PT ITSEC Asia Tbk.|CYBR|AICX 2026|Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

ITSEC Asia Peringatkan Ancaman Kuantum, Indonesia Diminta Siaga Lindungi Data Digital

Oleh: Corri

22 Oktober 2026, 07:47
ITSEC Asia Peringatkan Ancaman Kuantum, Indonesia Diminta Siaga Lindungi Data Digital

Foto: Wakil Presiden Direktur, CTO sekaligus Co-Founder ITSEC Asia, Marek Bialoglowy (Ist)

Pasardana.id – PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) mendorong Indonesia mulai mempersiapkan pertahanan siber menghadapi ancaman komputasi kuantum.

Meski komputer kuantum saat ini belum mampu memecahkan enkripsi RSA yang digunakan secara luas, data terenkripsi yang dikumpulkan sekarang berpotensi dibuka pada masa depan.

Risiko tersebut dikenal sebagai harvest now, decrypt later, yakni praktik mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk didekripsi ketika teknologi kuantum semakin maju.

Isu ini menjadi sorotan dalam sesi panel AICX 2026 bertajuk “Beyond the Cryptographic Cliff: Quantum, Cyber and The Next Defense” yang digelar ITSEC Asia di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali.

Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk membahas dampak komputasi kuantum terhadap keamanan siber Indonesia.

Wakil Presiden Direktur, CTO sekaligus Co-Founder ITSEC Asia, Marek Bialoglowy, menegaskan persiapan menghadapi ancaman kuantum harus dimulai sejak dini, tanpa menunggu teknologi tersebut mampu menembus sistem enkripsi yang digunakan saat ini.

“Organisasi perlu memetakan sistem kriptografi yang digunakan, mengidentifikasi data paling kritis, dan merencanakan transisi menuju post-quantum cryptography (PQC). Proses migrasi membutuhkan waktu. Semakin awal dipersiapkan, semakin baik perlindungan aset digital,” ujar Marek dalam siaran pers, Rabu (21/10).

Ia menambahkan, perlindungan juga perlu mencakup model dan data kecerdasan artifisial (AI) yang dikembangkan saat ini agar tetap aman menghadapi perkembangan teknologi kuantum.

Di kesempatan yang sama, Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Andriyan Bayu Suksmono, mengingatkan Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan perkembangan komputasi kuantum yang lebih cepat dari perkiraan.

Menurut dia, sejumlah prediksi memperkirakan terobosan komputasi kuantum terjadi pada 2030–2035, meski ada pula perkiraan yang menyebutkan waktu lebih lama.

Karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan mengacu pada skenario paling awal, yakni 2030.

Salah satu langkah antisipasi adalah penerapan PQC, metode kriptografi yang dirancang untuk menghadapi serangan komputer kuantum.

Algoritma ini dapat digunakan pada perangkat yang tersedia saat ini, seperti ponsel, komputer, dan server.

Pendekatan lainnya adalah quantum key distribution (QKD), yang memanfaatkan prinsip kuantum untuk mendukung distribusi kunci komunikasi secara aman.

Kepala Pusat Riset Fisika Kuantum Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Mohammad Hamzah Fauzi, menilai perkembangan teknologi kuantum telah mengubah ekspektasi terhadap waktu realisasi teknologi tersebut.

Ia mencontohkan, dalam konferensi di Montpellier, Prancis, pada 2018, seorang fisikawan terkemuka memperkirakan komputer kuantum yang benar-benar bermanfaat tidak akan terwujud selama masa hidupnya.

Namun, kemajuan teknologi belakangan mulai membantah prediksi tersebut.

Lebih lanjut Hamzah menekankan pentingnya kemitraan antara pusat riset dan industri keamanan agar hasil pengembangan teknologi kuantum dapat dimanfaatkan pengguna.

Sementara itu, Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, menilai teknologi kuantum akan menjadi bagian penting dari fondasi kepercayaan bagi pengembangan AI di masa depan.

Meski belum tercakup dalam peta jalan AI saat ini, menurut dia, teknologi kuantum perlu mulai diperhitungkan dalam strategi pengembangan teknologi nasional.

Hammam mengapresiasi langkah ITSEC Asia mengangkat isu tersebut sejak dini, mengingat penguasaan teknologi kuantum membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, investasi riset, pendidikan, dan pengembangan talenta.

Marek menegaskan, AICX mempertemukan isu kuantum, AI, dan keamanan siber karena ketiganya perlu dikembangkan dan dilindungi secara terpadu.

ITSEC Asia pun akan melanjutkan kolaborasi dengan ITB, BRIN, dan KORIKA untuk memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi era kuantum.

Melalui AICX 2026, ITSEC Asia mendorong sinergi industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas riset guna memperkuat ketahanan digital nasional dalam menghadapi risiko teknologi masa depan.

Berita Terkini

See More