ANALIS MARKET (19/10/2026): Wait and See
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada hari Jumat (26/10/16), dipimpin oleh anjloknya indeks Nasdaq Composite sebesar 2,15%, sementara S&P 500 turun 1,09% dan Dow Jones Industrial Average melemah 175 poin.
Aksi jual pada saham sektor semikonduktor berlanjut hingga sesi kedelapan berturut-turut, yang menandai periode penurunan terpanjang bagi sektor tersebut sejak krisis keuangan 2008.
Saham CoreWeave anjlok 11,9% dan mencatatkan penurunan mingguan sebesar 23,7%, sementara Nvidia turun 1,4%, Micron melemah 5,6%, dan AMD terkoreksi 5,9%.
Tekanan juga melanda Tesla yang turun 2,1% serta SpaceX yang melemah 1,7%, di tengah spekulasi mengenai potensi merger antara kedua perusahaan tersebut.
Secara mingguan, S&P 500 terkoreksi 2%, Nasdaq anjlok 5%, sementara Dow Jones justru menguat 156 poin.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar global cenderung defensif di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai valuasi dan keberlanjutan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Laporan pendapatan Anthropic yang relatif terbatas memicu pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan-perusahaan AI dalam menghasilkan pendapatan yang sepadan dengan besarnya pengeluaran infrastruktur. Kekhawatiran ini semakin besar bagi perusahaan dengan tingkat utang tinggi, terutama di saat biaya pendanaan masih mahal. Para investor mulai mengurangi eksposur pada saham teknologi dan beralih ke aset yang lebih aman. Perkembangan ini juga meningkatkan volatilitas pasar, khususnya pada saham semikonduktor dan penyedia infrastruktur AI, yang sebelumnya menjadi salah satu penggerak utama reli pasar saham AS.
GEOPOLITIK: Risiko gangguan pasokan energi meningkat akibat memanasnya masalah keamanan di Timur Tengah. Serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz menyebabkan penurunan rata-rata aliran minyak harian menjadi 11,62 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Oktober, dibandingkan dengan tingkat dasar sebesar 17,15 juta barel. Kondisi ini meningkatkan biaya pengiriman serta premi risiko bagi produsen yang mengangkut minyak melalui wilayah tersebut. Di sisi lain, serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap kilang minyak Rusia juga membatasi ketersediaan bahan bakar di pasar global. Kombinasi gangguan distribusi di Timur Tengah dan Rusia meningkatkan risiko kelangkaan pasokan energi, sehingga membuat pasar minyak menjadi semakin sensitif terhadap perkembangan konflik serta keamanan jalur pelayaran internasional.
REGULASI & KEBIJAKAN: Data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi tetap kuat, dengan angka CPI dan PPI tercatat di atas ekspektasi pasar. Kondisi ini membuat para pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan Oktober, sementara peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember mencapai hampir 77%. Dalam pertemuan IMF, Warsh tidak memberikan sinyal pasti mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya, namun menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tidak mengubah penilaiannya terhadap ekonomi AS. Di Tiongkok, Kementerian Perdagangan mengusulkan pembatasan ekspor terhadap 12 teknologi yang digunakan dalam produksi peralatan tenaga surya, termasuk teknologi thin-wafer tertentu, sel surya perovskite dan tandem, serta produksi polisilikon skala besar. Usulan ini dikaitkan dengan kepentingan keamanan nasional dan upaya untuk memperketat pengawasan terhadap transfer teknologi strategis. Konsultasi publik mengenai usulan tersebut dijadwalkan berakhir pada 15 November.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,4% sepanjang minggu ke level 101,6 pada hari Jumat (26/10/2023)—level terendah dalam dua minggu terakhir—sekaligus mencatatkan penurunan mingguan pertama setelah menguat selama tiga minggu berturut-turut. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik tipis menjadi 5,12% setelah sempat turun 11 basis poin pada sesi sebelumnya, namun secara mingguan masih terkoreksi sekitar 14 basis poin. Imbal hasil Treasury tenor 2 tahun turun menjadi 4,72%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke sekitar 2,95%, sementara tenor 2 tahun bertahan di angka 1,91%. Yen Jepang menguat hingga menembus level JPY158 per Dolar AS setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama menegaskan kembali kesiapan otoritas untuk kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan. Pernyataan tersebut memperkuat kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan adanya langkah-langkah stabilisasi Yen oleh pemerintah Jepang.
PASAR EROPA & ASIA: Saham-saham Eropa ditutup lebih tinggi pada hari Jumat; indeks FTSE 100 Inggris bangkit dari penurunan sebelumnya berkat penguatan di sektor pertahanan, konsumer, dan energi. Indeks DAX 40 Jerman naik sekitar 1% menjadi 25.623, level tertinggi sejak 17 September. Indeks CAC 40 Prancis menguat 0,3% menjadi 7.957, didorong oleh saham-saham sektor pertahanan. Indeks STOXX Europe 600 (EU600) naik 0,72%, atau 4,58 poin, menjadi 644,74.
-Saham-saham Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,39% menjadi 65.324, sementara indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,5%, atau 124 poin, menjadi 24.187. Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 2,05% menjadi 5.668, didukung oleh aksi beli pada saham-saham yang dinilai murah. Indeks Shanghai Composite naik 0,24% menjadi 3.716,3, sedangkan indeks Shenzhen Component turun 0,12% menjadi 11.802,5—level terendah dalam lebih dari setahun—di tengah ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Uni Eropa. Indeks BSE Sensex India menguat 0,6% menjadi 74.729,3 dan indeks STI Singapura naik 0,22% ke level 5.416 poin. Sebaliknya, indeks FKLCI Malaysia melemah 0,98% ke level 1.608.
KOMODITAS: Harga komoditas energi melonjak tajam. Minyak Brent naik 3,71% menjadi US$109,8 per barel, sementara minyak WTI menguat 3,51% ke atas level US$101,4 per barel. Kedua acuan harga minyak tersebut mencatatkan kenaikan lebih dari 11% sepanjang minggu ini. Selain adanya gangguan distribusi, persediaan minyak mentah AS turun 8,56 juta barel pada minggu yang berakhir 9 Oktober, sehingga memperketat keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Harga batu bara naik 0,50% menjadi sekitar US$150/ton, mendekati level tertinggi dalam tiga tahun, seiring dengan tingginya harga LNG yang mendorong peningkatan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara. Harga emas berada di kisaran US$4.166/ounce, turun tipis 0,14%, sementara harga tembaga naik 0,26% menjadi US$657,35/lb setelah nilai tukar dolar AS melemah. Harga minyak sawit Malaysia melonjak lebih dari 2,46% hingga menembus angka MYR4.536/ton, level tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Harga timah naik 0,52% menjadi US$50.384/ton berdasarkan data tanggal 16 Oktober, sedangkan harga nikel naik 0,93% menjadi US$15.363/ton, meskipun kekhawatiran akan surplus pasokan global terus membatasi prospek harganya.
INDONESIA: Bank Indonesia (BI) berupaya memperkuat kerja sama internasional melalui perluasan penggunaan Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transactions/LCT) guna mengurangi ketergantungan pada mata uang negara ketiga serta meminimalkan dampak volatilitas nilai tukar global. Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, dalam rangkaian pertemuan IMF–Bank Dunia serta pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 pada 12–18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand. BI juga mendukung pengembangan pembayaran lintas negara (cross-border payments), QR lintas negara, serta penggunaan QRIS oleh generasi muda dan UMKM untuk meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas inklusi keuangan, dan memperkuat akses terhadap pembiayaan formal. Dalam pertemuan tersebut, negara-negara anggota juga membahas penguatan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan global, modernisasi pasar tenaga kerja, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi, serta pengelolaan risiko utang dan ketidakseimbangan ekonomi global. Selain itu, kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026 tetap terbuka. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan BI dapat menaikkan suku bunga sebesar 25–50 basis poin menjelang akhir tahun, terutama jika tekanan terhadap rupiah terus meningkat. Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, tingginya harga minyak dunia, dan risiko pelemahan nilai tukar menjadi faktor utama yang perlu dicermati, karena dapat memicu inflasi impor dan menambah tekanan terhadap stabilitas harga domestik. Kondisi ini menempatkan BI pada posisi harus menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,10 pada perdagangan hari Jumat (16/10/26), di tengah tekanan jual yang kuat dari investor asing. Investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp3,40 triliun di pasar reguler dan Rp3,35 triliun di seluruh pasar. Secara tahun berjalan (year-to-date/YTD), akumulasi jual bersih asing telah mencapai Rp114,16 triliun. Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain BBCA, BBRI, BMRI, ANTM, TLKM, ADMR, BBTN, BTPS, TPIA, dan ASII. Sebaliknya, aliran dana asing masuk ke saham GOTO, INDF, EMAS, BRPT, ENRG, AADI, DSSA, BBNI, ERAA, dan ISAT. Tekanan terhadap pasar juga meningkat setelah MSCI mempertanyakan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market), dengan menyoroti masalah struktural di pasar saham domestik serta kemungkinan reklasifikasi menjadi pasar mandiri (standalone market), yang berisiko memicu arus keluar modal (capital outflow) dalam jumlah lebih besar. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah melemah hingga melampaui Rp18.050 per Dolar AS—level terlemah sejak awal Agustus—di tengah meningkatnya kekhawatiran investor mengenai prospek aliran modal asing dan persepsi risiko di pasar keuangan Indonesia.
-Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak turun tajam dan ditutup di level 5.185,10, jauh di bawah EMA10, EMA20, dan EMA50, yang menunjukkan bahwa tren bearish masih kuat. Indikator RSI (14) turun ke level 16,85, yang mengindikasikan kondisi jenuh jual (oversold) dan membuka peluang terjadinya rebound teknikal. Jika mampu kembali menembus area 5.326–5.332, IHSG berpeluang untuk rebound menuju level resistensi di 5.631. Namun, jika tekanan jual terus berlanjut dan IHSG menembus level dukungan (support) di 4.999, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 4.471, berdasarkan proyeksi Fibonacci 161,80%.
“Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi selektif dalam melakukan pembelian saat harga melemah (buy on weakness), serta menunggu konfirmasi pembalikan tren sebelum melakukan akumulasi secara lebih agresif,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (19/10).




