ANALIS MARKET (26/11/2021) : IHSG Berpeluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 25/11/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 16 poin atau 0,24% menjadi 6.699. Sektor transportation & logistic, infrastructures, industrial, healthcare, financials, energy, dan basic materials bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan penjualan bersih sebesar Rp 48 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada 6.650 – 6.730,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (26/11/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.ANNYEONGHASEYO

Pada akhirnya, untuk ke dua kalinya pemirsa, Gubernur Bank Sentral Korea, Lee Ju Yeol menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 25 bps pada pertemuan yang diadakan pada hari Kamis (25/11) kemarin. Gubernur Bank Sentral Korea Lee Ju Yeol mengatakan bahwa pengetatan lanjutan mungkin akan kembali terjadi karena adanya risiko inflasi yang terus meningkat dalam pemulihan ekonomi. Bank Sentral merevisi proyeksi inflasi menjadi 2.3% untuk tahun ini dan 2% untuk tahun 2022. Ada potensi harga akan mengalami kenaikkan sesuai dengan target yang ditetapkan. Dengan naiknya tingkat suku bunga, kebijakan tingkat suku bunga saat ini masih dapat dikatakan dibawah level netral, suku bunga riil masih dalam posisi negative, ditambah dengan likuiditas yang cukup besar. Sehingga wajar rasanya apabila Bank Sentral Korea Selatan menormalkan tingkat suku bunga, karena ada potensi ekonomi akan pulih. Imbal hasil obligasi Korea justru turun ketika Bank Sentral menaikkan tingkat suku bunganya, disusul dengan kenaikkan futures karena Gubernur sendiri tidak memberikan kejelasan terkait dengan kapan tanggal berikutnya mengalami kenaikkan. Sementara itu, Lee sendiri mengesampaikan perubahan pada Q1 pada tahun 2022 mendatang, terkesan kurang hawkish daripada yang dapat diantisipasi oleh investor. Salah satu dari 7 anggota Bank Sentral mengatakan tidak setuju dengan keputusan Bank Sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga kemarin. Sebagian besar keputusan tersebut lebih kepada pemungutan suara. Bank Sentral Korea Selatan sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak memberikan kejelasan lebih lanjut, kapan tingkat suku bunga akan dinaikkan, karena kenaikkan tingkat suku bunga selanjutnya akan bergantung terhadap perekonomian dan tidak menentukan waktu yang tepat selanjutnya. Bank Sentral Korea sendiri mulai melakukan pengetatan kebijakan moneter pada bulan August silam, dimana fokusnya lebih kepada pengendalian ketidakseimbangan lembaga keuangan, namun komentar Lee pada hari Kamis menjelaskan bahwa inflasi mungkin akan terus mengalami kenaikkan dan akan menjadi sebuah penanda bagi Bank Sentral Korea untuk melakukan sebuah kebijakan. Bank Sentral Korea sendiri mempertahankan proyeksi tingkat pertumbuhan ekonominya pada tahun ini sebesar 4% dan 3% untuk tahun 2022 mendatang. Bank Sentral di seluruh dunia sedang bergulat dengan tekanan harga yang terus mengalami kenaikkan, sehingga mendorong inflasi dan dapat menggangu prospek pemulihan ekonomi. Lee sendiri mengatakan bahwa hambatan pasokan global dan meningkatnya ekspektasi inflasi dapat mendorong kenaikkan harga yang lebih lanjut didalam perekonomian. Langkah langkah kebijakan The Fed akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank Sentral Korea, namun situasi dan kondisi domestic akan tetap menjadi prioritas. Pasar Swap sendiri memproyeksikan bahwa tingkat suku bunga akan mengalami kenaikkan lebih dari 1.75% pada tahun depan, dengan potensi kenaikkan terendah adalah 1.25% pada akhir tahun 2022. Situasi dan kondisi kian tidak pasti terkait pemulihan ekonomi masih kerap terjadi, apalagi jumlah kasus harian terus mengalami peningkatan. Gubernur Lee sekarang memiliki potensi untuk membuat keputusan sebanyak 2x lagi sebelum Lee mengundurkan diri pada bulan Maret 2022 mendatang. Proyeksi apakah Lee akan menaikkan tingkat suku bunga atau tidak, itu tergantung dari bagaimana sikap Lee kedepannya. Mungkin saja Lee akan tetap menjadi Gubernur Bank Sentral, namun apapun itu, situasi dan kondisi tidak ada yang pasti.

2.TEKNOLOGI UNJUK GIGI

Akselerasi pertumbuhan dari teknologi dinilai dapat mempercepat proses pemulihan bagi industry. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 akan mencapai 4,7% hingga 5,5%, dari 3,2% hingga 4,0% pada tahun 2021. Pertumbuhan tersebut didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global yang berdampak pada kinerja ekspor yang tetap kuat, serta meningkatnya permintaan domestik dari kenaikan konsumsi dan investasi. Bank Indonesia memperkirakan transaksi e-commerce pada tahun 2022 mencapai Rp 530 triliun. Perkembangan ekonomi dinilai akan ditopang oleh keuangan digital yang saat ini semakin meningkat. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi tahun 2021 yang mencapai Rp 403 triliun. Bank Indonesia memproyeksikan transaksi uang elektronik akan mencapai Rp 337 triliun naik dari proyeksi tahun 2021 yang mencapai Rp 289 triliun. Transaksi perbankan digital tahun depan diprediksi meningkat cukup signifikan hingga sekitar 20 persen tahun depan seiring perkembangan teknologi yang pesat di Tanah Air. Bank Indonesia memperkirakan transaksi digital banking mencapai Rp 40.000 triliun rupiah pada 2021 dan meningkat menjadi Rp 48.000 triliun rupiah pada 2022. Hal tersebut didukung oleh akselerasi pemangunan infrastruktur keuangan yaitu QRIS, SNAP dan BI-FAST yang akan diperluas untuk semua bank dalam melayani transaksi nasabah dengan skema harga yang telah disederhanakan agar biaya transaksi murah bagi masyarakat, sehingga hal tersebut dapat mendorong pertumbuhan industry. Selain itu, rencana penerbitan rupiah digital juga saat ini sedang dipersiapkan oleh bank sentral guna mendukung alat pembayaran yang sah. Bank Indonesia menargetkan perluasan akseptasi QRIS menjadi 15 juta pengguna pada 2022.