Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (16/10/2026): Buy on Weakness

Oleh: Ria

16 Oktober 2026, 10:02
ANALIS MARKET (16/10/2026): Buy on Weakness

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada hari Kamis (26/10/15), dengan indeks S&P 500 naik 0,3%, Nasdaq Composite ditutup relatif stagnan, dan Dow Jones Industrial Average menguat 557 poin.

Pemulihan ini terjadi setelah aksi jual pada saham-saham infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mulai mereda, menyusul pernyataan dari CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menepis kekhawatiran bahwa CoreWeave akan memerlukan dana talangan (bailout) dari Nvidia.

Saham Microsoft naik 1,1% dan Oracle menguat 3%, sementara Broadcom turun 0,6%, AMD melemah 1,5%, dan Nvidia terkoreksi 1,8%.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global cenderung defensif di tengah meningkatnya keraguan mengenai keberlanjutan investasi AI serta kemampuan perusahaan infrastruktur teknologi dalam menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan besarnya belanja modal mereka. Kekhawatiran berpusat pada penggunaan utang dan dukungan pembiayaan dari vendor, yang berpotensi menciptakan permintaan semu melalui skema pendanaan melingkar (circular financing). Di pasar saham Asia, tekanan terhadap sektor teknologi semakin besar, terutama di Korea Selatan, sementara para investor mengalihkan perhatian ke aset-aset yang dianggap lebih aman. Data ekonomi AS yang kuat juga menambah ketidakpastian mengenai arah suku bunga, sementara perkembangan konflik di Timur Tengah meningkatkan volatilitas di pasar energi dan keuangan global. Dari sisi makro, Indeks Harga Produsen (PPI) AS melonjak 1,3% secara bulanan (MoM) pada bulan September—jauh melampaui ekspektasi sebesar 0,5% dan mencatatkan kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Penjualan ritel juga tumbuh 0,8%, di atas perkiraan sebesar 0,3%, yang memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih tetap tinggi.

GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global setelah serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz menenggelamkan sebuah kapal kontainer berbendera Singapura dan mendorong tarif kapal tanker di Teluk Persia ke rekor tertinggi. Militer AS dilaporkan tengah menyusun rencana serangan baru terhadap Iran yang berpotensi melibatkan bom MOAB, sementara Iran menyatakan kesiapannya untuk menyerang kapal perang AS. Serangan terhadap Arab Saudi juga mengancam pemulihan pasokan minyak. Di sisi lain, potensi meningkatnya ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Uni Eropa turut membebani saham-saham Tiongkok, seiring dengan kekhawatiran investor terhadap risiko hubungan perdagangan dan prospek pertumbuhan ekonomi.

REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober, namun pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan sebesar 25 basis poin pada bulan Desember. Lonjakan bulanan sebesar 1,3% pada Indeks Harga Produsen (PPI) AS dan pertumbuhan 0,8% pada penjualan ritel memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat dalam jangka waktu yang lebih lama. Di sektor energi, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa kondisi ketat di pasar diesel dapat berlanjut hingga tahun depan. Sementara itu, pemerintah AS dilaporkan tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal dalam "armada bayangan" (shadow fleet) yang mengangkut minyak Rusia, sebagai upaya untuk meredakan tekanan pasokan global.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun hampir 13 basis poin menjadi 5,05%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun melemah 6 basis poin menjadi 4,75% pada hari Kamis. Penurunan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah AS sebagai aset aman di tengah gejolak pasar global. Indeks Dolar AS turun ke kisaran 102 setelah terkoreksi dari level tertingginya dalam 18 bulan terakhir. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 7 basis poin menjadi 2,93%—level terendah dalam lima minggu—sementara imbal hasil tenor 2 tahun turun menjadi 1,91%. Yen menguat hingga menembus level JPY158 per Dolar AS setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan bahwa otoritas Jepang siap melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan.

PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa ditutup lebih tinggi, dipimpin oleh indeks FTSE 100 Inggris yang naik 1% menjadi 10.840—level tertinggi sejak 26 Agustus—yang didorong oleh penguatan saham-saham defensif. Indeks DAX 40 Jerman naik 0,3% menjadi 25.383, sementara CAC 40 Prancis menguat 0,8% menjadi 7.935. Kenaikan pada saham sektor perangkat lunak, ritel, telekomunikasi, barang mewah, dan industri menopang kinerja bursa regional tersebut. Indeks STOXX Europe 600 naik 0,38% menjadi 640,16. Bursa saham Asia sebagian besar melemah. Indeks Shanghai Composite turun 1,59% menjadi 3.707 dan Shenzhen Component merosot 2,43% menjadi 11.816,8; keduanya mencapai level terendah sejak Juli 2025. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1% menjadi 24.063, sementara bursa saham Singapura turun 0,4% menjadi 5.404. Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 7,57% menjadi 5.554, mencatatkan penurunan selama tujuh sesi berturut-turut. Sebaliknya, indeks BSE Sensex India naik 2,1% menjadi 74.316, kenaikan harian terbesar sejak 12 Juni. Indeks FKLCI Malaysia turun 0,25% menjadi 1.624.

KOMODITAS: Harga minyak mentah AS naik 3,03% menjadi sekitar US$97,97/barel, sementara harga minyak Brent turun 0,37% menjadi US$105,68/barel. Pergerakan ini dipicu oleh risiko gangguan pasokan di Timur Tengah serta penurunan persediaan minyak AS sebesar 8 juta barel. Harga batu bara berjangka berada di kisaran US$149,65/ton, turun 0,47%, namun tetap mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir akibat mahalnya harga LNG dan meningkatnya peralihan ke pembangkit listrik tenaga batu bara. Harga emas naik 1,61% menjadi sekitar US$4.171/ounce karena tingginya permintaan terhadap aset lindung nilai. Sebaliknya, harga tembaga turun 1,56% menjadi US$655,65/lb seiring dengan prospek permintaan logam industri yang tertekan oleh ekspektasi suku bunga tinggi. Harga timah turun 0,64% ke level 50.125 pada 15 Oktober, sementara nikel melemah 1,86% menjadi US$15.221/ton di tengah kekhawatiran mengenai surplus pasokan global.

INDONESIA:

-MSCI secara resmi membuka konsultasi untuk mengklasifikasikan ulang Indeks MSCI Indonesia dari status Pasar Berkembang (Emerging Market/EM) menjadi status Pasar Berdiri Sendiri (Standalone Market) dalam seluruh indeks komposit global maupun regional yang relevan. MSCI menegaskan bahwa rencana ini akan tetap dilanjutkan kecuali terdapat bukti nyata mengenai perbaikan substansial dalam tata kelola dan fungsi pasar di Indonesia. Sejak Januari 2026, MSCI telah membekukan sebagian perubahan pada indeks Indonesia setelah para investor menyoroti kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan serta adanya dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Meskipun pihak berwenang telah mengumumkan berbagai reformasi—termasuk kewajiban pengungkapan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, pelaporan Konsentrasi Kepemilikan Saham yang Tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), serta peta jalan untuk meningkatkan batas minimum saham yang beredar di publik (free float) menjadi 15%—para pelaku pasar menilai bahwa implementasinya belum konsisten dan tidak dibarengi dengan penegakan hukum yang tegas. Jika klasifikasi ulang ini benar-benar terjadi, Indonesia berisiko mengalami arus keluar dana asing, tekanan jual saham, dan peningkatan volatilitas.

-Di sisi lain, beban bunga utang pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2027 diproyeksikan mencapai Rp650,31 triliun, atau 18,93% dari pendapatan negara, yang berpotensi mempersempit ruang fiskal. S&P Global Ratings tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan prospek stabil; namun, rasio beban bunga terhadap pendapatan pemerintah umum yang terus berada di atas 15% merupakan risiko yang perlu diwaspadai. Kenaikan premi risiko sebesar 50–100 basis poin (bps) dapat menambah beban bunga sekitar Rp9–18 triliun per tahun seiring dengan penerbitan surat berharga negara (SBN) yang baru. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperkuat penerimaan pajak, meningkatkan produktivitas belanja, mengendalikan utang baru, serta menjaga kredibilitas fiskal dan konsistensi dalam reformasi pasar guna mempertahankan kepercayaan investor.

-Sementara itu, konsumsi CPO domestik diproyeksikan akan melampaui ekspor pada tahun 2026, dengan porsi masing-masing sebesar 51,3% dan 48,7% dari total penggunaan minyak sawit nasional. IPOSS memperkirakan konsumsi domestik akan meningkat 7,4% menjadi 27,1 juta ton, didorong oleh penerapan program mandatori biodiesel B50 sejak Juli 2026, sementara ekspor produk minyak sawit diproyeksikan turun 15,4% menjadi 25,76 juta ton. Produksi minyak sawit nasional diperkirakan mencapai 52,4 juta ton, tumbuh 1,86% secara tahunan (YoY). Direktur IPOSS, Nanang Hendarsah, menyatakan bahwa meningkatnya kebutuhan biodiesel harus diimbangi dengan peningkatan produksi dan produktivitas agar ketahanan energi tidak semakin menekan kapasitas ekspor. Penurunan ekspor juga berpotensi mengurangi penerimaan dari pungutan ekspor (Export Levy), yang merupakan sumber pendanaan bagi program biodiesel serta program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10), di tengah tekanan pasar yang juga ditandai dengan pelemahan nilai tukar Rupiah hingga menembus angka Rp18.029 per Dolar AS. Meskipun demikian, investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp520,03 miliar di pasar reguler dan Rp567,96 miliar di seluruh pasar. Namun, secara akumulatif sejak awal tahun, investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp110,77 triliun. Pembelian oleh investor asing terutama mengalir ke saham BBCA, BBRI, DSSA, TPIA, BMRI, CUAN, ANTM, ACES, SQMI, dan PWON, sementara tekanan jual terbesar terkonsentrasi pada saham ITMG, GOTO, TLKM, EMAS, ADRO, BRPT, PACK, PTBA, ADMR, dan INCO.

-Secara teknikal, saat ini IHSG sedang menguji level dukungan (support) di 5.828, dengan indikator RSI (14) turun ke angka 30,4, yang menunjukkan kondisi mendekati jenuh jual (oversold). Jika mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG berpeluang untuk mengalami pemulihan (rebound) menuju level resistensi di 5.910, 5.943, dan 5.973. Sebaliknya, jika level dukungan 5.828 tertembus, tekanan koreksi dapat berlanjut hingga menutup celah (gap) di area 5.805–5.744 dan 5.704–5.695, dengan level 5.700 menjadi dukungan psikologis berikutnya. Jika level tersebut juga ditembus, IHSG berisiko melemah lebih dalam menuju 5.300, yang merupakan area level terendah sebelumnya.

“Kami merekomendasikan strategi buy on weakness (membeli saat harga melemah) atau mengambil sikap wait and see (menunggu perkembangan) jika momentum kenaikan belum terlihat. IHSG diperkirakan akan bergerak mendatar (sideways) atau terkoreksi lebih dalam, sementara tekanan jual oleh investor asing serta volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut di tengah ketidakpastian mengenai status MSCI untuk Indonesia,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (16/10).

Berita Terkini

See More