ANALIS MARKET (25/02/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih mengalami kenaikkan kemarin (24/2) meskipun masih dalam rentang terbatas.

Kenaikkan tersebut memberikan indikasi bahwa masih ada ruang yang lebih besar bagi obligasi untuk mengalami penurunan secara harga.

Lho kok bisa?

Pasalnya, saat ini imbal hasil obligasi di beberapa negara terus mengalami kenaikkan. Hal inilah yang memberikan daya tarik terhadap obligasi dalam negeri kita untuk mengalami kenaikkan.

Lho memang kenapa? Obligasi dalam negeri tidak boleh naik memangnya?

Boleh-boleh saja, tapi ditengah situasi dan kondisi saat ini, tentu kenaikkan imbal hasil obligasi akan membuat biaya pinjaman pemerintah yang digunakan sebagai patokan atau dasar untuk menentukan harga pinjaman bagi bisnis dan konsumsem akan mengalami kenaikkan, dan setiap kenaikkan imbal hasil akan masuk ke dalam ekonomi riil. Nah kalau sampai naik, tentu saja hal ini bertentangan dengan kampanye Bank Sentral di seluruh dunia yang menginginkan pemulihan dengan cost yang lebih murah. Oleh sebab itu, tentu berbagai Bank Sentral di seluruh dunia saat ini mulai berjanji untuk melakukan intervensi lho, sebagai bagian dari kebijakan untuk menjaga imbal hasil untuk tetap rendah. Contohnya, mulai dari Bank Sentral Korea, Eropa, dan Inggris.

Kami tidak hanya khawatir masalah itu saja pemirsa, kenaikkan imbal hasil juga tidak diikuti dengan fundamental ekonomi yang memadai. Contohnya, mulai dari tingkat pengangguran yang masih tinggi, ditambah lagi pula dengan inflasi yang masih rendah. Tentu ini menjadi situasi dan kondisi disinflasi yang terjadi saat ini.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Kamis (25/2) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat.

“Kami merekomendasikan beli dengan volume terbatas,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (25/02/2021).

Adapun cerita di hari Kamis (25/2) ini akan kita awali dari;

1.I LOVE YOU MR. P *PART 2

Tidak hanya film saja yang punya part 1 ya pemirsa, tapi film “I LOVE YOU MR. P” ini juga sudah memiliki bagian part 2 nya. Powell kemarin di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR menekankan bahwa pemulihan perekonomian masih akan sangat panjang, dan tanda-tanda kenaikkan harga tidak serta merta menyebabkan inflasi mengalami kenaikkan. Powell mengatakan bahwa kebijakan kami akomodatif, mengapa demikian? Karena angka pengangguran masih sangat tinggi, dan pasar tenaga kerja masih jauh dari target maksimumnya. Powell juga mengakui memang benar beberapa harga asset mengalami kenaikkan karena sebagai bagian dari implikasi beberapa kebijakan. Powell mengambil contoh kenaikkan harga mobil yang disebabkan karena kekurangan chip dan kendala yang terjadi pada rantai pasokan industry technology. Namun apakah hal tersebut menyebabkan inflasi? Tentu tidak, karena inflasi adalah proses yang terjadi berulang dari tahun ke tahun. Powell di tembaki dengan berbagai macam pertanyaan kemarin dari anggota parlement mengenai perekonomian yang terlalu PANAS yang disebabkan oleh adanya bantuan stimulus tambahan dari pemerintah dan dukungan yang berkelanjutan dari Bank Sentral – The Fed, meskipun Powell tidak bergeming. Dirinya kembali mengatakan bahwa pemulihan perekonomian pra pandemic, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Powell menegaskan bahwa perekonomian di Amerika masih membutuhkan bantuan. Sontak hal ini lah yang membuat investor semakin yakin, semakin percaya diri, bahwa kenaikkan tingkat suku bunga masih membutuhkan waktu yang sangat panjang. Oleh sebab itu pelaku pasar dan investor yakin, bahwa system keuangan di Amerika masih akan terjaga likuiditasnya, meskipun secara buffet indicator pasar saham di Amerika sudah memasuki standard deviasi +2. Di sisi yang lain, Wakil Ketua The Fed, Richard Clarida juga menyampaikan rasa optimis namun tetap hati hati pada prospek pemulihan. Karena pemulihan membutuhkan waktu dari situasi dan kondisi saat ini hingga ke tingkat sebelum pandemic itu terjadi. Hal tersebut juga didukung oleh Governor Lael Brainard yang memberikan informasi bahwa inflasi akan sangat rendah, dan perekonomian juga masih sangat jauh dari tujuan The Fed. Powell mengakui bahwa Bank Sentral mengharapkan inflasi mengalami kenaikan sebagai efek pertama dari kenaikkan permintaan karena perekonomian sedang mengalami pembukaan kembali. Sekalipun inflasi mengalami kenaikkan, Bank Sentral tidak perlu takut ataupun cemas, karena The Fed memiliki tools untuk menghadapinya. Powell menyampaikan hal ini sebagai bagian dari ada tanda tanda perekonomian akan mulai menguat ditambah naiknya ekspektasi dan harapan akan distribusi vaksin yang terus dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat untuk mulai melakukan konsumsi. Namun tidak berarti lho perekonomian tidak membutuhkan stimulus lanjutan dari Joe Biden. Oleh sebab itu biar bagaimanapun perekonomian Amerika mulai membaik, namun proses pemulihan ini tidak boleh berhenti. Proses pemulihan ini harus terus berjalan agar bisa sampai ke tahap dimana level sebelum pandemic terjadi. Prospek perekonomian itu sendiri merupakan sebuah tahapan dimana US Treasury yang secara historis masih berada di level rendah, dan memberikan dorongan kepada perdagangan ekonomi global, menaikkan harga komoditas dan eskpektasi akan kenaikkan inflasi. Selama sidang berlanjut, Powell memberikan keyakinan kepada kita semua bahwa The Fed yakin bahwa inflasi akan menuju rata rata 2% dari waktu ke waktu. Powell yakin bahwa kita dapat melakukannya, dan tentu saja The Fed berkomitment untuk menggunakan semua tools yang tersedia untuk mencapai target inflasi tersebut. Selama ini kita hidup dimasa tekanan disinflasi yang cukup berat dan hampir terjadi di seluruh dunia yang dimana pada dasarnya hampir semua Bank Sentral di perekonomian negara maju telah berjuang untuk mencapai 2%. Dan kami yakin bahwa The Fed mampu untuk melakukannya, dan kami bisa melakukannya. Tapi ingat lho pemirsa, Powell menambahkan. Meskipun dirinya berapi api penuh semangat saat mengucapkan hal tersebut, Powell menambahkan bahwa mungkin akan dibutuhkan waktu sekitar 3y untuk mencapai tujuan tersebut, namun dirinya berjanji akan memperbaharui penilaian The Fed terkait masalah tersebut di setiap kuartal. Powell juga menyampaikan bahwa tahun ini merupakan tahun yang sangat penting pemirsa, karena The Fed akan lebih aktif terlibat dengan kegiatan masyarakat. Tidak hanya itu saja lho, pada akhirnya The Fed juga berpotensi hadir pada Kongress mata uang digital pada tahun 2021. Namun apakah situasi dan kondisi yang sama terjadi di Bank Sentral lainnya pemirsa? Tidak selalu sama lho. Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa tengah mengamati pasar dengan cermat khususnya pasar obligasi pemerintah. Hal ini dilakukan oleh Bank Sentral Eropa sebagai bagian dari tindakan untuk mencegah kenaikkan imbal hasil yang dapat merusak pemulihan ekonomi dari pandemic. Tidak hanya Eropa, namun Bank Sentral Korea juga akan melakukan intervensi apabila kenaikkan imbal hasil terus terjadi. Bank Sentral Australia juga mengatakan hal yang sama, begitupun dengan Reserve Bank of New Zealand pada hari Rabu kemarin memberikan janji untuk terus memberikan stimulus yang berkelanjutan. Pertanyaannya adalah mengapa hal ini menjadi penting? Karena biaya pinjaman pemerintah digunakan sebagai patokan atau dasar untuk menentukan harga pinjaman bagi bisnis dan konsumsem, dan setiap kenaikkan imbal hasil akan masuk ke dalam ekonomi riil. Nah kalau sampai naik, tentu saja hal ini bertentangan dengan kampanye Bank Sentral di seluruh dunia yang menginginkan pemulihan dengan cost yang lebih murah. Dan mau tidak mau untuk menjaga imbal hasil untuk tetap rendah, tentu saja mereka akan memberikan lebih banyak stimulus pada beberapa titik. Nah untuk US Treasury 10y sendiri saat ini telah mengalami kenaikkan sebanyak 50 bps sejak akhir December karena perekonomian yang mulai membaik. Bahkan proyeksi perekonomian untuk Amerika tahun 2021 ini pun mengalami kenaikkan sebagai bagian dari keyakinan bahwa pasar sudah pulih. Masalahnya nih pemirsa, apabila US Treasury mengalami kenaikkan, tentu saja dampaknya sangat terasa terhadap imbal hasil obligasi negara lain, hal ini yang membuat para pembuat kebijakan di luar dari Amerika khawatir, bahwa situasi dan kondisi yang terjadi sekarang lebih kepada mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan menahan inflasi yang mulai menunjukkan tanda tanda kenaikkan. Bagi Oma Christine, tentu yang hal terjadi di Amerika akan membuat Bank Sentral Eropa tidak nyaman, karena Bank Sentral Eropa berjanji untuk menjaga pembiayaan yang murah dan menguntungkan untuk menghadapi dan melewati krisis yang terjadi sekarang ini, apalagi pemulihan di Eropa memang lebih rendah daripada yang lainnya. Tentu saja untuk mencegah kenaikkan imbal hasil obligasi lebih lanjut, Bank Sentral harus melakukan pembelian obligasi, cara yang lebih simplenya tentu saja menyampaikan kepada pelaku pasar dan investor seberapa lama Bank Sentral akan mempertahankan tingkat suku bunga. Pertanyaannya adalah, apakah ini hanya terjadi di negara maju saja? Ooh tentu tidak, bagi negara berkembang pun ini sama ngerinya. Kenaikkan imbal hasil di negara maju akan mendorong volatilitas mata uang dan money flow yang terjadi di pasar. Masalahnya adalah bagaimana dengan negara yang bergantung dengan money flow tersebut? Ini akan membuat situasi dan kondisi pemulihan di negara berkembang tersebut akan menjadi lebih sulit. Sejauh ini tampaknya yang masih merasa nyaman dengan posisinya Cuma Bank Sentral The Fed saja pemirsa, namun yang lain tidak terkecuali kita juga cukup ketar ketir dengan adanya kenaikan imbal hasil karena dikhawatirkan akan mengganggu perekonomian. Masalahnya adalah saat ini, kenaikkan imbal hasil tersebut belum mencerminkan pemulihan ekonomi yang sebenarnya, karena tenaga kerja masih sangat rendah, dan perekonomian masih sangat bergantung terhadap distribusi vaksin. Well, mari kita lihat. Ditengah kenaikkan imbal hasil obligasi kita beberapa pekan terakhir khususnya obligasi acuan 10y dan 20y, apakah akan ada intervensi atau tidak kedepannya. Memperhatikan saham tentu boleh boleh saja, tapi obligasi juga jangan ditinggalkan ya.