Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (21/9/2026): Momentum Jangka Pendek Cenderung Bearish

Oleh: Ria

21 September 2026, 09:08
ANALIS MARKET (21/9/2026): Momentum Jangka Pendek Cenderung Bearish

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan hari Jumat (18/09/26).

Indeks S&P 500 naik 0,17% ke level 7.650,50 dan Nasdaq Composite menguat 0,39% ke level 26.522,54, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke level 51.682,64.

Kenaikan pada S&P 500 dan Nasdaq terutama didorong oleh saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor, dengan Lam Research, Seagate Technology, dan Applied Materials mencatatkan kinerja terbaik.

Sebaliknya, IBM, Disney, dan Nike menjadi penekan utama bagi Dow Jones, di mana saham Nike jatuh ke level terendah dalam lima tahun terakhir.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung beragam seiring langkah investor melakukan rotasi portofolio di tengah perbedaan kinerja antar-sektor. Saham teknologi dan semikonduktor kembali menarik minat beli, sementara sektor defensif dan material dasar berada di bawah tekanan. Market breadth (cakupan pergerakan pasar) relatif lemah, tercermin dari jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik, baik di NYSE maupun Nasdaq. Selanjutnya, investor akan memantau perkembangan kebijakan moneter dan data ekonomi untuk menentukan arah pergerakan pasar berikutnya.

GEOPOLITIK: Perhatian investor tetap tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya risiko terhadap jalur distribusi energi global. Namun, indikasi bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz tetap tinggi membuat pasar menilai potensi gangguan pasokan tidak separah kekhawatiran sebelumnya.

REGULASI & KEBIJAKAN: Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,25%, sesuai dengan ekspektasi pasar dan mencapai level tertinggi sejak tahun 1995. Keputusan ini diwarnai perbedaan pendapat dari dua pejabat BoJ, yang mencerminkan adanya perbedaan pandangan di dalam bank sentral mengenai arah kebijakan moneter. Perhatian kini beralih pada respons ekonomi dan pasar keuangan Jepang terhadap normalisasi kebijakan ini.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik 7 bps menjadi 5,00%, sementara yield tenor 2 tahun naik 7 bps menjadi 4,75%, yang mengindikasikan meningkatnya tekanan di pasar obligasi AS. Di Jepang, yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun turun ke kisaran 2,95% dan yield JGB tenor 2 tahun turun 1 bps menjadi 1,85%. Di pasar valuta asing, indeks DXY naik ke level 100,4—level tertinggi dalam sekitar 1,5 bulan—sementara Yen melemah melampaui level JPY157/USD, mencapai titik terendah dalam dua minggu.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa ditutup melemah secara umum. Indeks FTSE 100 turun 1,5%, DAX 40 turun 1,6% ke level 25.296, CAC 40 melemah 1,5% ke 8.065, dan FTSE MIB terkoreksi 1,7% ke 51.545. Indeks EU600 berada di posisi 635,45, turun 2,41% selama empat minggu terakhir.

-Pasar Asia bergerak variatif. Nikkei 225 naik 0,9% ke atas level 64.600, Shanghai Composite menguat 0,94% ke 3.911,9, Shenzhen Component naik 1,72% ke 13.640,9, dan Indeks Hang Seng naik 0,6% ke 24.751. KOSPI mencatat kenaikan terbesar, yakni 2,66% ke level 6.894. Sebaliknya, BSE Sensex turun sekitar 20 poin ke 74.295, FKLCI Malaysia melemah 0,55% ke 1.666, dan STI Singapura turun 0,08% ke 5.656.

KOMODITAS: Harga komoditas bergerak variatif, dengan tekanan terutama terjadi pada sektor energi. Harga minyak Brent turun 0,91% menjadi US$103,87 per barel, sementara minyak mentah turun 1,58% dan kembali ke bawah level US$100 per barel; ini menandai penurunan selama tiga sesi berturut-turut setelah pasar menilai bahwa gangguan pasokan dari Arab Saudi lebih terbatas daripada perkiraan sebelumnya. Harga batu bara turun 0,45% ke kisaran US$144 per ton, meskipun masih berada di dekat level tertinggi tiga bulan di tengah meningkatnya potensi substitusi gas dan minyak dengan pembangkit listrik berbasis batu bara. Harga emas naik 0,97% menjadi US$4.383/oz, mencatatkan kenaikan mingguan pertamanya dalam empat minggu. Harga tembaga naik 0,43% menjadi US$6,615/lb, didukung oleh indikasi peningkatan permintaan dari Tiongkok. Harga minyak sawit Malaysia naik 1,70% menjadi MYR4.898/ton, sementara harga timah naik 1,45% menjadi US$53.026/ton dan harga nikel turun 0,18% menjadi US$16.235/ton.

AGENDA HARI INI:

-Tiongkok (CN): Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun.

-Turki (TR): Indeks Keyakinan Bisnis bulan September.

-Amerika Serikat (AS): Pidato pejabat The Fed dan Indeks Aktivitas Nasional Chicago Fed bulan Agustus.

-Brasil (BR): Ringkasan Survei Pasar BCB.

INDONESIA: Pemerintah mengonfirmasi bahwa kebijakan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga Rp200 triliun di perbankan akan berlanjut hingga akhir tahun 2026 dan diperpanjang sampai Juli 2027, meskipun terjadi pergantian Menteri Keuangan. Saat ini, posisi penempatan SAL berada di kisaran Rp299 triliun, sementara tingkat penempatan yang akan dipertahankan pemerintah adalah Rp200 triliun. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kepastian pendanaan bagi Himbara (bank-bank BUMN), mengurangi ketergantungan pada deposito berbiaya tinggi, serta menurunkan biaya dana (cost of funds) guna mendukung ekspansi kredit. Dari sisi likuiditas, BNI mencatat LDR sebesar 86,88% dan Mandiri 94,37% per Agustus 2026, sementara BTN menghadapi likuiditas yang lebih ketat dengan LDR 96,40% dan BRI berada di angka 89,69% per Juli 2026. Perpanjangan penempatan SAL berpotensi mendukung likuiditas perbankan, meskipun efektivitasnya akan bergantung pada penyaluran dana ke sektor-sektor produktif.

-Selain itu, penerimaan pajak ekonomi digital mencapai sekitar Rp11,2 triliun hingga Agustus 2026, yang terdiri dari PPN PMSE sebesar Rp8,38 triliun, pajak SIPP sebesar Rp1,67 triliun, pajak fintech sebesar Rp878,18 miliar, dan pajak aset kripto sebesar Rp268,95 miliar. Secara kumulatif sejak tahun 2022, penerimaan pajak ekonomi digital telah mencapai Rp57,23 triliun, dengan PPN PMSE sebagai kontributor terbesar senilai Rp44,05 triliun. Hingga Agustus 2026, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menunjuk 277 pelaku usaha PMSE (e-commerce) sebagai pemungut PPN, yang mengindikasikan semakin luasnya basis pajak digital. Tren ini berpotensi memperkuat penerimaan negara sekaligus menciptakan perlakuan pajak yang lebih setara antara bisnis digital dan konvensional.

-IHSG ditutup turun 0,33% di level 6.441,16 pada hari Jumat (18/9), di tengah tekanan jual investor asing yang mencapai Rp1,78 triliun di pasar reguler, sehingga akumulasi jual bersih sejak awal tahun (YTD) menjadi Rp101,33 triliun. Arus masuk dana asing masih terkonsentrasi pada saham ANTM, BRMS, MDKA, AADI, dan INCO, sementara aksi jual terbesar terjadi pada BBCA, BMRI, AMMN, TLKM, dan DSSA. Dari sisi makro, nilai tukar Rupiah kembali melemah ke atas level Rp17.750/USD, mencerminkan tekanan eksternal di tengah posisi Dolar AS yang tetap tinggi setelah sempat mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu.

-Secara teknikal, IHSG kembali terkoreksi dan ditutup di level 6.441,16—di bawah EMA10 (6.508,57) dan EMA20 (6.504,24)—serta kembali bergerak di bawah level Fibonacci retracement 38,20% di angka 6.451,53. Namun, IHSG masih bertahan sedikit di atas EMA50 (6.432,06), sehingga tekanan koreksi belum sepenuhnya mengubah tren jangka menengah. Posisi ini mengindikasikan momentum jangka pendek cenderung bearish, dengan area 6.432–6.377 menjadi level support penting yang perlu dipertahankan. Indikator RSI (14) turun ke level 46,69 dan kembali bergerak di bawah level 50, yang menandakan momentum bullish mulai melemah. Jika IHSG gagal bertahan di atas area 6.432–6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju level 6.290 (FR 61,80%). Sebaliknya, jika terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus area 6.452–6.504, diikuti oleh level 6.509–6.552 sebagai resistance terdekat, sebelum menguji area 6.590–6.732.

“Kami menyarankan investor untuk bersikap wait and see sembari memantau kemampuan IHSG untuk bertahan di atas level 6.432–6.377 yang merupakan area support utama. Investor yang telah mencatatkan keuntungan dapat menerapkan strategi trailing stop atau melakukan aksi ambil untung secara bertahap, sementara akumulasi pembelian sebaiknya dilakukan secara selektif setelah adanya konfirmasi rebound dan IHSG berhasil menembus kembali area resistance terdekat,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (21/9).

Berita Terkini

See More