hilirisasi industri|ekspor nikel|Alumunium|Dewan Ekonomi Nasional (DEN)|devisa negara

Terus Meroket, Ekspor Hilirisasi RI Capai US$ 50 Miliar pada 2026

Oleh: Ronal

21 Oktober 2026, 01:08
Terus Meroket, Ekspor Hilirisasi RI Capai US$ 50 Miliar pada 2026

Foto : Dok. BPMI Setpres

Pasardana.id – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) melaporkan sejumlah hasil kajian strategis kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (20/10).

Salah satu yang dilaporkan DEN, diantaranya proyeksi nilai ekspor hasil hilirisasi Indonesia yang meningkat sebesar 45% dibanding capaian tahun sebelumnya, 2024.

Tahun ini, capaian nilai hasil hilirisasi RI diproyeksikan mencapai US$ 50 miiar dibanding tahun 2024 mencapai US$ 34,5 miliar.

DEN melaporkan kenaikan tersebut ditopang oleh hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai litium yang semakin memperkuat kontribusi industri pengolahan terhadap devisa negara.

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menjelaskan bahwa hilirisasi kini berkembang makin luas. Artinya, tak hanya nikel, pertumbuhan signifikan juga terjadi pada aluminium serta komponen baterai litium.

“Yang pertama adalah terkait dengan hilirisasi. Tadi kami juga menyampaikan kepada Bapak Presiden, kajian hilirisasi terakhir yang dilakukan oleh DEN, di mana sekarang yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tapi ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat,” ujar Seto dalam keterangan persnya

Ia menjelaskan, salah satu sektor yang mencatatkan pertumbuhan signifikan adalah hilirisasi alumunium. DEN memperkirakan nilai ekspor produk alumunium pada tahun 2026 mencapai US$ 7,2 miliar.

Angka tersebut tentu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian 2024 yang sebesar US$ 3,5 miliar.

“Hilirisasi alumunium ini meningkat cukup signifikan dan kita perkirakan angka ekspor untuk produk-produk alumunium pada tahun ini menjadi sekitar US$ 7,2 miliar dari sekitar US$ 3,5 miliar pada tahun 2024,” bebernya.

Tak hanya alumunium, perkembangan hilirisasi komponen baterai litium juga menjadi perhatian. Menurut Seto, Indonesia mulai berperan sebagai salah satu produsen komponen baterai kendaraan listrik termasuk anoda dan katoda.

Bahkan, RI juga telah memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak memiliki sumber daya litium di dalam negeri.

“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” ujar Seto lagi.

Dengan perkembangan tersebut, Seto menilai menjadi tambahan sumber devisa yang penting bagi Indonesia.

Ke depan, DEN memperkirakan nilai ekspor aluminium masih dapat terus meningkat hingga melampaui US$10 miliar seiring bertambahnya investasi pada smelter aluminium baru di Indonesia.

“Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik buat Indonesia. Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” tukasnya.

Berita Terkini

See More