ANALIS MARKET (24/11/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, setelah sebelumnya pelaku pasar dan investor gegap gempita seusai Powell kembali melanjutkan periode babak 2, kali ini pelaku pasar dan investor akan dibuat menantikan sesuatu yang penting dalam 2 hari kedepan dari hari ini. Apakah itu?

Ternyata pertemuan Bank Sentral Selandia Baru yang diadakan hari ini, yang dimana konon katanya dalam pertemuan tersebut, Bank Sentral Selandia Baru akan menaikkan tingkat suku bunga. Dan tidak menutup kemungkinan bukan 25 bps yang naik, tapi hingga 50 bps. Wow! Apakah ini lagi lagi gebrakan dari Bank Sentral Selandia Baru. Daripada penasaran, lebih baik waktu yang akan menjawabnya.

Nah yang tak disangka, pertemuan Bank Sentral Korea Selatan juga berpotensi menaikkan tingkat suku bunga. Hal ini memberikan kita semuan gambaran pemirsa, bahwa tampaknya seluruh Bank Sentral di seluruh dunia, mulai bersiap untuk bertindak atau sudah bertindak untuk menghadapi inflasi, khususnya tahun depan yang dimana inflasi di proyeksikan mengalami kenaikkan.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan melemah dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (24/11/2021).

Adapun kisah hari ini akan kita awali dari;

1.ANTARA KOREA DAN SELANDIA

Pelaku pasar dan investor tampaknya cukup menantikan nih pemirsa, pertemuan Bank Sentral Korea yang akan dilakukan pada esok hari. Yang dimana konon katanya, dalam pertemuan Bank Sentral Korea tersebut, Bank Sentral Korea akan menaikkan tingkat suku bunganya, lagi! Bahkan untuk kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan. Wow bingits kan! Bank Sentral Korea akan kembali menaikkan tingkat suku bunga dengan alasan inflasi yang terus mengalami kenaikkan, diikuti dengan harga property yang mengalami lonjakan. Saat ini hampir semua consensus menyebutkan bahwa pertemuan Bank Sentral Korea esok hari akan menaikkan kembali tingkat suku bunga sebanyak 25 bps menjadi 1%. Seruan untuk menaikkan tingkat suku bunga tersebut datang langsung dari Gubernur Bank Sentral Korea, Lee Ju-yeol pada bulan lalu yang dimana mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat suku bunga. Korea Selatan merupakan garda terdepan dalam poros global untuk memulai langkah pertama dalam pengurangan stimulus karena inflasi yang bertahan lebih lama daripada yang diperkirakan, yang dimana inflasi tersebut ditopang oleh gangguan rantai pasokan. Sejauh ini kenaikkan tingkat suku bunga pada bulan Agustus silam terlihat cukup baik, hal ini memberikan keyakinan yang lebih besar dalam melewati masa transisi dalam normalisasi kebijakan. Kunci bagi Bank Sentral Korea dalam menaikkan tingkat suku bunganya adalah prospek perekonomian pada tahun 2022 mendatang yang mengalami revisi, namun demikian secara proyeksi inflasi akan mengalami kenaikkan pada tahun 2022 menjadi 2.1%. Saat ini potensi kenaikkan tingkat suku bunga dapat berlanjut, tergantung dari proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi dari Bank Sentral Korea khususnya menjelang tahun 2022 mendatang. Jika Bank Sentral Korea melihat inflasi akan melewati 2% pada tahun depan, tidak akan menutup kemungkinan bagi Bank Sentral Korea untuk melakukan kenaikkan tingkat suku bunga lebih lanjut. Beberapa proyeksi menggambarkan hal ini, bahwa ada potensi tingkat suku bunga mengalami kenaikkan menjadi 1.25% pada tahun 2022 mendatang ditengah akan inflasi yang terus mengalami kenaikkan secara konsisten. Pada risiko keuangan, pertumbuhan pinjaman rumah tangga terlihat mengalami kenaikkan didukung oleh biaya pinjaman yang lebih tinggi diikuti dengan langkah langkah makroprudensial. Namun kenaikkan harga property jauh lebih sulit dikendalikan menurut kami. Setelah dari Bank Sentral Korea, kita bergeser sedikit ke Selandia Baru. Bank Sentral Selandia baru sendiri juga diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga pada pertemuan Bank Sentral yang akan diadakan hari ini lho pemirsa. Sebagai bagian dari antisipasi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed, Bank Sentral akan menaikkan tingkat suku bunga dalam 2 bulan berturut turut, dan menandakan siklus pengetatan yang lebih agresif untuk menahan inflasi ditengah kurangnya ketenagakerjaan. Bank Sentral diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga menjadi 25% pada pertemuan hari ini lho, dan tidak menutup kemungkinan Bank Sentral Selandia Baru akan menaikkan kembali tingkat suku bunga dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Bank Bank Sentral di seluruh dunia, tampaknya melihat inflasi menjadi sesuatu yang harus dikendalikan pada tahun depan, karena situasi dan kondisi inflasi yang tidak kunjung mengalami penurunan. Inflasi Selandia Baru saat ini berada di 4.9%, jauh dari target mereka yang berada di 1% - 3%. Potensi kenaikkan pada pertemuan hari ini mungkin akan berkisar 25 – 50 bps lho pemirsa, ini akan menjadi sebuah gebrakan pertama yang tidak main main bagi Bank Sentral apabila menaikkan tingkat suku bunga langsung 50 bps. Harga property sendiri di Selandia Baru mengalami kenaikkan lebih dari 30%, yang dimana mendorong Bank Sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga lebih besar dari sebelumnya. Well, semua berbondong bondong menaikkan tingkat suku bunga, mungkin sebagai bagian dari head of the curve. Alih alih mengatasnamakan inflasi, mungkin kekhawatiran musim taper tantrum yang terjadi lebih cepat, juga ikut mendorong tingkat suku bunga mengalami kenaikkan.