ANALIS MARKET (07/12/2018) : IHSG Hari Ini Berpotensi Kembali Terkoreksi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, diperdagangan kemarin (06/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi sebesar 17.62 poin (-0.29%) menjadi 6,115.

Sektor industri yang mengalami kenaikan terbesar di pimpin sektor industri barang konsusmi (+0.41%), industri dasar (+0.25%) sedangkan yang mengalami penurunan terbesar sektor industri aneka industri (-2.39%) dan agrikultur (-1.33%). Adapun investor asing mencatatkan net sell di semua perdagangan saham sebesar Rp395,9 milyar.

Lebih lanjut, riset Kiwoom juga menyebutkan, Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hingga akhir November sebesar Rp 287,9 triliun.

Defisit anggaran pemerintah ini lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yakni sebesar Rp 349,6 triliun.

Berkurangnya defisit anggaran tersebut sejalan dengan pendapatan negara yang naik 18,2% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 1.654,5 triliun. Realisasi pendapatan negara ini setara dengan 87,3% dari target pendapatan dalam APBN 2018 yang secara keseluruhan sebesar Rp 1.894,7 triliun.

“Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang baik, apalagi memang saat ini permasalahan terbesar adalah mengurangi deficit dengan menaikkan pemasukkan negara,” sebut analis Kiwoom dalam riset yang dirilis Jumat (07/12/2018).

Topik berikutnya adalah Otoritas Kanada telah menangkap chief financial officer (CFO) Huawei, Meng Wanzhou di Vancouver.

Meng, yang juga merupakan putri pendiri Huawei, Ren Zhengfei ditahan sejak 1 Desember lalu dan kemungkinan di ekstradisi ke Amerika Serikat (AS) segera. Akibat hal ini, bursa Hongkong melemah -2.47%, dan tidak hanya itu saja, hal ini meningkatkan kembali tensi kedua negara dalam waktu yang tidak lama setelah animo damai terjadi.

Ditambah lagi, dengan adanya potensi resesi di Amerika akibat dari timbulnya inversi imbal hasil antara obligasi 3y dan 5y, pasar global akan mengalami tekanan yang cukup terasa.

“Kami menilai, sejauh ini spread keduanya masih positif, namun mulai mendekati titik nol, sehingga hal ini membuat tanda-tanda kian nyata, karena resesi sebelumnya yang terjadi di Amerika yaitu tahun 1990, 2001, dan 2007 selalu ditunjukkan dengan imbal hasil yang berbentuk inversi terlebih dahulu. Hal ini pula yang membuat para pelaku pasar dan investor cemas,” ungkap analis Kiwoom.

“Kami tergelitik dengan sebuah pertanyaan apakah Indeks kita hanya akan mencapai titik tertinggi di 6.150? Dengan stiuasi dan kondisi saat ini, kami melihat indeks IHSG hari ini berpotensi kembali terkoreksi dengan support dan resistance di level 6,090-6,136,” tandas analis Kiwoom.