kaspersky|UMKM Asia|usaha kecil dan menengah|Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)|serangan siber

Kaspersky Ungkap Fakta Mengejutkan: 87% UMKM Asia Pasifik Diserang Siber

Oleh: Corri

14 Oktober 2026, 09:00
Kaspersky Ungkap Fakta Mengejutkan: 87% UMKM Asia Pasifik Diserang Siber

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Sebanyak 87% usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Asia Pasifik mengalami setidaknya satu insiden siber dalam setahun terakhir.

Serangan tersebut tidak hanya mengganggu operasional, tetapi juga menyebabkan pencurian data, kerugian finansial, hingga kerusakan permanen aset perusahaan.

Temuan survei global Kaspersky terhadap profesional teknologi informasi (TI) dan keamanan TI di sektor UMKM itu menegaskan tingginya risiko siber yang dihadapi perusahaan dengan kurang dari 500 karyawan.

Eksploitasi kerentanan perangkat lunak menjadi salah satu ancaman paling merusak dengan proporsi 10%, diikuti serangan malware massal dan akses jarak jauh eksternal, masing-masing 7%.

Dampak serangan paling merugikan meliputi pencurian data pribadi klien (25%), gangguan sementara layanan yang berhadapan langsung dengan pelanggan, seperti situs web dan toko daring (23%), serta pencurian data pribadi karyawan (23%).

Selain itu, 21% perusahaan melaporkan kerugian finansial dan persentase yang sama mengalami kehilangan data permanen. Sebanyak 13% lainnya menghadapi kerusakan permanen pada aset perusahaan.

Pencurian Data Jadi Motif Utama

Kaspersky mencatat pencurian data pribadi klien menjadi tujuan utama penyerang di Asia Pasifik, dengan proporsi 34%.

Berikutnya, pencurian informasi internal sensitif, seperti kredensial keuangan dan dokumen hukum, sebesar 31%; data pribadi karyawan (27%); serta upaya menghalangi akses karyawan dan pelanggan ke sumber daya daring (23%).

Dari sisi sasaran, departemen keamanan TI menjadi target 52% serangan paling merusak, disusul departemen TI sebesar 51%.

Departemen layanan pelanggan serta akuntansi dan keuangan masing-masing menjadi sasaran 22% dan 20%.

UMKM Perkuat Pertahanan Siber

Menghadapi ancaman tersebut, perusahaan di Asia Pasifik meningkatkan investasi keamanan siber.

Prioritas mereka mencakup penerapan solusi pemantauan keamanan TI, penguatan kontrol keamanan cloud, dan pengetatan persyaratan kepatuhan pihak ketiga, masing-masing sebesar 24%.

Sebanyak 22% perusahaan juga memprioritaskan pelatihan staf TI, perlindungan perangkat karyawan, pembaruan kebijakan kata sandi, dan penerapan autentikasi multifaktor.

Head of Unified Platform Product Line Kaspersky, Ilya Markelov, mengatakan serangan siber dapat berdampak lebih menghancurkan bagi UMKM dibandingkan perusahaan besar, bahkan mengancam kelangsungan usaha akibat keterbatasan sumber daya.

Karena itu, menurut dia, UMKM membutuhkan solusi keamanan yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan skala bisnis.

Kaspersky menawarkan Next Optimum untuk membantu mencegah, mendeteksi, menyelidiki, dan merespons ancaman, serta memperluas perlindungan terhadap risiko email, cloud, dan kerentanan sistem.

Sementara itu, Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia, menegaskan keamanan siber bukan semata-mata tanggung jawab departemen TI.

Perlindungan bisnis membutuhkan teknologi yang tepat, peningkatan kesadaran karyawan, serta penerapan praktik keamanan digital secara konsisten.

Kaspersky juga menyarankan UMKM menggunakan solusi perlindungan perangkat, menerapkan kontrol akses yang ketat, mencadangkan data setiap hari, memperkuat pengelolaan kata sandi, serta memberikan pelatihan keamanan siber secara berkala.

Persetujuan tim TI untuk pemasangan perangkat lunak baru juga diperlukan guna mengurangi risiko serangan.

Berita Terkini

See More