Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|Kiwoom Sekuritas|analisa market

ANALIS MARKET (24/9/2026): Wait and See! Momentum Bullish Relatif Belum Kuat

Oleh: Ria

24 September 2026, 08:57
ANALIS MARKET (24/9/2026): Wait and See! Momentum Bullish Relatif Belum Kuat

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada hari Rabu (23/9/26).

Indeks S&P 500 turun 0,75% menjadi 7.706,03, Nasdaq Composite melemah 1,13% menjadi 26.936,04, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,68% menjadi 51.511,59.

Sektor teknologi menjadi salah satu penekan utama setelah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada saham-saham yang sangat sensitif terhadap suku bunga.

Saham-saham sektor perjalanan seperti Expedia, Airbnb, dan Booking Holdings juga turut tertekan.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung menghindari risiko (risk-off) seiring investor lebih mencermati valuasi aset berisiko dan perkembangan di pasar obligasi. Kenaikan imbal hasil terutama menekan saham teknologi dan sektor dengan valuasi tinggi. Di sisi lain, tema kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi sorotan setelah saham Meta naik lebih dari 20% sejak peluncuran Muse pada 8 September. Investor juga menantikan perkembangan pertemuan Trump-Xi serta hasil pembicaraan AS-Iran sebagai katalis bagi arah selera risiko ke depan.

GEOPOLITIK: Ketidakpastian geopolitik masih berpusat pada hubungan AS-Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran tetap terbuka terhadap diplomasi namun menolak bernegosiasi di bawah tekanan. Trump menyebut pembicaraan dengan utusan Iran berlangsung produktif, sementara Iran mengisyaratkan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz jika tekanan militer dan pembatasan terhadap pelabuhannya dilonggarkan. Di sisi lain, kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Washington menjadi sorotan karena berpotensi memicu pembahasan mengenai perdagangan dan hubungan bilateral AS-Tiongkok.

REGULASI & KEBIJAKAN: Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed kembali menjadi fokus setelah indeks S&P Global Composite PMI AS naik ke level 58,4 pada bulan September, level tertinggi sejak Juli 2021. Pada saat yang sama, indeks harga input naik ke level tertinggi sejak Oktober 2022. Gubernur The Fed Michael Barr menyatakan bahwa risiko dalam mencapai target inflasi 2% telah meningkat dan penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan Oktober berada di kisaran 60%, sementara peluang kenaikan pada bulan Desember berada di sekitar 48%. Di Jepang, BOJ menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 25 bps menjadi 1,25%.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Obligasi pemerintah AS (US Treasuries) mengalami aksi jual besar-besaran; imbal hasil tenor 10 tahun naik 15,4 bps menjadi 5,102%, tenor 5 tahun naik 14,5 bps menjadi 4,987%, dan tenor 30 tahun naik 9 bps menjadi 5,393%. Imbal hasil tenor 2 tahun juga naik 11,2 bps menjadi 4,889%. Di pasar valuta asing, Indeks Dolar menguat lebih dari 0,4% ke level di atas 101, mencapai titik tertinggi dalam delapan minggu. Yen Jepang melemah ke kisaran JPY157,6 per Dolar.

PASAR EROPA & ASIA: Bursa saham Eropa sebagian besar bergerak turun. Indeks DAX Jerman turun 0,7% menjadi 25.411, CAC 40 Prancis turun 0,4% menjadi 8.123, dan FTSE MIB Italia melemah 0,2% menjadi 51.987. FTSE 100 Inggris menjadi pengecualian dengan mencatatkan kenaikan tipis, didorong oleh saham-saham sektor energi seperti Shell dan BP. Indeks EU600 turun 0,45% menjadi 639,92.

-Bursa saham Asia bergerak variatif. Shanghai Composite turun 0,39% menjadi 3.936,5 dan Shenzhen Component turun 0,64% menjadi 13.636,1. BSE Sensex India naik 0,4% menjadi 74.828,3. KOSPI Korea Selatan naik 0,90% menjadi 7.081, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 1,38% menjadi 65.019. Indeks STI Singapura turun 0,24% ke level 5.710 dan indeks KLCI Malaysia melemah 0,42% ke level 1.676.

KOMODITAS: Harga minyak Brent kembali naik di atas US$100/barel setelah mengalami penurunan selama lima sesi berturut-turut, sementara harga minyak mentah juga naik di tengah ketidakpastian terkait negosiasi AS-Iran. Harga emas turun 1,78% menjadi sekitar US$4.286/ons. Harga tembaga bergerak mendekati US$6,8/pon dan sempat mencapai rekor tertinggi akibat kekhawatiran pasokan serta kuatnya permintaan. Harga batu bara termal Australia turun menjadi US$145/ton. Minyak kelapa sawit Malaysia melemah 0,87% ke bawah level MYR4.768/ton akibat lemahnya harga minyak nabati dan kinerja ekspor. Harga timah naik 0,50% menjadi US$54.214/ton, sedangkan harga nikel turun 0,51% menjadi US$16.680/ton di tengah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Indonesia.

AGENDA HARI INI:

-Indonesia (ID): Pasokan Uang M2 (YoY) bulan Agustus.

-Jerman (DE): Indeks Iklim Bisnis Ifo bulan September.

-Amerika Serikat (AS): Pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.

INDONESIA: Bank Indonesia (BI) menilai bahwa tingkat suku bunga acuan saat ini masih memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan kondisi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher-for-longer) di AS. BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%, Deposit Facility pada 4,75%, dan Lending Facility pada 6,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 22–23 September 2026. Selain kebijakan suku bunga, BI memperkuat upaya stabilisasi melalui insentif biaya lindung nilai (hedging) guna mendorong masuk dan bertahannya aliran modal asing di pasar domestik. Insentif yang lebih besar diberikan untuk tenor lindung nilai yang lebih panjang, termasuk melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), karena instrumen ini dapat meningkatkan pasokan dolar AS di pasar domestik.

-Selain itu, pemerintah sedang menyiapkan penyesuaian skema insentif pajak sejalan dengan penerapan Pajak Minimum Global (Global Minimum Tax/GMT) dengan tarif minimum 15%. Setelah periode pengajuan fasilitas tax holiday berdasarkan PMK 130/2020 berakhir pada 31 Desember 2025, pemerintah tengah merancang berbagai insentif alternatif untuk tetap memenuhi komitmen pajak internasional sekaligus menjaga daya tarik investasi. Skema yang sedang dipertimbangkan mencakup pembebasan bea masuk untuk produk tertentu, pembebasan pajak atas jenis barang tertentu, serta fasilitas untuk transaksi tertentu.

-IHSG ditutup menguat 1,56% ke level 6.374,91 pada perdagangan hari Rabu (23/09), meskipun investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp468,26 miliar di pasar reguler. Secara year-to-date (YTD), akumulasi jual bersih asing mencapai Rp102,97 triliun. Saham-saham yang menjadi tujuan aliran dana asing antara lain MDKA, TINS, SINI, DSSA, dan TPIA, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham BBRI, BMRI, TLKM, ISAT, dan ADRO. Di pasar mata uang, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.820/USD—menguat dari level terendah harian di Rp17.875/USD—setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di angka 5,75% selama tiga bulan berturut-turut.

-Secara teknikal, IHSG ditutup menguat namun masih berada di bawah EMA10, EMA20, dan EMA50, sehingga kenaikan terkini belum mengubah tekanan bearish jangka pendek. IHSG juga masih berada di bawah level Fibonacci retracement 38,20% di angka 6.451,22; saat ini indeks berada di bawah area support sebelumnya di level 6.347 dan sedang berupaya menguji kembali level 6.377. Indikator RSI (14) berada di angka 44,42—masih di bawah level 50—yang mengindikasikan bahwa momentum bullish belum terbentuk secara kuat. Jika level support 6.347 kembali ditembus, tekanan korektif dapat berlanjut menuju area 6.290–6.180. Sebaliknya, untuk terjadi rebound, IHSG perlu kembali ke atas level 6.422–6.451, kemudian menembus level 6.463 sebagai resistance berikutnya.

“Jika berhasil melewati area tersebut, IHSG berpeluang menguji level 6.552–6.591 sebelum bergerak menuju area 6.723,” beber analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Kamis (24/9).

Berita Terkini

See More