ANALIS MARKET (24/11/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, Pada perdagangan hari Selasa, 23/11/2021, IHSG ditutup melemah 45 poin atau 0,68% menjadi 6.677. Sektor transportation & logistic, financial, properties&Real Estate, techonology, basic material, cosumer non cyclicals, healthcare,dan consumer cyclicals bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar IDR92 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada 6.621 – 6.732,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (24/11/2021).

Adapun kisah hari ini akan kita awali dari;

1.ANTARA KOREA DAN SELANDIA

Pelaku pasar dan investor tampaknya cukup menantikan nih pemirsa, pertemuan Bank Sentral Korea yang akan dilakukan pada esok hari. Yang dimana konon katanya, dalam pertemuan Bank Sentral Korea tersebut, Bank Sentral Korea akan menaikkan tingkat suku bunganya, lagi! Bahkan untuk kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan. Wow bingits kan! Bank Sentral Korea akan kembali menaikkan tingkat suku bunga dengan alasan inflasi yang terus mengalami kenaikkan, diikuti dengan harga property yang mengalami lonjakan. Saat ini hampir semua consensus menyebutkan bahwa pertemuan Bank Sentral Korea esok hari akan menaikkan kembali tingkat suku bunga sebanyak 25 bps menjadi 1%. Seruan untuk menaikkan tingkat suku bunga tersebut datang langsung dari Gubernur Bank Sentral Korea, Lee Ju-yeol pada bulan lalu yang dimana mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat suku bunga. Korea Selatan merupakan garda terdepan dalam poros global untuk memulai langkah pertama dalam pengurangan stimulus karena inflasi yang bertahan lebih lama daripada yang diperkirakan, yang dimana inflasi tersebut ditopang oleh gangguan rantai pasokan. Sejauh ini kenaikkan tingkat suku bunga pada bulan Agustus silam terlihat cukup baik, hal ini memberikan keyakinan yang lebih besar dalam melewati masa transisi dalam normalisasi kebijakan. Kunci bagi Bank Sentral Korea dalam menaikkan tingkat suku bunganya adalah prospek perekonomian pada tahun 2022 mendatang yang mengalami revisi, namun demikian secara proyeksi inflasi akan mengalami kenaikkan pada tahun 2022 menjadi 2.1%. Saat ini potensi kenaikkan tingkat suku bunga dapat berlanjut, tergantung dari proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi dari Bank Sentral Korea khususnya menjelang tahun 2022 mendatang. Jika Bank Sentral Korea melihat inflasi akan melewati 2% pada tahun depan, tidak akan menutup kemungkinan bagi Bank Sentral Korea untuk melakukan kenaikkan tingkat suku bunga lebih lanjut. Beberapa proyeksi menggambarkan hal ini, bahwa ada potensi tingkat suku bunga mengalami kenaikkan menjadi 1.25% pada tahun 2022 mendatang ditengah akan inflasi yang terus mengalami kenaikkan secara konsisten. Pada risiko keuangan, pertumbuhan pinjaman rumah tangga terlihat mengalami kenaikkan didukung oleh biaya pinjaman yang lebih tinggi diikuti dengan langkah langkah makroprudensial. Namun kenaikkan harga property jauh lebih sulit dikendalikan menurut kami. Setelah dari Bank Sentral Korea, kita bergeser sedikit ke Selandia Baru. Bank Sentral Selandia baru sendiri juga diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga pada pertemuan Bank Sentral yang akan diadakan hari ini lho pemirsa. Sebagai bagian dari antisipasi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed, Bank Sentral akan menaikkan tingkat suku bunga dalam 2 bulan berturut turut, dan menandakan siklus pengetatan yang lebih agresif untuk menahan inflasi ditengah kurangnya ketenagakerjaan. Bank Sentral diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga menjadi 25% pada pertemuan hari ini lho, dan tidak menutup kemungkinan Bank Sentral Selandia Baru akan menaikkan kembali tingkat suku bunga dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Bank Bank Sentral di seluruh dunia, tampaknya melihat inflasi menjadi sesuatu yang harus dikendalikan pada tahun depan, karena situasi dan kondisi inflasi yang tidak kunjung mengalami penurunan. Inflasi Selandia Baru saat ini berada di 4.9%, jauh dari target mereka yang berada di 1% - 3%. Potensi kenaikkan pada pertemuan hari ini mungkin akan berkisar 25 – 50 bps lho pemirsa, ini akan menjadi sebuah gebrakan pertama yang tidak main main bagi Bank Sentral apabila menaikkan tingkat suku bunga langsung 50 bps. Harga property sendiri di Selandia Baru mengalami kenaikkan lebih dari 30%, yang dimana mendorong Bank Sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga lebih besar dari sebelumnya. Well, semua berbondong bondong menaikkan tingkat suku bunga, mungkin sebagai bagian dari head of the curve. Alih alih mengatasnamakan inflasi, mungkin kekhawatiran musim taper tantrum yang terjadi lebih cepat, juga ikut mendorong tingkat suku bunga mengalami kenaikkan.

2.SEBUAH POTENSI

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV menjadi perhatian pelaku pasar dimana momentum pertumbuhan yang berlanjut menjadi harapan saat ini. Surplus neraca perdagangan yang terus melanjutkan trennya didukung oleh beberapa kinerja harga komoditas seperti bahan bakar mineral, minyak dan lemak hewan nabati, serta besi dan baja. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV 2021 masih berada pada tren pertumbuhan dimana kinerja ekspor menjadi penopang dari pertumbuhan tersebut. Kinerja ekonomi diperkirakan meningkat pada kuartal IV/2021 didukung oleh kinerja ekspor, kenaikan belanja fiskal pemerintah, maupun peningkatan konsumsi dan investasi. Jika mengacu pada data historis, PDB kuartal III 2021 dapat dikatakan jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Kenaikan tren ekspor juga tercermin dari sejumlah indikator seperti retail sales, consumer confidence dan consumer spending yang saat ini telah berada di atas 50. Sementara itu, impor barang bahan baku dan barang modal juga menunjukkan kenaikan dan diharapkan akan digunakan untuk berproduksi sehingga ke depan pemulihan akan semakin membaik. Bank sentral mencatat pada awal kuartal IV/2021 kinerja neraca perdagangan tetap baik dengan surplus mencapai US$5,7miliar pada Oktober 2021, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Perkembangan ini didukung oleh kinerja ekspor komoditas utama, seperti batu bara, minyak sawit mentah, serta besi dan baja. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2021 mencapai kisaran 5% hingga 6% untuk mencapai target pertumbuhan tersebut sangat dimungkinkan, mengingat beberapa indikator perekonomian mulai mencatatkan perkembangan yang positif. Pada kuartal III/2021, seluruh komponen pengeluaran PDB Indonesia tercatat positif, termasuk konsumsi rumah tangga dan investasi. Pada kuartal IV/2021, pemerintah optimistis pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan kembali meningkat tinggi, hal tersebut tercermin dari indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang kembali meningkat ke zona optimis, sebesar 113,4 pada Oktober 2021.