ANALIS MARKET (26/11/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Mengalami Kenaikan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, Setelah selandia baru, akhirnya Bank Sentral Korea Selatan juga mengikuti langkah yang sama pemirsa.

Ditengah potensi inflasi yang terus mengalami kenaikkan, kami melihat peluang yang begitu besar bagi Bank Sentral Korea Selatan untuk mengalami kenaikkan.

Kenaikkan ini kami melihatnya akan terus berlanjut sebelum Gubernur Bank Sentral Korea Selatan turun dari singgasananya.

Namun sikap yang kurang yakin, menunjukkan kebimbangan tersendiri bagi pelaku pasar dan investor akan sikap Bank Sentral di masa depan, khususnya ketika Lee tidak lagi menjabat sebagai Gubernur nanti.

Sejauh ini, beberapa Bank Sentral yang menaikkan tingkat suku bunganya, mulai terlihat konsisten dengan menaikkan tingkat suku bunganya secara berkala.

Bahkan bagi Korea Selatan dan Selandia Baru, ini merupakan yang ke 2x-nya menaikkan tingkat suku bunga tahun ini. Apakah ini sebagai bagian dari antisipasi inflasi? Atau sebagai langkah dalam menghadapi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed?

Well, masih penasaran kan dengan kelanjutan aksi dari berbagai Bank Sentral, yuk kita ikuti terus perkembangannya.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka naik dengan potensi mengalami kenaikan dengan rentang maksimum 60bps. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (26/11/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.ANNYEONGHASEYO

Pada akhirnya, untuk ke dua kalinya pemirsa, Gubernur Bank Sentral Korea, Lee Ju Yeol menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 25 bps pada pertemuan yang diadakan pada hari Kamis (25/11) kemarin. Gubernur Bank Sentral Korea Lee Ju Yeol mengatakan bahwa pengetatan lanjutan mungkin akan kembali terjadi karena adanya risiko inflasi yang terus meningkat dalam pemulihan ekonomi. Bank Sentral merevisi proyeksi inflasi menjadi 2.3% untuk tahun ini dan 2% untuk tahun 2022. Ada potensi harga akan mengalami kenaikkan sesuai dengan target yang ditetapkan. Dengan naiknya tingkat suku bunga, kebijakan tingkat suku bunga saat ini masih dapat dikatakan dibawah level netral, suku bunga riil masih dalam posisi negative, ditambah dengan likuiditas yang cukup besar. Sehingga wajar rasanya apabila Bank Sentral Korea Selatan menormalkan tingkat suku bunga, karena ada potensi ekonomi akan pulih. Imbal hasil obligasi Korea justru turun ketika Bank Sentral menaikkan tingkat suku bunganya, disusul dengan kenaikkan futures karena Gubernur sendiri tidak memberikan kejelasan terkait dengan kapan tanggal berikutnya mengalami kenaikkan. Sementara itu, Lee sendiri mengesampaikan perubahan pada Q1 pada tahun 2022 mendatang, terkesan kurang hawkish daripada yang dapat diantisipasi oleh investor. Salah satu dari 7 anggota Bank Sentral mengatakan tidak setuju dengan keputusan Bank Sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga kemarin. Sebagian besar keputusan tersebut lebih kepada pemungutan suara. Bank Sentral Korea Selatan sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak memberikan kejelasan lebih lanjut, kapan tingkat suku bunga akan dinaikkan, karena kenaikkan tingkat suku bunga selanjutnya akan bergantung terhadap perekonomian dan tidak menentukan waktu yang tepat selanjutnya. Bank Sentral Korea sendiri mulai melakukan pengetatan kebijakan moneter pada bulan August silam, dimana fokusnya lebih kepada pengendalian ketidakseimbangan lembaga keuangan, namun komentar Lee pada hari Kamis menjelaskan bahwa inflasi mungkin akan terus mengalami kenaikkan dan akan menjadi sebuah penanda bagi Bank Sentral Korea untuk melakukan sebuah kebijakan. Bank Sentral Korea sendiri mempertahankan proyeksi tingkat pertumbuhan ekonominya pada tahun ini sebesar 4% dan 3% untuk tahun 2022 mendatang. Bank Sentral di seluruh dunia sedang bergulat dengan tekanan harga yang terus mengalami kenaikkan, sehingga mendorong inflasi dan dapat menggangu prospek pemulihan ekonomi. Lee sendiri mengatakan bahwa hambatan pasokan global dan meningkatnya ekspektasi inflasi dapat mendorong kenaikkan harga yang lebih lanjut didalam perekonomian. Langkah langkah kebijakan The Fed akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank Sentral Korea, namun situasi dan kondisi domestic akan tetap menjadi prioritas. Pasar Swap sendiri memproyeksikan bahwa tingkat suku bunga akan mengalami kenaikkan lebih dari 1.75% pada tahun depan, dengan potensi kenaikkan terendah adalah 1.25% pada akhir tahun 2022. Situasi dan kondisi kian tidak pasti terkait pemulihan ekonomi masih kerap terjadi, apalagi jumlah kasus harian terus mengalami peningkatan. Gubernur Lee sekarang memiliki potensi untuk membuat keputusan sebanyak 2x lagi sebelum Lee mengundurkan diri pada bulan Maret 2022 mendatang. Proyeksi apakah Lee akan menaikkan tingkat suku bunga atau tidak, itu tergantung dari bagaimana sikap Lee kedepannya. Mungkin saja Lee akan tetap menjadi Gubernur Bank Sentral, namun apapun itu, situasi dan kondisi tidak ada yang pasti.