ANALIS MARKET (30/11/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin, 29/11/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 46 poin atau 0,71% menjadi 6.608. Sektor infrastructures, transportation & logistic, financials, healthcare, industrials, technology, dan energy bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan penjualan bersih sebesar Rp1.170 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada 6.543 – 6.692. Hati hati ya, karena badai belum berlalu,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (30/11/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.SEBUAH POLEMIK

Ditengah gegap gempitanya Omicron, IHSG justru mendapatkan sebuah kekuatan baru dari pesan yang kuat Presiden Jokowi dengan mengatakan bahwa UU Cipta Kerja dan seluruh aturan turunannya masih berlaku. Dia menyebut Mahkamah Konstitusi memberi waktu dua tahun bagi pemerintah dan DPR untuk memperbaiki aturan tersebut. Dengan dinyatakan masih berlakunya UU Cipta Kerja oleh Mahkamah Konstitusi, maka seluruh materi dan substansi dalam UU Cipta Kerja dan aturan sepenuhnya tetap berlaku tanpa ada satu pasal pun yang dibatalkan atau dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Konstitusi," kata Presiden Jokowi di Istana Merdeka kemarin. Tidak hanya itu saja lho, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah dan DPR akan melakukan revisi UU Cipta Kerja. Airlangga mengatakan revisi UU Cipta Kerja ini akan masuk dalam Program Legislasi Nasional DPR di tahun 2022. Sehingga hal ini menyebabkan meskipun selama masa perbaikan, aturan dan substansi hukum yang berada di dalam UU Cipta Kerja tetap berlaku. Dan yang terpenting adalah Presiden Jokowi menyampaikan bahwa seluruh investasi yang sudah berjalan atau sedang diproses tetap bisa dilanjutkan. Presiden Jokowi juga menyatakan pemerintah menjamin keamanan berinvestasi. Hal ini yang memberikan pelaku pasar dan kepastian bahwa Undang Undang Cipta Kerja tetap berlaku sehingga memberikan keyakinan akan investasi di masa yang akan datang. Sehingga booster inilah yang mendorong IHSG juga mengalami penguatan tatkala regional Asia mengalami pelemahan. Kuat saja tidak cukup tenyata pemirsa, kudu ada vitamin penolak bala. Bahkan sekelas Omicron saja bisa kalah lawan UU Cipta Kerja lho, dan ini menjadi sesuatu yang baik, karena IHSG tidak lagi hanya bersandar terhadap sentiment dari luar negeri. Nah ditengah kehadiran Omicron karena tadi kita sempat membahas Omicron, ternyata Powell pun juga gatal untuk ikut berkomentar. Powell dalam pernyataan public pertamanya mengatakan bahwa Omicron akan menimbulkan risiko bagi kedua sisi untuk misi Bank Sentral. Kedua misi itu adalah, mencapai harga yang stabil dan lapangan kerja yang maksimal. Peningkatkan kasus Covid 19 yang muncul dalam akhir akhir ini ditambah lagi kehadiran Omicron akan mendorong risiko penurunan terhadap pekerjaan dan aktivitas ekonomi, serta mendorong ketidakpastian inflasi. Peningkatan kekhawatiran mengenai virus akan membuat masyarakat akan enggan untuk kembali bekerja secara langsung, memperlambat pemulihan pasar tenaga kerja, dan meningkatkan gangguan pada rantai pasokan kedepannya. Sejauh ini Powell tidak membahas mengenai rentan Taper Tantrum yang dipercepat kemarin atau ada tanda tanda perubahan kebijakan moneter. Bankir di Bank Sentral pun tampaknya sedang berusaha untuk mengenali ketidakpastian baru tersebut yang timbul akibat Omicron. Powell mengatakan bahwa meskipun pertumbuhan lapangan kerja begitu kuat tahun ini, namun The Fed menginginkan kemajuan yang berkelanjutan. Powell mengingatkan bahwa begitu banyak proyeksi terkait dengan inflasi yang diperkirakan akan mengalami penurunan tahun depan yang dikarenakan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan mereda. Sejauh ini sulit untuk memprediksi keberlanjutan dan dampak dan pasokan yang terganggu, namun ini akan menjadi factor pendorong inflasi pada tahun mendatang. The Fed sendiri kemungkinan besar akan membahas nih pemirsa, terkait dengan potensi percepatan pengurangan laju pembelian obligasi dalam pertemuan The Fed pada bulan December. Apalagi Presiden Fed Atlanta mengatakan bahwa dirinya sangat terbuka untuk mempercepat taper tantrum usai. Selanjutnya apa nih yang kita tunggu? Powell bersama Yellen akan bertemu dengan Yellen hari ini pukul 10 pagi. Keduanya akan akan menghadiri siding terkait dengan pengawasan parlement terhadap stimulus. Well, apakah pagi ini pasar akan menguat kembali? Mungkin saja dengan tingkat probabilitas diatas 55%. Tidak hanya Indonesia lho, tapi berbagai belahan negara di tempat lain tampaknya juga akan pulih karena Omicron tampaknya hanya sebatas angin lalu. Benarkah begitu?

2.PROYEKSI DAN EKSPEKTASI

Tingkat inflasi pada tahun depan diproyeksikan lebih tinggi dibanding tahun ini. Kenaikan tersebut seiring dengan pemulihan ekonomi domestic dan penanganan pandemi di global yang dapat lebih baik pada tahun depan. Terdapat beberapa factor yang dinilai dapat memicu kenaikan inflasi pada tahun depan, kami melihat kenaikan harga energi yang dinilai akan berdampak pada naiknya biaya produksi. Selain itu, kenaikan inflasi juga telah terlihat pada pelonggaran aktivitas dan naiknya kegiatan ekonomi di negara – negara maju yang telah berdampak pada naiknya inflasi. Pemulihan ekonomi yang lebih cepat telah mendorong ekonomi negara maju kembali ekspansi di tengah pandemic yang masih berlangsung. Namun dilain sisi, negara berkembang masih berupaya untuk memulihkan daya beli dan juga menangani pandemic agar tidak berkelanjutan. Menghadapi tapering pada tahun depan, risiko depresiasi nilai tukar juga dinilai dapat mendorong naiknya inflasi lebih cepat. Hal tersebut seiring dengan ganguan produksi dalam negeri dimana naiknya impor bahan baku dapat mendorong kenaikan inflasi lebih cepat. Jika mengacu pada kontributor utama inflasi saat ini, inflasi inti masih tergolong rendah dan belum terjadi kenaikan yang signifikan. Buruknya factor cuaca menjelang awal tahun dinilai akan memberikan dampak pada fluktuasi harga pakan yang tentunya dapat memberikan kenaikan inflasi non inti. Selain itu kebijakan dari kenaikan PPN pada tahun depan dinilai dapat ikut menurunkan kemampuan masayarakat dalam daya beli dimana hal tersebut menjadi tantangan di tengah pemulihan ekonomi yang saat ini sedang berlangsung.