalan dengan lancar, maka Taper Tantrum dapat dimulai pada Q1 atau Q2 2022 mendatang. Secara ini secara kenaikkan tingkat suku bunga, ada 7 pejabat The Fed yang mendukung kenaikkan tingkat suku bunga pada tahun depan. Menurut Waller, pengurangan pembelian obligasi di pasar dapat dilakukan paling cepat pada bulan October tahun ini, dan diperkirakan akan selesai dalam kurun waktu 5 – 6 bulan kedepan, jika pasar ketenagakerjaan cukup kuat untuk memberikan angka yang diinginkan oleh The Fed. Apabila menilik pernyataan dari Waller, berarti apabila Taper Tantrum dimulai pada musim gugur, berarti tingkat suku bunga diperkirakan akan mengalami kenaikkan pada Q1 2022 mendatang. Sejauh ini Waller setuju bahwa kenaikkan inflasi hanya bersifat sementara, meskipun demikian dirinya tetap khawatir bahwa kenaikkan inflasi ini mungkin tidak akan bersifat sementara apabila inflasi mendapatkan kekuatan yang cukup kuat dalam kurun waktu 1 dekade terakhir. Well, ini gossip yang cukup panas pemirsa, dan tampaknya sesuatu yang bukan kita biarkan menjadi angin lalu begitu saja, karena dampaknya akan cukup besar apabila ternyata pelaku pasar dan investor mempercayai kisah ini. Oleh sebab itu tetap hati hati, dan cermati setiap sentiment yang ada.

2.BANK SENTRAL AUSTRALIA

Sama seperti berbagai Bank Sentral lainnya di seluruh dunia, begitupun dengan Bank Sentral Australia yang dimana Kepala Bank Sentral Australia, Philip Lowe mulai merasakan canggung karena adanya perbedaan pendapat dengan yang disampaikan sebelumnya. Lowe diperkirakan akan menunda rencananya hingga akhir tahun untuk mengurangi pembelian obligasi mingguan, sembari mempertahankan tingkat suku bunganya di 0.1% pada pertemuan hari ini, Selasa. Hal ini yang memberikan kepada kita sebuah gambaran, bahwa perekonomian Australia tengah kembali menghadapi tekanan, padahal sebelumnya pemulihan ekonomi Australia di tengah pandemi Covid 19 meskipun sedang bersitegang dengan China merupakan salah satu pemulihan ekonomi yang tersolid di dunia. Pemulihan secara pelan tapi pasti, mendorong perekonomian Australia kembali bangkit, namun saat ini tampaknya pemulihan tersebut akan kembali tertunda. Pasalnya Bank Sentral Australia tampaknya akan mulai kembali memberikan dukungan terhadap perekonomian Australia karena adanya peningkatan Covid 19 yang saat ini telah mengubah optimisme menjadi pesimis ditengah potensi akan pemulihan ekonomi yang terjadi. Perkembangan Covid 19 yang terus mengalami kenaikkan membuat ketidakpastian menunjukkan peningkatan. Saat ini pembelian mingguan obligasi oleh Bank Sentral Australia masih berkisar A$ 5 miliar, yang dimana ternyata pembelian obligasi tersebut masih memberikan dampak yang tidak begitu besar terhadap perekonomian. Oleh sebab itu kami melihat bauran kebijakan antara fiscal, moneter, serta perbankan diharapkan dapat Bersatu kembali untuk menopang perekonomian Australia. Peningkatan Covid 19 di Sydney telah mendorong rekor baru dalam beberapa hari terakhir, yang dimana Commonwealth Bank of Australia dan Westpac Banking Corp memperkirakan sebanyak 200.000 – 300.000 pekerjaan akan hilang dan pengangguran akan mengalami kenaikkan dari sebelumnya 4.9% menjadi 5.7%. Lockdown yang terjadi di Sydney menunjukkan sebuah perihal yang begitu memprihatinkan terkait dengan penetrasi vaksin yang lambat, padahal pemulihan ekonomi global sedang berada di jalannya untuk bisa kembali bangkit dari situasi dan kondisi saat ini. Lowe memiliki target terkait dengan pengangguran sekitar 4%, yang dimana dirinya mengharapkan akan mendorong peningkatan upiah yang lebih cepat dengan inflasi yang lebih stabil dengan target Bank Sentral Australia yaitu 2% - 3%. Alhasil, dengan situasi dan kondisi saat ini yang terjadi, kami melihat bahwa Bank Sentral Australia akan semakin kehilangan momentumnya untuk menaikkan tingkat suku bunga pada tahun depan. Ada kemungkinan tingkat suku bunga baru akan di naikkan pada tahun 2024 mendatang, menunggu perekonomian lebih stabil saat ini. Oleh sebab itu dukungan terhadap pembelian obligasi mingguan kami rasa masih akan dilakukan, namun kami berharap bahwa nilai pembelian dapat ditambah untuk dapat memberikan kesempatan yang lebih besar bagi perekonomian untuk bisa pulih lebih cepat.