ANALIS MARKET (26/02/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Bergerak Variatif

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi tiba-tiba mengalami penurunan setelah sebelumnya mengalami kenaikkan.

Volatilitas di pasar obligasi masih tinggi, kehati-hatian menjadi salah satu point penting disini. Tetiba naik, tetiba turun, seperti saham saja pemirsa, bedanya ini sesuatu yang jarang terjadi.

Tapi secara timeline baik jangka pendek, menengah, maupun panjang, pasar obligasi memang sedang berada fase penurunan secara harga, fase kenaikkan secara yield.

Namun yang menarik adalah, tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi hampir terjadi di beberapa belahan dunia lainnya.

Sebetulnya apa sih yang membuat pasar obligasi kita menjadi seperti ini?

Karena adanya kenaikkan US Treasury itulah yang membuat kita seperti ini. Kita sebagai emerging market, tentu suka atau tidak suka akan terkena dampaknya.

Mengapa demikian?

Karena kita Emerging Market yang memiliki nilai resiko lebih besar. Dengan gap peringkat rating dari AAA ke BBB tentu ada 8 notch yang harus dilalui, dan sejauh notch tersebutlah, maka spread premium akan semakin lebar. Untuk mempertahankan daya tarik bagi obligasi kitalah, maka imbal hasil harus menyesuaikan.

Kenaikkan yield yang terus menerus terjadi meskipun tingkat suku bunga turun, adalah salah satu pemandangan yang tidak biasa. Hal ini justru memberikan dampak yang kurang baik, karena kenaikkan yield tentu akan memberikan dampak terhadap kenaikkan cost yang harus dibayarkan.

Sisi positive-nya, tingkat suku bunga dunia akan berada di fase yang rendah untuk waktu yang cukup lama. Sisi negative-nya, kenaikkan imbal hasil tanpa disertai dengan fundamental ekonomi yang kuat seperti tenaga kerja dan inflasi, hanya akan membuat perekonomian semakin rapuh. Namun bukan berarti tidak ada harapan bahwa perekonomian akan menguat. Tentu perekonomian akan menguat, tapi patokannya kembali ke 2 hal tadi seperti yang sudah disampaikan sebelumnya.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Jumat (26/2) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan rentang pergerakan 35 – 75 bps.

“Kami merekomendasikan wait and see,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (26/02/2021).

Adapun cerita di akhir pekan ini akan kita awali dari;

1.MUNGKINKAH

Tidak terasa, sudah 2 hari kita membahas mengenai pidato Powell dihadapan Komite Keuangan. Yang memberikan kita keyakinan bahwa kenaikkan imbal hasil US Treasury merupakan sebuah bagian dari refleksi ekspektasi dan harapan akan prospek pemulihan yang lebih kuat. Namun pada kenyataannya kemarin, imbal hasil US Treasury menjadi sesuatu yang berbeda. Pasalnya nih pemirsa, imbal hasil US Treasury mengalami kenaikkan secara mendadak yang dimana US Treasury 10y berada di 1.61%, yang dimana angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 1 tahun. US Treasury 5y juga mengalami kenaikkan sehingga membuat situasi dan kondisi menjadi semakin was was. Imbal hasil US Treasury yang mengalami kenaikkan tentu menghapuskan keraguan akan inflasi, namun kenaikkan US Treasury lebih kepada prospek pertumbuhan. Mengapa demikian? Karena data perekonomian Amerika terkait dengan Durable Goods Orders mengalami kenaikkan yang begitu luar biasa kemarin *data hal. 2. Level ini merupakan level yang cukup tinggi saat ini, karena kalau kita lihat mundur kebelakang, sempat mengalami peningkatan pada bulan Maret, tapi berangsur angsur mengalami penurunan. Meskipun Bank Sentral telah berusaha untuk menenangkan pasar dengan mengatakan jumlah pembelian obligasi tetap sama. Sehingga tidak memberikan implikasi terhadap imbal hasil obligasi. Yang diinginkan oleh pelaku pasar dan investor adalah The Fed harus mengintervensi untuk menjaga imbal hasil untuk tetap rendah. Memang ada apa sih kalau imbal hasil obligasi mengalami kenaikkan? Karena apabila tingkat suku bunga riil naik lebih tinggi, tentu hal ini memberikan sebuah gambaran bahwa pertumbuhan perekonomian telah menjadi kenyataan, sehingga tentu saja pelaku pasar dan investor menjadi gelisah karena dikhawatirkan para pemangku kepentingan akan menghentikan stimulus lanjutan karena cost of fund pinjaman mengalami kenaikkan. Meskipun The Fed sendiri mengatakan bahwa mereka akan menjaga tingkat suku bunga untuk tetap rendah dan tetap melakukan pembelian obligasi. Namun pada kenyataannya, para pelaku pasar dan investor terus melakukan penjualan di pasar obligasi yang mendorong imbal hasil mengalami kenaikkan. Kenaikkan imbal hasil obligasi juga dikarenakan pelaku pasar dan investor menghargai adanya ekspektasi akan kenaikkan tingkat suku bunga karena perekonomian akan pulih lebih cepat. Distribusi vaksin dan prospek stimulus tambahan membuat pelaku pasar dan investor yakin, bahwa pemulihan ekonomi bukanlah hal yang halu. Karena itulah US Treasury 2y dan 5y mengalami kenaikkan, karena obligasi jangka pendek lebih mencerminkan tentang pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan ekspektasi. Tapi pertanyaannya adalah, seperti yang disampaikan oleh Powell. Data ketenagakerjaan dan inflasi masih berada di rentang bawah yang belum menggambarkan perekonomian dapat pulih tahun ini. Bahkan masih jauh dari kata pulih. Apakah hal tersebut mampu memberikan gambaran bahwa perekonomian akan pulih lebih awal? Mungkin saja. Karena adanya prospek pemulihan perekonomian yang lebih cepat itulah, tentu kenaikkan imbal hasil di Amerika akan mendorong penurunan terhadap asset asset yang lebih beresiko. Mata uang di pasar berkembang berpotensi akan menjadi turun lebih dalam, karena kekuatan Dollar yang semakin perkasa. Kenaikkan imbal hasil obligasi US Treasury ini menjadi sebuah point penting, karena ini sebetulnya juga sudah di ramalkan oleh Goldmand Sachs Group Inc yang dimana mereka mengatakan bahwa kenaikkan lebih dari 36point untuk imbal hasil obligasi 10y akan menyebabkan masalah bagi pasar saham di Amerika. Sedangkan kenaikkan US Treasury kemarin itu berada di posisi 40 point, lebih besar dari yang diperkirakan oleh Goldmand Sachs. Beberapa saham yang memiliki nilai besar, seperti Tesla memimpin penurunan, dan Nasdaq 100 pun turun sebanyak 3.7%. Yang di khawatirkan adalah apabila kenaikkan imbal hasil obligasi terus berlanjut tentu akan membuat pelaku pasar dan investor panic. Perekonomian secara fundamental masih belum pulih, namun stimulus di hentikan akan menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi pasar bahwa likuiditas akan mengering. Meskipun lagi lagi, The Fed mengatakan bahwa mereka memiliki tools untuk menangkal itu semua. Oleh sebab itu kekhawatiran boleh, tapi jangan berlebihan. Keep calm and tetap cuan. Nah pertanyaanya adalah, bagaimana dengan Indonesia sebagai negara Emerging Market? Sejauh ini kenaikkan US Treasury juga dikhawatirkan oleh beberapa negara lainnya, tidak terkecuali Indonesia. Kenaikkan imbal hasil obligasi Indonesia yang kian massive sebagai bagian dari spread premium terhadap US Treasury juga memberikan tekanan terhadap pasar obligasi yang mendorong obligasi mengalami kenaikkan. Sebagai informasi, obligasi Indonesia 10y saja sudah mengalami kenaikkan dari 6.05% menjadi 6.50%. Perbedaan 0.45% bukanlah angka yang ringan. Dan ketika kenaikkan obligasi lebih tinggi dari yang diperkirakan, ada beberapa yang melakukan intervensi untuk menjaga agar jangan sampai mengalami kenaikkan lebih tinggi. Lantas apakah kenaikkan imbal hasil obligasi juga merupakan sebuah bukti bahwa perekonomian akan menjadi lebih baik? Belum tentu, karena sebagai Emerging Market, biasanya pasar saham dan obligasi terkadang tidak selalu berkorelasi positive. Hal ini berbeda dengan negara maju, meskipun pengukuran harus tetap dilakukan untuk mengukur seberapa besar korelasinya. Dengan mata uang Indonesia terhadap Dollar yang masih dalam rentang positive, kami yakin Indonesia akan jauh lebih kuat sebagai negara Emerging Market. Yap, pada akhirnya alarm mulai berbunyi, hati hati, cermati setiap sentiment yang ada karena akan menjadi pengaruh bagi keputusan investasi kita.

2.STIMULUS TANPA HENTI, MANTAB!

Stimulus fiksal yang ditujukan untuk memperkuat pondasi perekonomian lewat UMKM cukup menarik perhatian pelaku pasar. Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia menyampaikan ada tiga kemudahan yang diberikan kepada UMKM untuk memulai usahanya di dalam negeri. Langkah tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Beleid ini merupakan aturan turunan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Pemerintah mengesahkan PP 7/2021 mulai berlaku per tanggal 3 Februari 2021. Adapun tiga kemudahan dan dukungan pemerintah pusat serta pemerintah daerah Pertama, kemudahan legalitas dalam hal pendirian perseroan terbatas bagi usaha menengah kecil (UMK), nomor induk berusaha (NIB) sebagai perizinan tunggal bagi UMKM, pembinaan pemenuhan standar produk dari pemerintah, dan pembebasan biaya perizinan bagi UMKM. Dengan kebijakan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses NIB menjadi 2 hingga 3 jam dengan fokus 64 juta UMK yang 50%nya berada pada sektor informal akan ditransformasikan guna mendapat akses ke perbankan. Sehingga hal tersebut memungkinkan adanya ekspansi bisnis dari pelaku UMKM. Kedua, kemudahan produksi dan pembiayaan. Pemerintah akan memberikan kemudahan pembiayaan dan permodalan, penyediaan bahan baku dan proses produksi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia UMKM. Hal ini memungkinkan pelaku UMKM dapat mengajukan pembiayaan meskipun baru memiliki NIB. Lewat PP 7/2021 pemerintah memberikan jaminan dalam belanja negara wajib ambil dari UMKM sekurang-kurangnya 40%. Ketiga, kemudahan pemasaran dan pasca produksi. Caranya dengan alokasi 30% dari lahan komersial, tempat perbelanjaan, dan infrastruktur diberikan kepada UMKM dengan alokasi minimal 40% pengadaan barang dan jasa pemerintah untuk produk UMKM. Komitemen tersebut tentu diperlukan guna mendukung pelaku usaha UMK dapat bertumbuh, sehingga dapat mendukung ekspansi yang juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.