ANALIS MARKET (29/9/2026): Wait and See!
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada hari Senin (28/09/26), terbebani oleh tingginya harga minyak, aksi jual yang berlanjut di pasar obligasi AS, serta tekanan pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) setelah OpenAI menghentikan sementara pelatihan model AI terbarunya.
Indeks Nasdaq Composite turun 0,92% ke level 26.820,38, S&P 500 melemah 0,77% ke 7.683,69, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,67% ke 51.481,51.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif di tengah kekhawatiran mengenai kenaikan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), yang kembali menekan pasar obligasi. Kekhawatiran inflasi akibat faktor energi, penerbitan utang korporasi yang tinggi untuk membiayai pengembangan infrastruktur AI, serta sinyal hawkish dari Federal Reserve memicu aksi jual Treasury dan mendorong imbal hasil obligasi tenor panjang ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Wall Street bertahan relatif baik berkat ekspektasi pertumbuhan laba yang kuat dan pemulihan saham-saham AI pada pekan sebelumnya. Investor kini menantikan data inflasi PCE dan laporan ketenagakerjaan AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed.
GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran tetap menjadi fokus utama pasar. Tidak adanya terobosan diplomatik terkait kendali atas Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi. Presiden Donald Trump sebelumnya menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan. Namun, laporan media mengindikasikan bahwa Trump terbuka untuk memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mencairkan aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas kemajuan nyata dalam program nuklir. Berita tersebut sempat meredam kenaikan harga minyak, meskipun pasar tetap mewaspadai risiko gangguan pasokan energi.
REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve telah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan memberi sinyal bahwa pengetatan kebijakan masih mungkin berlanjut. Fokus pasar kini beralih ke data PCE sebagai indikator inflasi pilihan The Fed, serta laporan ketenagakerjaan, termasuk data JOLTS bulan Agustus dan nonfarm payrolls bulan September. Data ini akan menjadi faktor penting dalam menentukan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga berikutnya, terutama setelah kenaikan harga minyak memicu kembali kekhawatiran akan risiko inflasi.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) naik ke kisaran 101,1 dan bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan, didukung oleh meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed dan permintaan terhadap aset safe-haven. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5 bps menjadi 5,237%—level tertinggi sejak Juni 2007—sementara imbal hasil tenor 30 tahun naik 4,9 bps menjadi 5,551%, mendekati level tertinggi sejak Juni 2004. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun naik menjadi 1,98%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun mendekati 3,1%, level tertinggi sejak 1996. Mata uang Yen melemah ke kisaran JPY158 per Dolar AS.
PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 Inggris ditutup sedikit lebih tinggi, didukung oleh kenaikan saham sektor properti dan energi yang mengimbangi pelemahan saham sektor pertambangan. Indeks DAX Jerman turun tipis ke 25.407 seiring investor memantau kemungkinan kemajuan diplomatik dalam konflik AS-Iran dan menantikan rilis data ekonomi penting. Indeks CAC 40 Prancis relatif stagnan di 8.078, didukung oleh penguatan sektor barang mewah yang mengimbangi pelemahan saham manufaktur dan keuangan. Indeks FTSE MIB Italia turun 0,2% menjadi 51.760, sementara indeks STOXX Europe 600 naik tipis 0,005% menjadi 638,68.
-Bursa saham Asia bergerak variatif, dengan sebagian besar pasar utama melemah. Indeks Shanghai Composite turun 1,67% menjadi 3.823,6 dan Shenzhen Component anjlok 3,44% menjadi 12.858,8 saat investor menimbang minimnya kemajuan dalam pertemuan Trump-Xi. Indeks BSE Sensex India turun 1,5% ke level 72.772, sementara KOSPI Korea Selatan melemah 2,70% ke 6.890. Nikkei 225 Jepang turun 0,73% ke 65.878. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong naik 0,5% ke 24.643 dan Straits Times Index Singapura menguat 0,5% ke 5.738. FKLCI Malaysia turun 0,10% ke 1.670.
KOMODITAS: Harga komoditas bergerak bervariasi, dengan fokus utama tertuju pada sektor energi. Minyak mentah Brent naik sekitar 1,53% menjadi US$105 per barel setelah sempat menembus US$106, sementara WTI naik 0,96% menjadi sekitar US$93 per barel setelah sempat mencapai US$96; pergerakan ini didukung oleh laporan pemulihan aliran minyak Arab Saudi melalui pipa East-West. Harga emas turun 3,83% menjadi US$4.121/ons karena kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi serta ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Harga tembaga turun 2,17% ke bawah US$6,55/pon akibat data ekonomi Tiongkok yang lebih lemah. Nikel turun 1,34% menjadi sekitar US$16.165/ton karena ketersediaan pasokan yang melimpah, sementara timah naik 0,63% menjadi US$54.348/ton. Harga batu bara termal Australia berada di kisaran US$143,75/ton, turun dari level tertinggi tiga bulan di angka US$149/ton.
AGENDA HARI INI:
-Australia (AU): Keputusan Suku Bunga Reserve Bank of Australia (RBA).
-Amerika Serikat (AS): Data Lowongan Kerja JOLTs bulan Agustus.
INDONESIA: Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 berada di kisaran 5,2%-6%, meningkat dari proyeksi tahun 2026 sebesar 4,9%-5,7%. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi akan menjadi komponen penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), atau investasi, pada tahun 2027 diproyeksikan tumbuh 6,3%-7,1%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi tahun 2026 sebesar 5,7%-6,5%. Namun, BI mencatat bahwa investasi saat ini masih sebagian besar berasal dari proyek atau kegiatan yang terkait dengan pemerintah, sehingga peningkatan kontribusi investasi swasta—termasuk investasi yang bersumber dari BPI Danantara—tetap menjadi tantangan ke depan. Selain itu, ekspor barang dan jasa diproyeksikan tumbuh 5,9%-6,7%, sementara impor diproyeksikan tumbuh 6,4%-7,2% pada tahun 2027.
-Di samping itu, pemerintah membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan yang masih menghadapi tekanan defisit. Presiden Prabowo Subianto meminta pembaruan informasi mengenai kondisi keuangan BPJS Kesehatan untuk tahun 2027 dan tahun-tahun berikutnya guna menjaga keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pemerintah sebelumnya telah menyetujui dukungan anggaran sebesar Rp20 triliun untuk membantu memperbaiki kondisi keuangan BPJS Kesehatan. Namun, tambahan pendanaan tersebut diharapkan tidak hanya mengatasi masalah keuangan, tetapi juga diikuti dengan peningkatan pembayaran kepada rumah sakit dan perbaikan kualitas layanan bagi peserta, termasuk mengurangi antrean panjang dan kesulitan akses layanan bagi peserta JKN.
-IHSG ditutup turun 1,51% di level 6.147,86 pada perdagangan hari Senin (28/09). Tekanan juga tercermin dari aktivitas investor asing, yang mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp259,83 miliar di pasar reguler, sehingga akumulasi jual bersih sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp105,09 triliun. Di tengah tekanan ini, aliran dana asing terutama masuk ke saham BBRI, AMMN, EMAS, BBCA, dan DSSA, sementara aksi jual asing terbesar tercatat pada saham BMRI, TLKM, TINS, ANTM, dan MDKA. Di pasar mata uang, Rupiah melemah melampaui level Rp17.950 per Dolar AS, berbalik dari penguatan sebelumnya seiring menguatnya Dolar AS yang turut membebani sentimen pasar.
-Secara teknikal, IHSG menembus ke bawah area gap atau support. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual masih dominan dan momentum jangka pendek cenderung bearish setelah IHSG gagal kembali bergerak di atas area resistance dinamis. Indikator RSI (14) turun ke level 32,92, mendekati wilayah oversold (jenuh jual), yang menunjukkan momentum bearish cukup kuat sekaligus membuka peluang terjadinya rebound teknikal jika tekanan jual mulai mereda. Jika IHSG gagal bertahan di atas area 6.112–6.148, pelemahan dapat berlanjut menuju level 6.033,38 (FR 61,80%) dan 5.987. Sebaliknya, jika terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus level 6.186, kemudian 6.227–6.241.
“Kami saat ini masih merekomendasikan sikap wait and see (menunggu dan mengamati) selama tekanan jual masih berlanjut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (29/9).



