CBI Connect 2026|PT Credit Bureau Indonesia (CBI)|credit intelligence|Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

CBI Luncurkan 4 Solusi Intelijen Kredit, Bidik Perluasan Pembiayaan UMKM

Oleh: Corri

22 Oktober 2026, 07:30
CBI Luncurkan 4 Solusi Intelijen Kredit, Bidik Perluasan Pembiayaan UMKM

Foto : istimewa

Pasardana.id – PT Credit Bureau Indonesia (CBI), biro kredit swasta terbesar di Indonesia, meluncurkan empat solusi credit intelligence untuk membantu lembaga keuangan meningkatkan akurasi penilaian kredit, mengelola risiko, dan memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam CBI Connect 2026 di The St. Regis Jakarta.

Mengusung tema “Leading the Next Era of Credit Intelligence”, forum tahunan ini mempertemukan lebih dari 150 eksekutif senior dan pemangku kepentingan industri jasa keuangan untuk membahas pemanfaatan data yang lebih komprehensif dalam penilaian kelayakan kredit (credit assessment dan underwriting).

Melansir siaran pers Rabu (21/10), CBI menyoroti tiga tantangan struktural dalam penyaluran kredit di Indonesia.

Pertama, sebanyak 59,42% pekerja Indonesia berada di sektor informal, sehingga banyak calon peminjam tidak memiliki slip gaji atau catatan pekerjaan formal. Akibatnya, masyarakat yang sebenarnya layak memperoleh kredit berisiko tidak terjangkau model penilaian konvensional.

Kedua, ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui SEOJK No. 19/2025 tentang layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi (LPBBTI) memperketat rasio utang terhadap pendapatan maksimal 30%, yang berlaku efektif pada 2026. Ketentuan ini menuntut data pendapatan dan kemampuan pembayaran calon peminjam yang lebih akurat.

Ketiga, berdasarkan data keyakinan konsumen Bank Indonesia, masyarakat Indonesia rata-rata mengalokasikan 10,5% pendapatannya untuk membayar kewajiban utang. Karena itu, penilaian kredit tidak cukup hanya mengandalkan data pendapatan, tetapi juga harus mempertimbangkan kewajiban keuangan yang telah dimiliki calon debitur.

Direktur Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Perbankan, Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan OJK, Bayu Husodo, mengapresiasi CBI Connect 2026 sebagai forum strategis untuk memperkuat kolaborasi dan mengembangkan ekosistem informasi perkreditan.

Menurut dia, pengembangan credit intelligence dan pemanfaatan data berkualitas dapat memperkuat pengelolaan risiko, meningkatkan akurasi penilaian kelayakan kredit, serta membantu mengidentifikasi risiko sejak dini.

OJK juga mengapresiasi platform SME Bureau milik CBI untuk membangun profil UMKM yang terstandarisasi dan transparan, sehingga mendukung ekosistem pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Empat Solusi Baru CBI

Untuk menjawab tantangan tersebut, CBI memperkenalkan empat solusi baru.

  1. Income Predictor, memanfaatkan data dari berbagai sumber untuk memperkirakan pendapatan bulanan calon peminjam, khususnya pekerja sektor informal yang tidak memiliki dokumentasi pendapatan konvensional.

  2. Enhanced Bureau Alternative Score (EBAS), menggabungkan informasi biro kredit dengan wawasan perilaku dari aplikasi untuk menilai calon peminjam dengan riwayat kredit terbatas (thin-file borrowers), sekaligus menjaga prinsip kehati-hatian.

  3. Skip Tracing, menyediakan informasi kontak dan keterjangkauan calon peminjam atau debitur yang lebih lengkap dan terkini, sehingga membantu lembaga keuangan dan tim penagihan menghubungi debitur secara lebih efisien.

  4. Agent Polar, solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis dan membandingkan kinerja portofolio kredit dengan tren industri. Solusi ini dilengkapi laporan analisis mendalam dan notifikasi proaktif guna membantu mendeteksi risiko serta meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan.

Presiden Direktur CBI, Anton K. Adiwibowo, mengatakan penggunaan data yang akurat, memenuhi persyaratan, dan sesuai ketentuan menjadi kunci dalam menilai kelayakan kredit di tengah kompleksitas kebutuhan pembiayaan masyarakat.

Menurut dia, inovasi credit intelligence CBI memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai profil calon peminjam untuk mendukung peningkatan pendapatan, menjaga kualitas kredit, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi.

Melalui CBI Connect, CBI mempertemukan berbagai institusi dalam ekosistem kredit untuk mengoptimalkan pemanfaatan data, memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum terlayani secara optimal, serta memastikan risiko dikelola secara bertanggung jawab.

Sementara itu, ekonom senior Dr. Aviliani menilai ketidakpastian ekonomi menuntut kelincahan dalam pengambilan kebijakan bisnis dan publik. Selain menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan, Indonesia perlu memperkuat pemerataan pendapatan rumah tangga melalui pemberdayaan sektor informal dan UMKM.

Bagi lembaga keuangan, kondisi tersebut menuntut penilaian yang melampaui skor biro kredit agar dapat memahami kondisi ekonomi debitur secara utuh.

Dengan pendekatan credit intelligence, CBI berharap lembaga keuangan dapat mengambil keputusan kredit secara lebih tepat, mengelola risiko secara bijak, serta membuka peluang pembiayaan yang lebih luas bagi masyarakat dan UMKM untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan.

Berita Terkini

See More