ANALIS MARKET (03/12/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, di pasar obligasi, penurunan mungkin akan terjadi lebih dalam hari ini, mungkin akan tercipta rebound.

Kekhawatiran masih akan menyelimuti pasar, tatkala situasi dan kondisi masih belum ada perubahan dibandingkan yang kemarin atau dalam kurun waktu 1 minggu ini.

Pasar obligasi dengan imbal hasil 10y terus menuju ke titik rendahnya yaitu 6.3%, dan ini akan menjadi sebuah tanda apabila imbal hasil obligasi menyentuh 6.25%, beli menjadi pilihan.

Mengapa demikian? Karena biasanya, pasar akan kembali rebound dalam rentang harga segini.

Oleh sebab itu, kami melihat ada potensi trading jangka pendek saat ini, dengan terfokus terhadap pola dari pergerakan imbal hasil obligasi yang terjadi di pasar.

Tidak hanya itu saja, bulan yang penuh dengan harapan ini seharusnya benar-benar menjadi harapan bagi pelaku pasar dan investor juga kedepannya. Namun ketidakpastian akan memberikan tekanan yang lebih besar, dan tentu saja impiannya adalah dapat menutup akhir tahun dengan yang manis.

Sejauh ini, inflasi masih menjadi momok, tapi bagi negara maju. Bagi Indonesia sendiri inflasi, yang berada di bawah 2%, masih amat sangat rendah. Oleh sebab itu, harapannya justru inflasi bisa terjadi di Indonesia untuk mendorong daya beli dan meningkatnya konsumsi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi.

Yuk kita lihat dan nantikan apa yang akan terjadi kedepannya.

“Pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (03/12/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.AKHIRNYA

Setelah diskusi yang cukup panjang dan melelahkan, pada akhirnya OPEC dan sekutunya setuju untuk mengikuti meningkatnya permintaan dari konsumen dengan menaikkan produksi minyak sesuai dengan yang dijadwalkan sebelumnya. Namun demikian, mereka juga akan kembali meninjau keputusan itu setiap saat karena ada ketidakpastian di pasar. OPEC setuju untuk menambah 400.000 barel per hari minyak mentah ke dalam pasar global pada bulan January mendatang, sebuah langkah yang seharusnya bisa menyenangkan negara negara yang cukup khawatir dengan kenaikkan harga minyak, salah satunya Amerika. Namun demikian, kartel juga tidak membiarkan pintu terbuka begitu saja untuk mengubah rencana dalam waktu yang singkat. Hal disebabkan karena adanya terkait variant baru Omicron diikuti dengan pelepasan cadangan bahan bakar darurat yang pertama kali dilakukan oleh Amerika. Untuk menghormati Amerika meskipun harganya menjadi turun, OPEC akan tetap pada rencananya. Apabila Omicron nanti akan merusak permintaan dunia, maka beberapa aliansi yang ada harus segera di longgarkan untuk melindungi harga minyak yang telah mengalami kenaikkan. Namun Pelaku pasar dan investor ternyata berkehendak lain. Apabila pasokan ditambah, tentu saja akan mendorong harga minyak kembali mengalami penurunan. Dan bagi pelaku pasar dan investor, mereka mengharapkan bahwa seharusnya OPEC menunda kenaikkan pasokan karena saat ini trend harga minyak tengah dalam penurunan. Tapi kalau kita perhatikan pemirsa, bahwa keputusan mengenai hal tersebut juga tidak lepas dari politik yang terjadi, khususnya dorongan dan tekanan dari Amerika untuk memastikan pasokan tetap terjaga ditengah adanya lonjakan harga minyak yang menyebabkan inflasi bagi berbagai negara maju. Hal inilah yang membuat banyak negara negara akhirnya mendorong kenaikkan supply yang terjadi di pasar. Juru bicara White House mengatakan bahwa, Amerika sangat menghargai koordinasi yang sangat erat dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir dengan Arab Saudi, UEA, dan produsen OPEC+ lainnya untuk membantu mengatasi tekanan harga minyak. Bersama dengan rilis terkoordinasi kami, Amerika percaya bahwa ini akan membantu memfasilitas pemulihan ekonomi global. Sebuah pesan yang menggambarnya ketenangan mungkin pemirsa, bahwa pada akhirnya harga minyak dapat dikendalikan atau bahkan turun. Sehingga menjaga inflasi tetap terjaga. Sejauh ini kami melihat Komunike OPEC+ tetap berlangsung memberikan pesan bahwa OPEC+ sendiri telah siap apabiila melakukan penambahan atau pemotongan untuk menyesuaikan situasi dan kondisi yang terjadi di pasar. Inflasi masih akan menjadi sebuah acuan dalam membuat keputusan. Kami melihat bahwa sejauh ini para pelaku pasar dan investor juga tengah berspekulasi terhadap potensi kenaikkan tingkat suku bunga yang diakibatkan oleh meningkatnya inflasi. Mungkin bisa saja terjadi tahun depan atau bahkan mungkin bisa lebih awal mengingat tekanan inflasi tetap ada dan konsisten, namun yang menjadi perhatian adalah bagaimana The Fed dan Pemerintah Amerika dapat menciptakan sinergi satu sama lain untuk membuat keputusan yang memiliki visi yang sama. Hal ini menjadi penting, karena duet maut Yellen dan Powell harus tercipta untuk memberikan dorongan lingkungan yang kondusif terhadap pemulihan ekonomi yang dimana ada ketidakpastian terjadi di pasar. Saat ini kami melihat volatilitas index masih terus mengalami peningkatan. Ketidakpastian akan tercipta dalam beberapa bulan mendatang, dan kalau kita berkaca terhadap siklus, bulan December selalu bulan yang penuh dengan harapan. Apakah mungkin Omicron akan mengubah itu menjadi bulan yang penuh dengan keputusasaan? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.