ANALIS MARKET (10/8/2026): IHSG Masih Punya Ruang untuk Melanjutkan Penguatan
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup menguat pada hari Jumat (26/07/2024), dengan indeks S&P 500 naik 0,62%, Nasdaq 1,30%, dan Dow Jones 0,28%, didukung oleh kinerja laba kuartal kedua yang solid.
Sekitar 86% dari lebih dari 440 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja keuangan mencatatkan hasil yang melampaui estimasi analis, sementara pertumbuhan laba gabungan (blended earnings) mencapai sekitar 50% secara tahunan (YoY)—angka tertinggi sejak masa pemulihan tahun 2021.
Kenaikan ini dipimpin oleh sektor teknologi, barang konsumsi non-primer (consumer discretionary), komunikasi, dan energi, dengan Airbnb, Microchip Technology, dan Palantir sebagai beberapa perusahaan dengan kenaikan terbesar.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif setelah data nonfarm payrolls AS turun sebanyak 23.000 dan data periode Mei–Juni direvisi turun dengan total 103.000, sehingga meningkatkan ekspektasi akan pemangkasan suku bunga The Fed. Indeks VIX turun 1,72% ke level 14,89—level terendah dalam enam bulan—yang mengindikasikan volatilitas pasar tetap rendah. Fokus investor kini beralih ke data inflasi dan indikator ekonomi AS sebagai penentu arah kebijakan moneter.
GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz tetap menjadi risiko utama, karena hal-hal tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini juga berpotensi membatasi ruang bagi pelonggaran kebijakan bank sentral.
REGULASI & KEBIJAKAN: Pelemahan pasar tenaga kerja telah meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan The Fed, meskipun bank sentral tetap perlu mempertimbangkan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi. Investor akan memantau data ekonomi dan inflasi mendatang untuk mengukur probabilitas pemangkasan suku bunga.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun 7 basis poin (bps) menjadi 4,60%, sementara indeks DXY melemah 0,32% ke level 99,49 dan pasangan mata uang USD/JPY turun 0,43% ke level 157,75. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah (JGB) tenor 10 tahun naik ke sekitar 2,78%, mencerminkan kekhawatiran inflasi yang meningkat akibat kenaikan harga energi.
PASAR EROPA & ASIA:
-Eropa: Pasar sebagian besar menguat. Indeks DAX Jerman naik sekitar 0,7% ke level 26.355 dan mencetak rekor baru, sementara CAC 40 naik 0,2% ke 8.715. STOXX Europe 600 naik 0,31% ke 660,25, sedangkan FTSE 100 bergerak relatif stabil.
-Asia: Pergerakan pasar bervariasi. Shanghai Composite naik 1,02%, Shenzhen Component +1,42%, Hang Seng +0,5%, dan STI Singapura +1,05%. Sebaliknya, Nikkei turun 0,12%, KOSPI 0,60%, Sensex sekitar 0,6%, dan KLCI 0,08%.
KOMODITAS: Emas naik 2,24% menjadi US$4.395,82/oz dan tembaga menguat 1,74% menjadi US$6,57/lb, sementara WTI turun 0,31% menjadi US$77,05/barel dan Brent melemah 0,36% menjadi US$82,19/barel. Batu bara termal turun 0,31% menjadi US$127/ton, minyak kelapa sawit turun 0,19% menjadi MYR4.677/ton, timah turun 1,10% menjadi US$56.095/ton, dan nikel turun 1,50% menjadi US$16.690/ton.
AGENDA HARI INI:
-Jepang (JP): Ringkasan Pendapat BoJ dan Neraca Transaksi Berjalan bulan Juni.
-Indonesia (ID): Keyakinan Konsumen bulan Juli.
INDONESIA: Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 turun tipis menjadi US$145,3 miliar dari US$145,6 miliar pada bulan Juni, namun masih setara dengan pembiayaan impor selama 5,5 bulan, atau 5,3 bulan untuk impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—angka yang jauh melampaui standar internasional sekitar tiga bulan. Sementara itu, pemerintah menunda penerapan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,5% melalui marketplace hingga 1 November 2026 demi menjaga daya beli. Tokopedia telah mengonfirmasi bahwa seluruh PPh Pasal 22 yang sebelumnya dipungut dari transaksi penjual akan dikembalikan paling lambat 30 September 2026. Penundaan ini patut dicermati mengingat konsumsi rumah tangga dan kemampuan menabung masyarakat belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Di sisi lain, klaim pertumbuhan pendapatan Danantara sebesar sekitar 400% perlu ditelaah lebih lanjut dari segi kualitas laba operasional, arus kas, dan ROA, bukan sekadar pertumbuhan pendapatan secara nominal.
-IHSG ditutup menguat 1,04% di level 6.409,65 pada hari Jumat (08/07), dengan investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp917,23 miliar di Pasar Reguler dan Rp1,24 triliun di seluruh pasar. Aliran dana masuk terbesar tertuju pada saham BBRI, TPIA, ANTM, TINS, dan BRPT, sementara tekanan jual terbesar terjadi pada BBCA, BULL, BMRI, EMAS, dan UNTR. Nilai tukar Rupiah juga menguat 0,61% menjadi Rp17.801/US$, didukung oleh aliran masuk dana asing dan kondisi eksternal domestik yang relatif solid. Seiring dengan meningkatnya partisipasi investor, BEI mencatat jumlah investor saham mencapai 10,05 juta SID per 7 Agustus 2026—naik 16,83% secara year-to-date (YTD) dibandingkan akhir tahun 2025—yang mencerminkan partisipasi masyarakat yang lebih luas di pasar modal.
-Secara teknikal, IHSG berhasil menembus level resistansi 6.377 dan bertahan di atas EMA10 serta EMA20, yang mengonfirmasi pola bullish setelah fase konsolidasi. Nilai RSI (14) di angka 64,23 menunjukkan bahwa momentum positif masih kuat. Selama bertahan di atas level 6.377, IHSG memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju kisaran 6.454–6.500, dengan target pola berikutnya di sekitar 6.631. Sebaliknya, penurunan di bawah 6.377 berisiko menjadi false breakout dan memicu koreksi menuju 6.347, kemudian ke kisaran 6.284–6.260.
“Kami menyarankan strategi hold atau akumulasi saat harga melemah (buy on weakness), disertai penerapan trailing stop jika IHSG kembali ditutup di bawah level 6.377,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (10/8).




