See More

03 September 2026, 11:44

03 September 2026, 11:27

03 September 2026, 11:15

03 September 2026, 11:13

03 September 2026, 11:00

03 September 2026, 10:46
dana Saldo Anggaran Lebih (SAL)|kemenkeu|Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id – Sebagai bentuk upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tetap mempertahankan penempatan sana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp200 triliun di perbankan hingga Juli 2027.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa berharap, kebijakan tersebut dapat memberi ruang lebih besar bagi bank untuk mempercepat penyaluran kredit.
Menurut Menkeu, keberadaan dana SAL ini dapat membuat perbankan lebih leluasa menyalurkan pembiayaan karena tidak dibayangi rencana penarikan dana dalam waktu dekat.
“Dana sebesar Rp200 triliun itu kita perpanjang sampai tahun depan, Juli, tidak akan ditarik. Jadi bank lebih tenang,” kata Purbaya di Kompleks DPR RI, Rabu (2/9).
Menkeu Purbaya memperkirakan kredit perbankan dapat tumbuh di atas 20%, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi pertumbuhan kredit yang saat ini berada di kisaran 13,8%.
“Itu cukup kalau ditahan terus ke depan, cukup menciptakan pertumbuhan kredit di atas 20 persen,” ujarnya.
Menurut Bendahara Negara, kemampuan perbankan memperbesar penyaluran kredit juga ditopang oleh kondisi likuiditas dalam sistem keuangan.
Dirinya menggunakan perkembangan base money atau uang primer sebagai salah satu indikator untuk membaca kondisi tersebut.
Lebih lanjut, Menkeu Purbaya menyebut pertumbuhan base money pada Juli 2026 mencapai 18,3%.
Ia memperkirakan pertumbuhan tersebut masih berada di sekitar 18% pada periode berikutnya.
“Saya kan selalu bilang, base money, atau primary money, itu biasanya selama ini cukup baik untuk menggambarkan keadaan likuiditas di sistem keuangan secara keseluruhan,” katanya.
Dengan likuiditas yang dinilai masih memadai, Purbaya melihat ruang ekspansi kredit perbankan masih terbuka.
Menkeu menilai, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi penting agar kondisi likuiditas tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembiayaan bagi sektor ekonomi.
“Ini saya pikir dengan koordinasi yang baik antara keuangan dengan bank sentral, ruang bagi kita untuk menciptakan kondisi likuiditas yang bagus untuk perbankan terbuka lebar,” ujarnya.
Menkeu juga berharap, peningkatan penyaluran kredit tidak berhenti di sektor perbankan, tetapi mengalir ke sektor swasta sehingga aktivitas ekonomi dapat bergerak lebih kuat.
“Artinya apa? Sektor non-government atau private sector itu bisa tumbuh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya,” kata dia.