Mirae Asset Buka Kartu: WINS Berpotensi Melonjak, Target Rp1.100 di Tengah Tekanan IHSG
Oleh: Harry

Foto: Istimewa
Pasardana.id - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat pasar saham domestik masih menghadapi tekanan dari sentimen eksternal yang kembali menguji risk appetite investor.
Di tengah kondisi tersebut, investor perlu mencermati perkembangan likuiditas, arus dana asing, serta peluang di sektor-sektor yang memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang kuat.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan IHSG turun 0,88% ke level 6.385 dan kembali berada di bawah level 6.400 setelah sempat mengalami tekanan intraday.
Investor asing juga mencatat net sell di pasar reguler mencapai Rp503 miliar, sehingga akumulasi net sell dalam enam hari terakhir mencapai sekitar Rp3,4 triliun.
“Tekanan tetap terkonsentrasi pada large caps, dengan BMRI, ANTM, BBCA, dan TLKM mencatat net sell terbesar kemarin,” ujar Rully.
Menurut Rully, tekanan eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi risk appetite investor.
Rupiah melemah ke Rp17.847 per dolar AS, sementara suku bunga global tetap tinggi setelah kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut membuat ruang kebijakan moneter domestik tetap perlu diperhatikan.
“Menjelang RDG BI, fokus pasar bukan hanya pada BI-Rate, tetapi juga pada kemampuan BI menjaga stabilitas Rupiah tanpa memperketat likuiditas domestik secara berlebihan. Kami memperkirakan BI-Rate tetap 5,75%. Untuk IHSG, stabilisasi foreign flows khususnya kembalinya demand pada liquid large caps akan menjadi kunci bagi indeks untuk kembali ke atas 6.400,” jelas Rully, dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).
Sementara itu, di tengah pasar yang masih selektif, sektor offshore marine berpeluang mendapat manfaat dari meningkatnya kebutuhan kapal pendukung eksplorasi dan produksi migas.
Wilbert Arifin, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai proyek deepwater Indonesia berpotensi mendorong kekurangan kapal DP2, seiring kenaikan upstream capex dan penerapan TKDN.
“Indonesia masih membutuhkan tambahan armada kapal DP2 seiring meningkatnya aktivitas offshore. Proyek Strategis Nasional (PSN) migas Indonesia merupakan proyek deepwater yang kini masuk tahap konstruksi. IDD dan North Hub milik Eni saja membutuhkan lima hingga tujuh platform supply vessel (PSV) dengan dynamic positioning class 2 (DP2), dan kami memperkirakan permintaan DP2 PSV domestik akan naik sekitar dua kali lipat dalam tiga tahun,” ujar Wilbert.
Kebutuhan tersebut juga didukung tender-tender baru, dengan WINS sebagai salah satu pemilik OSV terbesar di Indonesia dan armada DP2 terbesar ke-3 di APAC.
Hampir setiap tender PSN mensyaratkan kapal DP2.
Dari sisi kinerja, EPS WINS diperkirakan naik 74% CAGR menjadi Rp286 pada FY29F, didukung kenaikan utilisasi dan DCR yang diperkirakan meningkat 18% CAGR dari USD8,400 menjadi USD13,800 per hari.
“Prospek jangka pendek lebih lemah. Laba bersih FY26E kami untuk WINS mencapai Rp224 miliar, sebelum meningkat kembali di FY27F dan melonjak 3,5 kali pada FY28F,” jelas Wilbert.
Adapun Mirae Asset Sekuritas menginisiasi coverage WINS dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp1.100 per saham, merefleksikan upside 88%, berdasarkan DCF lima tahun dengan WACC 11,3% dan terminal multiple 5x EV/EBITDA serta P/B FY27F 1,1x.
Valuasi tersebut setara P/E FY28F 2,4x. Wilbert menilai valuasi WINS masih menarik, sementara harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan potensi peningkatan permintaan kapal offshore dari proyek migas domestik.
“Risiko utama adalah mundurnya final investment decision (FID) proyek PSN, keterlambatan pengiriman kapal, dan harga minyak di bawah US$50 per barel,” tutup Wilbert.




