ANALIS MARKET (03/12/2021) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 02/12/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 76 poin atau 1,17% menjadi 6.583. Sektor indutrial, energy, financials, healthcare, infrastructures, consumer cylicals, consume non cylicals, dan basic material bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar Rp77 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada 6.485 – 6.650,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (03/12/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.AKHIRNYA

Setelah diskusi yang cukup panjang dan melelahkan, pada akhirnya OPEC dan sekutunya setuju untuk mengikuti meningkatnya permintaan dari konsumen dengan menaikkan produksi minyak sesuai dengan yang dijadwalkan sebelumnya. Namun demikian, mereka juga akan kembali meninjau keputusan itu setiap saat karena ada ketidakpastian di pasar. OPEC setuju untuk menambah 400.000 barel per hari minyak mentah ke dalam pasar global pada bulan January mendatang, sebuah langkah yang seharusnya bisa menyenangkan negara negara yang cukup khawatir dengan kenaikkan harga minyak, salah satunya Amerika. Namun demikian, kartel juga tidak membiarkan pintu terbuka begitu saja untuk mengubah rencana dalam waktu yang singkat. Hal disebabkan karena adanya terkait variant baru Omicron diikuti dengan pelepasan cadangan bahan bakar darurat yang pertama kali dilakukan oleh Amerika. Untuk menghormati Amerika meskipun harganya menjadi turun, OPEC akan tetap pada rencananya. Apabila Omicron nanti akan merusak permintaan dunia, maka beberapa aliansi yang ada harus segera di longgarkan untuk melindungi harga minyak yang telah mengalami kenaikkan. Namun Pelaku pasar dan investor ternyata berkehendak lain. Apabila pasokan ditambah, tentu saja akan mendorong harga minyak kembali mengalami penurunan. Dan bagi pelaku pasar dan investor, mereka mengharapkan bahwa seharusnya OPEC menunda kenaikkan pasokan karena saat ini trend harga minyak tengah dalam penurunan. Tapi kalau kita perhatikan pemirsa, bahwa keputusan mengenai hal tersebut juga tidak lepas dari politik yang terjadi, khususnya dorongan dan tekanan dari Amerika untuk memastikan pasokan tetap terjaga ditengah adanya lonjakan harga minyak yang menyebabkan inflasi bagi berbagai negara maju. Hal inilah yang membuat banyak negara negara akhirnya mendorong kenaikkan supply yang terjadi di pasar. Juru bicara White House mengatakan bahwa, Amerika sangat menghargai koordinasi yang sangat erat dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir dengan Arab Saudi, UEA, dan produsen OPEC+ lainnya untuk membantu mengatasi tekanan harga minyak. Bersama dengan rilis terkoordinasi kami, Amerika percaya bahwa ini akan membantu memfasilitas pemulihan ekonomi global. Sebuah pesan yang menggambarnya ketenangan mungkin pemirsa, bahwa pada akhirnya harga minyak dapat dikendalikan atau bahkan turun. Sehingga menjaga inflasi tetap terjaga. Sejauh ini kami melihat Komunike OPEC+ tetap berlangsung memberikan pesan bahwa OPEC+ sendiri telah siap apabiila melakukan penambahan atau pemotongan untuk menyesuaikan situasi dan kondisi yang terjadi di pasar. Inflasi masih akan menjadi sebuah acuan dalam membuat keputusan. Kami melihat bahwa sejauh ini para pelaku pasar dan investor juga tengah berspekulasi terhadap potensi kenaikkan tingkat suku bunga yang diakibatkan oleh meningkatnya inflasi. Mungkin bisa saja terjadi tahun depan atau bahkan mungkin bisa lebih awal mengingat tekanan inflasi tetap ada dan konsisten, namun yang menjadi perhatian adalah bagaimana The Fed dan Pemerintah Amerika dapat menciptakan sinergi satu sama lain untuk membuat keputusan yang memiliki visi yang sama. Hal ini menjadi penting, karena duet maut Yellen dan Powell harus tercipta untuk memberikan dorongan lingkungan yang kondusif terhadap pemulihan ekonomi yang dimana ada ketidakpastian terjadi di pasar. Saat ini kami melihat volatilitas index masih terus mengalami peningkatan. Ketidakpastian akan tercipta dalam beberapa bulan mendatang, dan kalau kita berkaca terhadap siklus, bulan December selalu bulan yang penuh dengan harapan. Apakah mungkin Omicron akan mengubah itu menjadi bulan yang penuh dengan keputusasaan? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

2.GO GREEN

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi hijau menjadi fokus pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas pertumbuhan dengan mengedepankan unsur sosial dan lingkungan. Guna mendukung akselerasi dari ekonomi hijau, pemerintah juga mengedepankan energi ramah lingkungan dan mendorong para produsen komoditas untuk dapat mengolah produk dengan kadar tinggi guna menjaga emisi karbon. Kementerian Perdagangan memperkirakan nilai pasar kredit karbon global dapat menyentuh di angka US$50 miliar pada 2030. Proyeksi tersebut berasal dari komitmen sejumlah negara dan perusahaan besar untuk berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi karbon beberapa waktu terakhir. Saat ini terdapat 368 perusahaan besar dunia telah berpartisipasi dalam upaya penekanan emisi karbon dunia. Sementara, 1.800 perusahaan lainnya telah menunjukkan komitmennya untuk ikut berkontribusi dalam perdagangan karbon ini. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan tengah menyusun kebijakan dan peta jalan terkait implementasi perdagangan karbon untuk pasar domestik dan global. Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi, Masyita Crystallin, menilai bahwa Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa terkait perubahan iklim edisi ke-26 atau COP26 merupakan momentum bagi Indonesia untuk menarik investasi hijau sebesar mungkin. Masyita menilai bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan, energi, transportasi sebesar 650 Mton CO2e dan 398 Mton CO2e dengan bantuan pendanaan internasional. Oleh karena itu, gelaran COP26 merupakan momentum Indonesia untuk menjadi negara destinasi green investment. Dalam menghindari perubahan iklim, Indonesia telah melakukan berbagai upaya di antaranya menginisiasi sistem penganggaran perubahan iklim atau Climate Budget Tagging dalam APBN. Selama 2016–2019, rata-rata realisasi belanja untuk perubahan iklim sebesar Rp86,7 triliun per tahun dan rata-rata alokasi anggaran perubahan iklim di APBN mencapai 4,1% per tahun.