ANALIS MARKET (23/9/2026): Tren Bearish Mulai Terbatas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada hari Selasa (22 September 2026), di mana reli kuat pada sesi sebelumnya sempat tertahan akibat pelemahan saham sektor keuangan, namun diimbangi oleh kenaikan saham teknologi dan AI.
Indeks S&P 500 berakhir relatif datar di level 7.764,70, Nasdaq Composite naik 0,45% menjadi 27.122,09 dan mencatatkan rekor penutupan baru, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,36% ke level 52.048,83.
Kekuatan di sektor AI tetap menjadi pendorong pasar, dengan agen AI Muse milik Meta menjadi salah satu katalis terbaru.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung beragam seiring investor terus memantau arah kebijakan Federal Reserve, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, dan pergerakan harga minyak. Pernyataan dari para pejabat The Fed menyoroti kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang masih sulit turun. Presiden The Fed Chicago, Goolsbee, mencatat bahwa bank sentral tidak dapat mengabaikan guncangan pasokan yang sedang berlangsung, sementara Presiden The Fed St. Louis, Musalem, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target. Pasar saat ini memperhitungkan setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini. Di sisi lain, saham teknologi dan AI terus mendapat dukungan menyusul respons positif terhadap produk AI terbaru Meta.
GEOPOLITIK: Fokus geopolitik tertuju pada Sidang Umum PBB setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan setelah pemilihan paruh waktu AS pada bulan November. Trump juga mengatakan bahwa pasokan minyak saat ini berada pada tingkat tertinggi sejak perang dimulai dan harga minyak bisa turun tajam setelah konflik berakhir. Perkembangan pembicaraan AS-Iran menjadi fokus utama karena potensi dampaknya terhadap pasokan minyak global dan aktivitas di Selat Hormuz. Iran juga dilaporkan siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika AS mengambil langkah untuk melonggarkan blokade yang membatasi ekspor minyaknya.
REGULASI & KEBIJAKAN: The Fed masih menghadapi perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi dan guncangan pasokan. Presiden The Fed Chicago, Goolsbee, menekankan bahwa tekanan pasokan masih perlu diperhatikan, sementara Presiden The Fed St. Louis, Musalem, membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut. Di Jepang, Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,25%, sesuai dengan ekspektasi pasar, meskipun dua pejabat menyatakan keberatan terhadap keputusan tersebut.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun berfluktuasi sebelum ditutup sedikit lebih tinggi di level 4,97%, sementara imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun bertahan di angka 4,75%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan fokus investor pada inflasi, kebijakan The Fed, harga minyak, dan perkembangan situasi di Timur Tengah. Di Jepang, imbal hasil JGB tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,98%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun stabil di angka 1,85%. Yen melemah ke kisaran JPY157,5 per Dolar AS, mencatatkan penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Sementara itu, indeks DXY naik tipis ke level 100,6, mendekati level tertinggi sejak akhir Juli.
PASAR EROPA & ASIA: Bursa saham Eropa bergerak variatif. Indeks FTSE 100 Inggris melemah di tengah perdagangan yang fluktuatif seiring investor memantau ketidakpastian terkait pemulihan aliran energi melalui Selat Hormuz. Indeks DAX 40 Jerman relatif stagnan di level 25.579, sementara indeks CAC 40 Prancis naik 0,2% menjadi 8.155 karena penurunan harga energi membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Indeks FTSE MIB Italia turun 0,5% menjadi 52.096 akibat tekanan pada saham-saham sektor keuangan. Indeks EU600 naik 0,13% menjadi 642,78.
-Bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,38% menjadi 65.019, melanjutkan penguatan selama tiga sesi setelah BoJ menaikkan suku bunga. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,2% menjadi 25.088, didukung oleh saham-saham sektor AI dan semikonduktor serta penurunan harga minyak. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,15% menjadi 7.018, sementara indeks Shanghai Composite relatif stagnan di sekitar 3.952,1 dan indeks Shenzhen Component turun tipis ke level 13.723,7. Indeks BSE Sensex India turun sekitar 0,4% ke level 74.529,1. Di Asia Tenggara, indeks KLCI Malaysia naik 0,99% menjadi 1.683, sementara indeks STI Singapura menguat 0,86% ke level 5.724.
KOMODITAS: Harga komoditas cenderung bervariasi dengan tekanan terutama terjadi pada sektor energi. Minyak mentah Brent berada di kisaran US$98,42 per barel (turun 1,92%), sedangkan minyak mentah WTI berada di sekitar US$89,85 per barel (turun 2,73%), melanjutkan penurunan selama enam sesi berturut-turut di tengah perkembangan positif dalam pembicaraan AS-Iran. Harga emas berada di kisaran US$4.363 per ons, sementara harga tembaga naik 2,08% menjadi di atas US$6,82 per pon—mencatatkan kenaikan selama enam sesi berturut-turut akibat kekhawatiran pasokan. Batu bara termal Australia berada di kisaran US$145 per ton, CPO Malaysia bertahan di atas MYR4.810 per ton, harga timah naik 0,45% menjadi US$53.944 per ton, dan harga nikel menguat 1,34% menjadi sekitar US$16.605 per ton di tengah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Indonesia.
AGENDA HARI INI:
-Jerman (DE): S&P Global Manufacturing PMI Flash bulan September.
-Inggris Raya (GB): S&P Global Manufacturing PMI Flash dan S&P Global Services PMI Flash bulan September.
-Indonesia (ID): Keputusan suku bunga, Deposit Facility Rate, Lending Facility Rate, dan pertumbuhan kredit (YoY) bulan Agustus.
INDONESIA: Presiden Prabowo Subianto meminta agar proses penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) segera dirampungkan. Saat ini, dokumen IEU-CEPA sedang diterjemahkan dan diselesaikan dalam bahasa Inggris sebelum diproses di Parlemen Eropa dan kemudian dibawa ke Indonesia untuk diratifikasi. Pemerintah menargetkan ratifikasi dilakukan pada semester kedua tahun 2026 agar implementasi IEU-CEPA dapat dimulai pada awal tahun 2027. Kesepakatan ini diharapkan dapat memperluas akses pasar ekspor, mendorong perdagangan dan investasi, serta memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa. Selain itu, kunjungan Komisioner Uni Eropa untuk Perdagangan dan Keamanan Ekonomi, Maroš Šefčovič, ke Indonesia serta pertemuan dengan para pemimpin UE direncanakan pada akhir Oktober atau awal November 2026.
-Selanjutnya, BPI Danantara tetap berencana mendirikan perusahaan tekstil milik negara (BUMN) baru yang dapat dikembangkan melalui kemitraan dengan perusahaan tekstil yang sudah ada. Pengembangan ini akan mempertimbangkan kondisi mesin dan teknologi, basis produksi dan infrastruktur, serta potensi penciptaan lapangan kerja. Danantara juga menegaskan bahwa investasi harus tetap memberikan imbal hasil yang baik, mengingat penciptaan lapangan kerja bukanlah satu-satunya pertimbangan dalam menentukan investasi.
-IHSG ditutup turun 1,69% di level 6.277,04 pada hari Selasa (22 September). Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp671,63 miliar di pasar reguler, menjadikan total jual bersih kumulatif sejak awal tahun (year-to-date) mencapai Rp102,50 triliun. Aliran dana asing terutama masuk ke saham TAPG, AADI, DEWA, MDKA, dan CUAN, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham BBRI, TINS, BBCA, BMRI, dan TPIA. Di pasar valuta asing, Rupiah menguat tipis ke kisaran Rp17.850 per Dolar AS, menghentikan tren pelemahan selama delapan sesi berturut-turut. Penguatan nilai tukar terjadi setelah Bank Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk melakukan intervensi guna menjaga perdagangan rupiah tetap tertib.
-Secara teknikal, IHSG kembali mengalami koreksi dan ditutup di bawah level Fibonacci Retracement 61,80% pada posisi 6.290,10. Kondisi ini mengindikasikan menguatnya tekanan bearish dalam jangka pendek, sekaligus menandakan bahwa IHSG gagal mempertahankan area support Fibonacci yang krusial. Indikator RSI (14) turun ke level 36,20—tetap berada di bawah level 50 dan mendekati zona oversold—yang mencerminkan dominasi momentum bearish, meskipun ruang penurunan lebih lanjut mulai terlihat terbatas. Jika IHSG gagal kembali ke atas level 6.290, tekanan koreksi dapat berlanjut menuju area gap 6.219–6.186 dan kemudian ke level 6.106 sebagai support berikutnya. Sebaliknya, jika terjadi rebound teknikal, IHSG perlu terlebih dahulu kembali ke kisaran 6.290–6.377, lalu menembus area 6.424–6.452 yang berimpit dengan EMA50, EMA10, dan EMA20. Level resistance berikutnya berada di kisaran 6.473–6.552.
“Kami menyarankan investor untuk mengambil sikap wait-and-see sembari memantau kemampuan IHSG dalam membentuk support di area 6.219–6.186 dan mengonfirmasi terjadinya rebound di atas level 6.290–6.377. Investor yang telah mencatatkan keuntungan dapat menerapkan trailing stop atau melakukan aksi ambil untung (profit-taking) secara bertahap, sementara pembelian akumulatif yang selektif sebaiknya hanya dilakukan setelah adanya konfirmasi rebound dan setelah IHSG kembali menembus level resistance terdekat,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (23/9).




