ANALIS MARKET (19/10/2026): IHSG Masih Berpotensi Melanjutkan Pelemahan
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian BNI Sekuritas menyebutkan, Bursa saham AS ditutup melemah pada perdagangan Jumat (16/10), seiring tekanan jual kembali melanda saham-saham teknologi terkait AI. Indeks S&P 500 turun 1,22%; Nasdaq melemah 2,19%; Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,55%. Saham CoreWeave dan Broadcom merosot, sementara kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran investor. Investor khawatir perusahaan infrastruktur AI yang memiliki beban utang besar tidak mampu menghasilkan keuntungan tepat waktu untuk membayar kewajibannya, terutama jika biaya pinjaman terus meningkat. Saham CoreWeave anjlok 12% pada perdagangan Jumat. Tekanan juga terlihat pada pasar obligasi CoreWeave. Harga obligasi perusahaan tersebut mengalami aksi jual tajam sepanjang pekan ini, sehingga yield melonjak melampaui 15%. Sementara, saham Broadcom terkoreksi 3,6%. Selain tekanan pada saham teknologi, investor juga mencermati kenaikan harga minyak mentah lebih dari 3% pada Jumat. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran mengenai pembiayaan perusahaan AI juga bertambah setelah sejumlah investor Anthropic saat ini dan calon investor dikabarkan mempertimbangkan valuasi yang lebih rendah bagi perusahaan tersebut dalam rencana IPO mendatang.
Di sisi lain, Pasar saham Asia rebound setelah tekanan jual saham teknologi mereda, namun pasar saham Indonesia justru terpuruk setelah MSCI mengusulkan penurunan status pasar Indonesia dari emerging market. Jumat (16/10), Bursa Efek Indonesia anjlok 11%, menjadi penurunan terdalam sejak tahun 1998. Pelemahan terjadi setelah MSCI menyatakan pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria untuk menyandang status emerging market. MSCI tengah menyiapkan langkah untuk mengeluarkan pasar saham Indonesia dari sejumlah produk investasi yang menjadi acuan investor global. Jika terealisasi, keputusan tersebut berpotensi memicu arus keluar dana asing dan menambah tekanan terhadap pasar saham domestik. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,39%; dan Topix naik 1,67%; memulihkan sebagian penurunan hampir 5% pada Kamis (15/10). Indeks Korea Selatan, KOSPI meningkat 2,05%; dan KOSDAQ melesat 4,5%; setelah sebelumnya anjlok hampir 8%. Sementara, Taiex Taiwan bertambah 0,3%; Hang Seng Hong Kong naik 0,5%; dan ASX 200 Australia menguat 1%.
Sementara itu, diperdagangan sebelumnya (16/10), IHSG ditutup turun 11.6%, disertai dengan net sell asing sebesar Rp3.4 Triliun. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, BBRI, BMRI, ANTM, dan TLKM.
“IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan hari ini karena impact dari potensi penurunan MSCI rating, hindari dulu saham-saham dengan kepemilikan asing yang tinggi. Diperkirakan Support IHSG: 4900-5000 dan Resist IHSG: 5200-5250,” sebut Fanny Suherman, CFP selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas dalam riset Senin (19/10).
Selanjutnya disebutkan beberapa saham yang bisa menjadi pilihan pelaku pasar diperdagangan hari ini, yaitu: TINS, NCKL, INCO, AADI, CPIN, dan TAPG.
Berikut ini trading plan-nya:
TINS Buy on Weakness dengan area beli di 3310-3340, cutloss di bawah 3300. Target dekat di 3500-3600.
NCKL Buy on Weakness dengan area beli di 640-650, cutloss di bawah 640. Target dekat di 700-730.
INCO Buy on Weakness dengan area beli di 3200-3250, cutloss di bawah 3200. Target dekat di 3500-3700.
AADI Buy on Weakness dengan area beli di 9200-9375, cutloss di bawah 9200. Target dekat di 10000-10450.
CPIN Buy on Weakness dengan area beli di 2400-2430, cutloss di bawah 2380. Target dekat di 2640-2720.
TAPG Buy on Weakness dengan area beli di 1680-1700, cutloss di bawah 1640. Target dekat di 1800-1840.
Disclaimer on





