inflasi tahunan|data inflasi|Laju pertumbuhan ekonomi|ekonomi indonesia|Menkeu Suahasil Nazara

Inflasi RI Capai 3,28 Persen, Menkeu Sebut Masih Dalam Level Sehat

Oleh: Ronal

02 Oktober 2026, 00:40
Inflasi RI Capai 3,28 Persen, Menkeu Sebut Masih Dalam Level Sehat

Foto : istimewa

Pasardana.id – Inflasi Indonesia jika dilihat pada September 2026 secara turunan berada diangka 3,28 persen. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai inflasi tersebut masih dalam level yang sehat.

"Jadi menunjukkan gerak ekonomi masyarakat itu bergerak. Dan eh kalau kita lihat jenis-jenis barangnya, yang namanya inflasinya menurut saya sangat sehat," kata Suahasil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/10).

Jika dilihat secara tahunan, ada kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya seluruh indeks kelompok pengeluaran.

Antara lain, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,37% dan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,77%.

Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,20 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,02 persen.

Begitu juga pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,19 persen; kelompok kesehatan sebesar 2,24 persen dan kelompok transportasi sebesar 4,84 persen.

Bahkan, BPS mencatat inflasi kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,83 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,81 persen; kelompok pendidikan sebesar 1,43 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,70 persen.

Meski ada kenaikan, Suahasil menilai inflasi tersebut masih dalam batas asumsi yang diperhitungkan pemerintah sejak awal tahun.

"Di angka 3,28% itu angka yang sangat-sangat kita comfortable karena ada di dalam range target inflasi kita," ucapnya.

Bergeraknya ekonomi juga didukung oleh data PMI Manufaktur mencapai 52,4 atau tertinggi dalam tujuh bulan.

"Yang berarti adalah angka yang menunjukkan para industri ini mulai membeli barang karena ingin ekspansi produksi," kata Suahasil.

Begitu juga dengan neraca perdagangan yang kembali mencetak surplus US$3,5 miliar.

"Nah ini adalah indikasi-indikasi yang baik. Eh fundamental ekonomi kita, resiliensi perekonomian kita itu terlihat, gerak ekonominya terlihat dalam angka-angka statistik," pungkasnya.

Hal yang sama diungkap Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung.

Dalam sebuah agenda Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10), Juda menilai kondisi tersebut belum memberikan dampak besar terhadap daya beli masyarakat maupun keputusan untuk berbelanja dan berinvestasi.

“Kalau inflasi itu masih di dalam target range, artinya dia itu belum terlalu berdampak kepada daya beli, belum terlalu berdampak pada decision making orang di dalam belanja, karena masih terjaga. Itulah inflasi yang ideal memang seperti itu harusnya,” ujarnya.

Dengan inflasi 3,28%, posisi inflasi Indonesia saat ini berada 0,78 poin persentase di atas titik tengah target 2,5%. Namun, angka tersebut masih 0,22 poin persentase di bawah batas atas sasaran 3,5%.

Juda juga membandingkan kondisi inflasi Indonesia dengan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Menurut dia, inflasi Indonesia masih relatif lebih baik dibandingkan kedua negara tersebut.

Namun, posisi inflasi yang mendekati batas atas tetap menjadi bagian dari dinamika yang perlu diperhatikan pemerintah.

Pasalnya, tekanan harga yang lebih tinggi dapat memengaruhi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan, terutama apabila berasal dari komponen yang sensitif terhadap kelompok berpendapatan rendah.

Berita Terkini

See More