Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (07/8/2026): Dibayangi Aksi Profit Taking, IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi Wajar

Oleh: Ria

07 Agustus 2026, 09:01
ANALIS MARKET (07/8/2026): Dibayangi Aksi Profit Taking, IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi Wajar

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuirtas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Kamis (08/06/26) di tengah kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Indeks S&P 500 turun 0,18% ke level 7.709,96, Nasdaq Composite melemah 0,06% ke 26.348,35, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,85% ke 53.885,10.

Investor juga melakukan aksi ambil untung setelah reli yang kuat di awal bulan Agustus.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung berhati-hati menjelang rilis data Nonfarm Payrolls AS, yang diperkirakan akan menjadi penentu utama arah kebijakan Federal Reserve. Sementara itu, saham-saham teknologi tetap menjadi sorotan setelah Sandisk dan Western Digital terkoreksi tajam akibat panduan bisnis yang mengecewakan, meskipun kinerja kuartalan mereka melampaui ekspektasi.

GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran mempertimbangkan untuk membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan telah menyerang beberapa target di wilayah tersebut. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi global.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus pasar tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls bulan Juli yang akan dirilis pada hari Jumat, sebagai tolok ukur utama dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya. Data ketenagakerjaan ini diperkirakan akan memengaruhi pergerakan pasar obligasi dan ekspektasi suku bunga, terutama di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) menguat tipis ke level 99,8 namun tetap berada di dekat level terendahnya dalam tujuh minggu. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,67%, sementara yield tenor 2 tahun naik menjadi 4,24%, mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa The Fed mungkin terlambat dalam mengendalikan inflasi. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,78%, sementara yen diperdagangkan di kisaran JPY157,6 per dolar AS. Nilai tukar euro bertahan di kisaran US$1,154, mendekati level tertinggi dalam tujuh minggu.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar ditutup menguat. Indeks DAX Jerman naik tipis 0,05% dan tetap berada di dekat rekor tertingginya. Indeks CAC 40 Prancis menguat 0,30%, mencatatkan kenaikan selama enam sesi berturut-turut yang didorong oleh sektor barang mewah. Indeks FTSE MIB Italia naik 0,51%, sementara indeks STOXX Europe 600 menguat 0,16%. Sebaliknya, indeks FTSE 100 Inggris turun tipis 0,19% akibat tekanan dari saham-saham yang diperdagangkan secara ex-dividend.

-Pergerakan pasar Asia bervariasi. Indeks Shanghai Composite menguat 0,57% berkat kenaikan saham pertambangan emas, sementara indeks BSE Sensex India naik 0,50% ke level tertinggi sejak bulan April. Indeks STI Singapura menguat 1,03%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,93%, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,50%, indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 4,58% akibat aksi jual pada saham semikonduktor, dan indeks FKLCI Malaysia turun 0,63%.

KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas didominasi oleh penguatan sektor energi. Harga minyak Brent naik lebih dari 4% menjadi sekitar US$82,8/barel, sementara WTI menguat sekitar 3% menjadi US$77,5/barel menyusul laporan mengenai pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Harga emas bertahan di atas US$4.250/oz meskipun sempat turun tipis sebesar 0,04%, sementara harga tembaga mencetak rekor tertinggi baru di atas US$6,7/lb. Harga timah naik 1,30% menjadi sekitar US$56.718/ton, sedangkan harga nikel turun 2,45% menjadi sekitar US$16.720/ton di tengah ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia. Harga batu bara termal melemah 1,57% menjadi US$128/ton akibat peningkatan produksi batu bara India yang mengurangi ketergantungan terhadap impor.

AGENDA HARI INI:

-Tiongkok (CN): Neraca Perdagangan Juli, Ekspor Juli (YoY), dan Impor Juli (YoY).

-Indonesia (ID): Cadangan Devisa Juli dan Indeks Harga Properti Kuartal II (YoY).

-Jerman (DE): Neraca Perdagangan Juni.

-Kanada (CA): Tingkat Pengangguran Juli dan Ivey PMI (disesuaikan secara musiman/s.a.) Juli.

-Amerika Serikat (US): Nonfarm Payrolls Juli dan Tingkat Pengangguran Juli.

INDONESIA: Pemerintah tetap optimistis bahwa momentum pertumbuhan ekonomi akan terjaga pada semester kedua tahun 2026 setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% (YoY) pada kuartal II 2026. Untuk mendukung daya beli masyarakat, pemerintah sedang menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun, yang mencakup bantuan sosial, insentif transportasi, dukungan sektor pariwisata, pelatihan tenaga kerja, dan menjaga stabilitas harga bahan bakar hingga akhir tahun. Optimisme ini juga didukung oleh inflasi yang terkendali, PMI manufaktur yang kembali ke zona ekspansi, serta pertumbuhan kredit yang tetap solid.

-Selain itu, rasio pajak Indonesia pada semester pertama tahun 2026 meningkat menjadi 9,32% dari 8,42% pada periode yang sama tahun lalu, atau 10,44% jika memasukkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam. Meskipun ada perbaikan, beberapa pengamat menilai target rasio pajak dalam APBN 2026 masih menantang akibat potensi restitusi pajak yang belum dibayarkan dan pola musiman penerimaan pajak. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis rasio pajak dapat mencapai 11% pada akhir tahun 2026, didukung oleh pertumbuhan penerimaan pajak yang masih mencapai sekitar 24% (YoY).

-IHSG ditutup turun 0,12% di level 6.343,71. Sepanjang perdagangan hari Kamis (08/06), IHSG bergerak di kisaran 6.324,06 – 6.388,20. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp217,24 miliar di Pasar Reguler, sementara di seluruh pasar, mereka juga mencatatkan jual bersih sebesar Rp273,47 miliar. Aliran masuk dana asing terutama tertuju pada saham DSSA, TPIA, PTRO, BBRI, dan BBNI, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham BBCA, EMAS, TLKM, ANTM, dan BRMS. Di pasar valuta asing, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.900 per dolar AS pada hari Kamis (08/06), melemah tipis di tengah sikap wait-and-see pelaku pasar menjelang rilis data cadangan devisa Bank Indonesia dan kekhawatiran akan potensi defisit neraca perdagangan akibat tingginya impor minyak mentah.

-Secara teknikal, IHSG membentuk candle bearish setelah gagal mempertahankan kekuatannya di area resistansi 6.377, meskipun koreksi ini masih dianggap wajar karena indeks tetap berada di atas EMA20 (6.195) dan EMA50 (6.254) serta masih bertahan di atas garis tren naik (uptrend) jangka pendek. Sementara itu, EMA10 (6.257) juga tetap berada di atas EMA20 dan EMA50, yang mengindikasikan struktur bullish jangka pendek masih terjaga. Indikator RSI (14) berada di level 61,09, sedikit melandai namun masih di atas level 50, menunjukkan momentum beli masih dominan meskipun terjadi aksi ambil untung (profit-taking) setelah reli baru-baru ini. Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.320–6.330, peluang penguatan lanjutan menuju level 6.377 hingga 6.420 tetap terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan menembus area tren naik serta level 6.320, IHSG berisiko melanjutkan koreksi sehat untuk menguji area EMA50 sebelum kembali melanjutkan tren naiknya.

“Kami menyarankan untuk mewaspadai aksi ambil untung di area resistansi dan melakukan akumulasi kembali hanya jika IHSG mampu bertahan di atas level 6.320,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (07/8).

Berita Terkini

See More