ANALIS MARKET (16/11/2021) : Pasar Obligasi Diperkirakan Bergerak Bervariatif

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi mulai terlihat tanda tanda pembalikkan meskipun masih sangat terbatas pemirsa.

Namun ini sudah menjadi awal yang sangat baik. Inflasi yang berada di garis ketinggian, baik inflasi Amerika maupun Eropa akan membuat situasi dan kondisi kian semakin rapuh.

Potensi untuk kenaikkan tingkat suku bunga The Fed pada tahun depan, masih terbuka lebar meskipun Powell mengatakan bahwa mereka belum tentu akan menaikkan tingkat suku bunga.

Sejauh ini pemulihan ekonomi mulai terjadi di China, meskipun Jepang terlihat masih terluka dengan data ekonomi yang keluar ternyata lebih buruk daripada yang diperkirakan. Kami berharap bahwa Kishida, mampu mengeluarkan jurus sakti maut ala stimulus untuk menopang perekonomian Jepang.

Nah saat ini, perhatian pelaku pasar dan investor, terpaku terhadap perhatian yang ingin di sampaikan oleh Bank Sentral Australia.

“Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan bergerak bervariatif dengan rentang pergerakan 40 – 70 bps. Lebih dari itu diikuti dengan volume yang cukup, bisa menjadi salah arah baru bagi pasar obligasi hari ini. Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (16/11/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.JAPAN DAN CHINA

Pada akhirnya pemirsa, seperti yang kami sampaikan kemarin, data perekonomian Japan ternyata lebih terluka daripada yang diperkirakan. Penurunan pertumbuhan ekonomi ternyata turun jauh lebih dalam ketika Perdana Menteri Fumio Kishida berniat akan memberikan stimulus fiscal untuk dapat menopang perekonomian yang mengalami penurunan. Stimulus diperkirakan akan senilai 2.2% dari GDP tentu bukan sembarangan stimulus karena stimulus tersebut benar benar dibutuhkan untuk menopang perekonomian Jepang yang kian melemah. Dalam data yang disajikan oleh Jepang kemarin, konsumsi swaswa terlihat melambat karena adanya Covid 19 yang membatasi pergerakan karena lockdown diperpanjang yang dimana lockdown tersebut terjadi terhadap daerah yang memiliki kontribusi terhadap GDP sebesar 80%. Tidak hanya itu saja, ekspor dan belanja modal swasta juga terhambat karena perlambatan ekonomi China yang dimana ditambah lagi dengan adanya kendala rantai pasokan yang membuat perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Gejala rantai pasokan, ditambah lagi dengan adanya kenaikkan harga komoditas global, membuat konsumsi juga mengalami penurunan, baik terjadi dalam investasi perumahan dan dalam belanja modal dari perkiraan secara riil. Meskipun swasta terlihat melemah, pengeluaran pemerintah jauh lebih besar, namun tampaknya masih belum bisa memberikan kekuatan balik terhadap pelemahan yang terjadi. Ada harapan akan terjadi perbaikan pada Q4 21 mendatang. Lockdown yang sudah tidak perpanjang akan mendorong pemulihan konsumsi dan aktivitas serta mobilitas ekonomi, apalagi Kishida mempersiapkan stimulus fiscal, sehingga dengan begitu pergerakan uang di pasar dapat lebih berjalan dengan baik. Sejauh ini memang, penyebab penurunan terdalam adalah lockdown yang ternyata terjadi lebih lama daripada yang diperkirakan sehingga mendorong sector services mengalami dampak yang cukup parah. Bahkan barang barang tahan lama sendiri juga turun 0.6% dari kuartal sebelumnya. Dan menjadi penurunan paling parah sejak Q2 2015 ketika pajak penjualan naik dari sebelumnya 5% menjadi 8% kala itu. Penjualan kendaraan sendiri turun sebesar 30.2% pada bulan October kemarin. Permasalahan terkait dengan adanya hambatan pasokan membuat penjualan barang barang tahan lama juga terus mengalami penurunan, yang dimana ini menjadi risiko baru dalam prospek pemulihan ekonomi. Pemulihan Jepang seperti ini tentu harus menjadi perhatian bersama khususnya bagi Kishida, karena hal ini memberikan indikasi bahwa Kishida harus dapat segera membuka rencana stimulusnya pada pekan ini yang dapat memberikan keyakinan kepada pasar bahwa perekonomian dapat segera pulih. Memberikan keyakinan kepada pelaku pasar dan investor bahwa stimulus memiliki takaran yang cukup untuk mendorong perekonomian. Tidak hanya secara jangka panjang, namun kami juga mengharapkan bahwa Kishida mampu memberikan sentiment atau dorongan terhadap perekonomian secara jangka pendek untuk dapat mengamankan pertumbuhan ekonomi secara jangka menengah dan panjang. Langkah langkah stimulus diperkirakan akan melebihi 40 triliiun yen atau $350 miliar sebagai sebuah batu loncatan baru bagi perekonomian Jepang. Dalam negara-negara G7, Jepang masih menjadi negara yang paling lambat dapat mengejar pemulihan ekonominya, apalagi pemulihan Jepang tidak merata seperti negara negara lainnya. Harapannya terletak pada Q4 2021 ini pemirsa, apabila memang Jepang dapat bangkit seperti yang di katakan mereka, terutama didukung oleh stimulus yang diberikan Kishida, kami yakin, seharusnya Jepang dapat menutup 2021 ini dengan sesuatu yang manis, karena kami percaya pemulihan konsumsi tergantung sejauh mana Jepang memberikan kelonggaran terhadap lockdown dan memberikan stimulus untuk menjadi dorongan. Ternyata pemirsa, kisah yang berbeda dialami oleh China lho. Pasalnya nih ya, data perekonomian China kemarin ternyata keluar jauh lebih baik daripada yang diperkirakan lho pemirsa. Penjualan ritel mengalami kenaikkan diikuti dengan produksi industry. Luar biasa! Meskipun pertumbuhan investasi asset tetap mengalami penurunan yang pertama dalam kurun waktu 10 bulan terakhir, namun hal ini wajar sebagai bagian dari langkah langkah pemerintah China untuk mengamankan pasar property di China. Tingkat pengangguran sendiri stabil di angka 4.9%. Angka angka data ekonomi yang terjadi di China jauh membuat situasi dan kondisi lebih baik pemirsa, karena memberikan kita semua ketenangan bahwa China ternyata tidak separah yang kita bayangkan, tidak seburuk yang kita pikirkan. Pemulihan memang belum pasti, namun ada potensi bahwa perekonomian China menjadi jauh lebih baik. Namun memang benar, goncangan terhadap pasar property membuat pertumbuhan ekonomi di China menjadi sulit, karena sector property memberikan kontribusi hampir 25% dari GDP. Meskipun secara keseluruhan ada peningkatan, namun area lain tidak meningkat secara substansial, terutama untuk bagian ivnestasi. Permasalahan listrik masih menjadi salah satu kendala yang utama pada output untuk produksi industry, sehingga diharapkan terkait dengan krisis energi dapat segara diselesaikan. Secara umum, pemulihan ekonomi di China stabil dan masih memperlihatkan trend pemulihan, namun situasi dan kondisi ternyata tidak ditopang dari internal saja, melainkan juga dari eksternal yang dimana hubungan internasional semakin membuat situasi dan kondisi semakin rumit dengan hubungan China dengan dunia internasional. Dalam situasi dan kondisi saat ini pemirsa, China memang membutuhkan kembali stimulus yang lebih besar untuk memberikan dorongan untuk bisa pulih. Namun alih alih memberikan stimulus, China lebih suka menyempurnakan kebijakan kebijakan yang ada saat ini sehingga para pembuat kebijakan tidak berniat untuk memberikan stimulus. Bank Sentral China sendiri kian semakin menahan diri dari memberikan injeksi likuiditas berupa uang tunai kedalam system keuangan dalam operasi likuiditasnya pada hari Senin. Pertumbuhan ekonomi China sendiri diperkirakan akan berada di kisaran 3.5% pada Q4 21, sehingga mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% secara penuh dan akan mengalami penurunan menjadi 5.4% pada tahun 2022 mendatang. Yuk kita nantikan, apakah China bisa mempertahankan trend pemulihannya dan mendorong perekonomiannya menjadi lebih baik? Dan juga apakah stimulus Jepang mampu membuat perekonomian kembali bangkit dari keterpurukan? Biarlah, waktu yang akan menjawabnya.