ANALIS MARKET (14/10/2026): IHSG Diperkirakan Cenderung Mixed
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian FAC Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan kemarin (13/10), IHSG ditutup melemah 10,49 poin (-0,17%) ke 5.925,66, tertekan oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Dari eksternal, eskalasi konflik Arab Saudi–Houthi di Yaman mendorong kenaikan harga minyak Brent hingga sekitar US$106,69 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas rupiah.
Dari domestik, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI pada November 2026 memicu aksi jual pada sejumlah saham grup konglomerasi besar karena kekhawatiran terhadap potensi perubahan kebijakan indeks dan arus dana asing.
Tekanan juga datang dari pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.913 per dolar AS serta sikap investor yang cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS, yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS, yield obligasi, dan sentimen pasar negara berkembang.
Sementara itu, Wall Street tadi malam ditutup melemah, tercermin dari DJIA (-0,35%), S&P 500 (-0,02%), & Nasdaq (-0,15%).
Pelemahan tersebut terutama dipicu oleh tekanan pada saham semikonduktor akibat meningkatnya persaingan dari China dan kekhawatiran terhadap rendahnya imbal hasil investasi AI.
Kemajuan teknologi memori CXMT asal China mengancam daya saing produsen AS dan Korea Selatan.
Kemudian CEO Broadcom, Hock Tan, memperingatkan bahwa belanja AI yang berlebihan berisiko menghasilkan pengembalian investasi yang rendah.
Sentimen ini menekan saham Micron (-4,6%), Lam Research (-3,2%), SanDisk (-1,7%), dan Applied Materials (-7,2%).
Tekanan tambahan datang dari anjloknya saham Johnson & Johnson (-5,6%) akibat penjualan yang melemah serta kinerja sektor keuangan yang bervariasi setelah rilis laporan keuangan, termasuk Citigroup (-5,3%) dan Wells Fargo (-2,6%).
“Menyikapi beragam kondisi tersebut, IHSG hari ini diperkirakan cenderung mixed dengan adanya ruang penguatan terbatas. Disaat yang sama, pelaku pasar terus mencermati perkembangan tensi geopolitik Timur Tengah, yield US Treasury, inflasi AS, & arah kebijakan suku bunga The Fed,” sebut analis FAC Sekuritas dalam riset Rabu (14/10).




