FWD Insurance Bongkar Tren Konsumen, 58% Miliki Asuransi Jiwa untuk Investasi
Oleh: Harry

Foto : istimewa
Pasardana.id – PT FWD Insurance Indonesia mengungkapkan bahwa asuransi jiwa semakin dipandang masyarakat sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Sebanyak 58% responden menyatakan tujuan utama memiliki asuransi jiwa adalah investasi, disusul penyediaan dana warisan bagi keluarga (41%) dan memperoleh ketenangan batin (39%).
Temuan tersebut dipaparkan dalam Life Insurance Usage and Attitude Study – Economic Outlook 2027 oleh Ipsos pada acara FWD Economic Outlook 2027 bertema “Navigating Tomorrow with Confidence” di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 19 Oktober 2026.
Direktur Utama FWD Insurance, Jeffrey Woo, mengatakan perubahan ekonomi tidak hanya menyangkut angka dan indikator, tetapi juga keputusan individu dan keluarga dalam merencanakan masa depan.
“Studi bersama Ipsos menemukan bahwa perencanaan masa depan dan ketenangan batin menjadi pendorong utama kepemilikan asuransi. Agen juga memegang peranan penting dalam membantu masyarakat memahami manfaat perlindungan dan memengaruhi keputusan pembelian,” ujarnya.
Studi tersebut menunjukkan, agen asuransi menjadi sumber utama masyarakat mengenal produk asuransi, dengan proporsi 80%, sekaligus faktor yang paling memengaruhi keputusan pembelian, yakni 51%.
Selain itu, kepercayaan terhadap perusahaan, reputasi, ragam produk, dan dukungan agen menjadi pertimbangan utama konsumen.
Direktur Riset Ipsos Indonesia, Dini Islami, mengatakan masyarakat kini semakin memandang asuransi jiwa sebagai bagian dari perencanaan masa depan, bukan sekadar perlindungan terhadap risiko tak terduga.
Agen juga berperan sebagai sumber informasi dan mitra tepercaya dalam membantu konsumen menentukan produk sesuai kebutuhan dan tujuan keuangan.
Dalam forum tersebut, ekonom senior Agustinus Prasetyantoko memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,4% pada 2027, sedangkan kawasan Emerging and Developing Asia, termasuk Indonesia, diperkirakan tumbuh 4,9%.
Namun, ia mengingatkan tingginya ketidakpastian global menjadi tantangan bagi perekonomian dunia.
Berdasarkan World Uncertainty Index, tingkat ketidakpastian pada 2026 mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi tersebut, menurut Agustinus, perlu diantisipasi melalui pengelolaan kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan, dan Pengaturan Bank Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Ridwan Nasution, menegaskan bahwa kepercayaan menjadi modal penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027.
“Ketika kepercayaan meningkat, risk premium menurun, biaya pembiayaan juga akan menurun, investasi meningkat, dan sumber daya dapat dialokasikan secara lebih produktif,” katanya.
Ia menambahkan, pasar modal yang kredibel bukanlah pasar yang selalu mencatat kenaikan, melainkan pasar yang transparan, adil, likuid, dan dapat dipercaya dalam kondisi harga naik maupun turun.
Untuk memperkuat kepercayaan, Ridwan menyoroti lima aspek utama, yakni kredibilitas fiskal dan moneter, percepatan investasi dan reformasi, integritas pasar keuangan, stabilitas perbankan, serta peningkatan produktivitas.
Ridwan juga menyoroti persiapan Program Penjaminan Polis Asuransi yang menjadi mandat LPS berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Program tersebut bertujuan melindungi pemegang polis, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi, serta mendorong pertumbuhan industri yang lebih sehat dan berkelanjutan.
LPS menargetkan aktivasi program pada 2027, dengan rencana pemberlakuan mulai 2028. Ridwan berharap seluruh pelaku industri asuransi mendukung persiapan dan implementasinya.
“Kepercayaan tidak dibangun oleh janji, melainkan oleh kinerja,” tegasnya.
Perkuat Inovasi dan Layanan Nasabah
Melalui FWD Economic Outlook 2027, FWD Insurance menghadirkan perspektif mengenai kondisi ekonomi, tren konsumen, dan perkembangan industri untuk membantu masyarakat serta pelaku usaha mengantisipasi risiko dan menangkap peluang.
Jeffrey menegaskan, FWD Insurance akan terus mengembangkan pengalaman nasabah (customer experience), inovasi, kapabilitas digital, edukasi keuangan, dan kemitraan tepercaya.
Upaya tersebut ditujukan untuk menghadirkan solusi perlindungan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah perubahan ekonomi.
“Kami berharap berbagai wawasan yang dibagikan dapat membantu masyarakat, pelaku industri, dan dunia usaha memahami perubahan, menangkap peluang, serta mempersiapkan langkah ke depan. Hal ini sejalan dengan visi FWD Insurance untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap asuransi agar mereka dapat merencanakan masa depan dan menjalani hidup dengan lebih percaya diri,” tutup Jeffrey.





