investasi properti|JLL|JLL Indonesia

JLL Bongkar Peta Baru Properti RI: Peluang Investasi Bergeser ke Luar Jakarta

Oleh: Harry

19 Oktober 2026, 15:50
JLL Bongkar Peta Baru Properti RI: Peluang Investasi Bergeser ke Luar Jakarta

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Peluang investasi sektor properti Indonesia semakin meluas ke luar Jakarta seiring diversifikasi manufaktur, pembangunan infrastruktur, dan lonjakan kebutuhan infrastruktur digital.

JLL menilai, koridor industri dan pusat pertumbuhan ekonomi baru menjadi incaran strategis investor dalam jangka menengah.

JLL (NYSE: JLL) menyebut, perkembangan properti Asia Tenggara kini tidak hanya ditentukan pemulihan pasar, tetapi juga fragmentasi geopolitik, diversifikasi rantai pasok, digitalisasi, dan tuntutan keberlanjutan.

Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah mengatakan, pertumbuhan properti nasional mulai dipengaruhi perubahan pola aktivitas ekonomi dan berkembangnya sektor-sektor baru.

“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia dalam keterangan tertulis, Senin (19/10).

JLL mengidentifikasi tiga peluang utama di sektor properti, yakni:

-Pertama, diversifikasi manufaktur.

Perkembangan koridor ekonomi dan konektivitas antarkawasan mendorong permintaan properti industri dan logistik.

Peluang mencakup pengembangan kawasan industri, investasi institusional, serta relokasi dan ekspansi perusahaan.

Jawa Tengah, khususnya Batang, Kendal, dan Semarang, dinilai berpotensi menjadi pusat pertumbuhan industri baru berkat dukungan infrastruktur dan ekspansi manufaktur.

-Kedua, pusat data dan infrastruktur digital.

Adopsi kecerdasan buatan (AI), investasi komputasi awan (cloud), dan kebutuhan lokalisasi data meningkatkan permintaan pusat data sekaligus membuka peluang diversifikasi investasi ke aset alternatif.

-Ketiga, optimalisasi dan alih fungsi properti.

Gedung perkantoran dan ritel lama di Jakarta menghadapi tekanan untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Kondisi ini membuka peluang alih fungsi bangunan agar tetap kompetitif.

Peluang pertumbuhan juga didukung pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Jabodetabek, Bali, Batam, dan sejumlah lokasi strategis lainnya.

Kawasan-kawasan tersebut menarik permintaan dari sektor kesehatan, pusat data, perkantoran, ritel, dan perhotelan.

Sementara itu, pembangunan fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, serta pengembangan Pelabuhan Patimban berpotensi memperkuat konektivitas dan mendorong persebaran aktivitas industri ke berbagai wilayah.

Country CEO & Southeast Asia JLL Michael Glancy mengatakan, sentralisasi dan tren flight to quality masih mewarnai pasar, termasuk upaya perusahaan meningkatkan kualitas ruang kerja untuk menarik dan mempertahankan talenta.

Namun, pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan berkembang turut mendorong desentralisasi ekonomi.

Bagi pengguna properti, JLL menilai pemilihan lokasi perlu semakin strategis, dengan mempertimbangkan kawasan bisnis di luar pusat kota, operasional lintas negara, kualitas ruang kerja, serta keselarasan dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Head of Research & Advisory for Southeast Asia JLL, Dr. Yang Liang Chua menegaskan, Indonesia tetap menjadi tujuan investor, tetapi pasar semakin selektif.

Keberhasilan investasi ke depan tidak hanya bergantung pada eksposur terhadap pasar secara luas, melainkan juga ketepatan memilih koridor ekonomi, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik.

JLL menilai, konektivitas dengan koridor ekonomi, jaringan infrastruktur, ekosistem industri, dan kebutuhan ekonomi yang terus berubah akan menjadi faktor penting dalam menentukan prospek properti Indonesia.

Berita Terkini

See More