Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (02/9/2026): Peluang Bullish Masih Ada

Oleh: Ria

02 September 2026, 08:52
ANALIS MARKET (02/9/2026): Peluang Bullish Masih Ada

foto: ilustrasi (ist)

**Pasardana.id **– Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Selasa (09/01/26), mengawali bulan September dengan sentimen negatif setelah lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan tekanan pada pasar saham.

Indeks Nasdaq Composite turun 1,03% ke level 26.099,77, S&P 500 melemah 0,71% ke 7.631,47, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,79% ke 52.766,88.

Pelemahan ini terjadi setelah kinerja pasar yang positif sepanjang bulan Agustus, sehingga investor kini melakukan penyesuaian portofolio di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif, dengan fokus investor beralih pada prospek kebijakan moneter The Fed dan kondisi pasar tenaga kerja AS. Data JOLTS menunjukkan lowongan pekerjaan pada bulan Juli mencapai 7,271 juta, sedikit di bawah perkiraan 7,330 juta, namun meningkat dari 7,182 juta pada bulan Juni. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja tetap relatif tangguh, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap ketat terkait inflasi. Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan September berada di kisaran 68%, sementara investor selanjutnya akan memantau data Nonfarm Payrolls AS sebagai indikator utama arah kebijakan moneter.

GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyusul perselisihan terkait aktivitas penebaran ranjau di Selat Hormuz. Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Yordania, meskipun sejumlah rudal dilaporkan berhasil dicegat. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa AS akan merespons dengan lebih keras jika Iran kembali melakukan serangan. Eskalasi ini meningkatkan risiko gangguan pada jalur distribusi energi global yang melintasi kawasan Timur Tengah.

REGULASI & KEBIJAKAN: Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed semakin menjadi sorotan setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan pandangan hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole. Meningkatnya tekanan inflasi mendorong pasar untuk mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, terutama jika data ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan. Fokus kebijakan kini tertuju pada keseimbangan antara pengendalian inflasi dan risiko pelemahan pasar tenaga kerja, mengingat kenaikan suku bunga yang terlalu agresif berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan menekan profitabilitas perusahaan.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Pasar obligasi global mengalami aksi jual yang mendorong kenaikan imbal hasil (yield) secara luas. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik selama lima sesi berturut-turut menjadi 4,79%, sementara imbal hasil Treasury tenor 2 tahun naik 5 basis poin (bps) menjadi 4,41%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan kekhawatiran yang meningkat mengenai inflasi dan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat. Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke atas level 99,6 di tengah kenaikan imbal hasil tersebut, sementara Euro melemah ke bawah US$1,16. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke kisaran 3%—level tertinggi sejak 1996—sementara Yen bergerak di kisaran JPY160 per Dolar AS, sehingga meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi intervensi oleh otoritas Jepang.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa ditutup melemah secara umum. Indeks DAX Jerman turun sekitar 1,1% menjadi 25.958, FTSE 100 Inggris melemah 0,4%, CAC 40 Prancis turun 0,4%, dan FTSE MIB Italia terkoreksi 1,3% menjadi 51.915. Indeks STOXX Europe 600 juga turun 0,56% menjadi 647,46, dengan saham sektor pertambangan termasuk di antara sektor yang berada di bawah tekanan.

-Pasar Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,15% menjadi 66.215, meskipun indeks Topix naik 0,62% menjadi 4.182. Shanghai Composite melemah 0,16% menjadi 3.979,9 dan Shenzhen Component turun 1,02%. Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,9% menjadi 25.330, sementara KOSPI Korea Selatan justru menguat 0,23% menjadi 6.836. Di Asia Tenggara, indeks FKLCI Malaysia turun 1,47%, sementara indeks STI Singapura melemah 0,78%.

KOMODITAS: Harga komoditas menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan sektor energi sebagai fokus utama. Harga minyak Brent melonjak hingga di atas US$95/barel dan minyak WTI mendekati US$91/barel, melanjutkan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Harga batu bara juga naik 2,19% menjadi di atas US$144/ton, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Sebaliknya, harga emas turun 2,63% ke kisaran US$4.324/oz karena kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Harga nikel melemah 1,36% ke kisaran US$16.675/ton di tengah surplus persediaan nikel olahan dan lemahnya permintaan dari Tiongkok, sementara harga minyak kelapa sawit Malaysia menguat sekitar 1,61% menjadi MYR4.973/ton.

AGENDA HARI INI:

-Australia (AU): Tingkat Pertumbuhan PDB Kuartal II (QoQ).

-Kanada (CA): Keputusan Suku Bunga Bank of Canada (BoC).

INDONESIA: Inflasi Indonesia diperkirakan tetap berada pada tingkat yang terkendali dalam beberapa bulan mendatang, meskipun tekanan harga pangan dan risiko eksternal masih perlu dicermati. Inflasi umum (headline inflation) pada Agustus 2026 naik menjadi 3,2% (YoY) dari 2,9% (YoY) pada bulan Juli, dengan inflasi bulanan sebesar 0,2% dan inflasi inti tetap moderat di angka 2,9% (YoY). Kenaikan tersebut terutama berasal dari kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) yang mencatat inflasi sebesar 4,1% (YoY), terutama akibat kenaikan harga daging ayam, telur, dan cabai. Ekonom Utama Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menilai tekanan inflasi domestik belum mencerminkan permintaan yang berlebihan, sehingga stabilitas rupiah dan kondisi pembiayaan eksternal diperkirakan akan menjadi pertimbangan yang lebih penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter.

-Selain itu, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi risiko penurunan hingga akhir tahun 2026 akibat kuatnya permintaan domestik yang mendorong impor, sementara ekspor berpotensi tertekan oleh melambatnya permintaan global dan ketidakpastian geopolitik. Surplus perdagangan periode Januari–Juli 2026 hanya mencapai US$3,70 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan US$23,77 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Bank Permata memperkirakan defisit transaksi berjalan dapat melebar menjadi 2,49% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,09% pada tahun 2025, sementara cadangan devisa diproyeksikan turun ke kisaran US$143–147 miliar pada akhir tahun. Dari sisi fiskal, penerimaan pajak periode Januari–Agustus 2026 tumbuh 24,1% secara tahunan (year-on-year) dan diperkirakan mencapai sekitar Rp1.409,1 triliun, atau 59,8% dari target APBN 2026, meskipun masih terdapat risiko kekurangan penerimaan (shortfall) sebesar Rp80–140 triliun hingga akhir tahun.

-IHSG ditutup menguat 1,14% di level 6.599,94 pada perdagangan hari Selasa (09/01/2026), setelah bergerak di rentang 6.535,80–6.608,18 sepanjang sesi dan dibuka pada level 6.538,12. Kenaikan indeks didukung oleh derasnya aliran masuk dana asing, di mana investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp1,76 triliun di Pasar Reguler. Aksi beli asing terutama terlihat pada saham BBRI, BBCA, BUMI, BMRI, dan CUAN, sementara tekanan jual terbesar tercatat pada saham KOTA, ISAT, EMAS, BRMS, dan ITMG. Nilai tukar Rupiah bergerak relatif stabil di kisaran Rp17.730 per Dolar AS pada awal September, tidak banyak berubah dibandingkan sesi sebelumnya. Pergerakan terbatas ini mencerminkan sikap wait-and-see pelaku pasar dalam merespons berbagai sinyal dari perkembangan pasar domestik maupun global.

-Secara teknikal, IHSG berhasil melanjutkan tren penguatannya (uptrend). Indikator RSI (14) kembali naik ke level 64, mengindikasikan bahwa momentum bullish masih memiliki ruang untuk berlanjut. Selama IHSG mampu bertahan di atas EMA10 pada area 6.491, peluang penguatan tetap terbuka untuk menguji kembali level resistansi 6.635 dan menutup area gap di level 6.733, dengan area gap berikutnya berada di level 6.858. Sebaliknya, jika terjadi aksi ambil untung (profit-taking), IHSG dapat terkoreksi kembali menuju level support di 6.551, 6.491 (EMA10), dan 6.454.

“Kami menyarankan strategi yang patut dipertimbangkan, yaitu mempertahankan posisi (hold) atau melakukan average up secara selektif selama IHSG mampu bertahan di atas area support, sementara investor perlu meningkatkan kewaspadaan jika indeks menembus level support tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (02/9).

Berita Terkini

See More