DBS Group Research|Artificial Intelligence (AI)

DBS: Keunggulan AI Bukan Lagi Soal Model Canggih, tapi Dampak Nyata

Oleh: Corri

22 Oktober 2026, 07:19
DBS: Keunggulan AI Bukan Lagi Soal Model Canggih, tapi Dampak Nyata

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin canggih dan mudah diakses akan mengubah sumber keunggulan kompetitif.

Ke depan, keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kemampuan menciptakan model AI terbesar, melainkan efektivitas penerapannya untuk menyelesaikan persoalan nyata dan menghasilkan dampak terukur.

Hal tersebut diungkapkan DBS Group Research dalam laporan bertajuk “Intentional AI: Connecting Intelligence, Capital and Outcomes”.

Laporan itu menilai, seiring meluasnya akses terhadap AI, keunggulan akan bergeser pada kemampuan organisasi menyelaraskan teknologi, modal, tata kelola, dan eksekusi untuk menghasilkan manfaat nyata.

Bagi Asia, pergeseran tersebut membuka peluang besar, terutama dalam menghadapi penuaan populasi, meningkatkan akses layanan kesehatan dan inklusi keuangan, serta memperkuat ketahanan iklim.

Berbagai tantangan itu dinilai berpotensi menjadi pendorong inovasi, investasi, dan pertumbuhan jangka panjang.

Di Indonesia, peluang tersebut relevan bagi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masyarakat yang belum terlayani secara optimal oleh sektor keuangan formal, serta kelompok yang rentan terhadap risiko iklim.

Dengan meningkatnya adopsi layanan digital dan bertambahnya populasi lanjut usia, penerapan AI yang berorientasi pada hasil dapat memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat.

Dalam siaran pers, Rabu (21/10), DBS Group Research memaparkan sejumlah temuan utama sebagai berikut.

Pertama, keunggulan AI bergeser dari model besar ke solusi nyata.

Semakin luasnya akses terhadap AI membuat kemampuan mengidentifikasi persoalan penting dan menerjemahkan teknologi menjadi solusi terukur semakin menentukan daya saing. Penuaan populasi, akses kesehatan, inklusi keuangan, dan ketahanan iklim tidak hanya menjadi prioritas kebijakan, tetapi juga membuka peluang bagi dunia usaha dan investor.

Kedua, Asia unggul dalam penerapan AI di sektor riil.

Di tengah diskusi global yang banyak berfokus pada model fondasi (foundation models) dan daya komputasi, Asia menyumbang 74% instalasi robot industri global pada 2024. Angka tersebut jauh di atas Eropa sebesar 16% dan kawasan Amerika sebesar 9%. Keunggulan ini menjadi modal penting ketika AI berkembang dari sekadar memprediksi menjadi menjalankan tindakan nyata, terutama di bidang manufaktur dan sistem fisik.

Ketiga, peluang investasi Asia terletak pada penerapan AI.

Perusahaan AI menghimpun sekitar USD270 miliar dalam pendanaan modal ventura pada 2025. Hampir 80% dana tersebut mengalir ke Amerika Utara, sedangkan Asia hanya memperoleh 5,7%. Padahal, Asia menghadapi peluang besar untuk memanfaatkan AI dalam mengatasi penuaan populasi, meningkatkan ketahanan iklim, dan memperluas inklusi keuangan. Menurut DBS Group Research, penciptaan nilai ke depan akan semakin bergantung pada efektivitas penerapan AI di sektor yang membutuhkan solusi nyata.

Keempat, ketahanan iklim dan inklusi keuangan berpotensi menjadi pasar pertumbuhan AI.

Prakiraan cuaca yang lebih akurat, misalnya, akan bernilai ketika membantu masyarakat menghadapi risiko iklim. Begitu pula perluasan akses layanan keuangan yang dapat memperbaiki kondisi finansial dan mendukung pengambilan keputusan ekonomi. Dalam kedua sektor tersebut, nilai jangka panjang bergantung pada kemampuan menghubungkan kecerdasan dengan hasil yang terukur.

Kelima, Singapura berpeluang menjadi pusat integrasi AI tepercaya di Asia.

Keunggulan Singapura dinilai bukan terletak pada persaingan skala teknologi, melainkan pada kemampuannya menghubungkan inovasi, manufaktur, penerapan teknologi, keuangan, penjaminan, dan tata kelola di kawasan. Peran tersebut dapat membantu memastikan inovasi Asia lebih tepercaya, dapat dioperasikan lintas sistem (interoperable), serta lebih menarik bagi investasi lintas negara.

Berita Terkini

See More