ANALIS MARKET (18/4/2024) : IHSG Berpotensi Kembali Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, Wall Street jatuh berjamaah pada penutupan perdagangan Rabu (17/4/2024) dengan NASDAQ memimpin pelemahan sebesar 1.2%.

S&P 500 turun untuk sesi keempat berturut-turut, dipicu oleh penurunan saham Nvidia dan perusahaan teknologi besar lainnya seperti Netflix, Apple, Meta, dan MIcrosoft.

Walau demikian, penurunan market tertahan oleh turunnya imbal hasil Treasury AS setelah menyentuh level tertinggi lebih dari 5 bulan pada hari sebelumnya menyusul kuatnya lelang obligasi 20-tahun, dengan yield obligasi 10-tahun bertahan sekitar 4,59%.

Lesunya sektor Teknologi atau yang terkenal dengan growth stocks ini akibat imbas kekhawatiran masih diperlukan suku bunga higher for longer, apalagi setelah Federal Reserve Chairman Jerome Powell memberikan pernyataan serupa pada hari Selasa.

Beberapa pejabat penting The Fed lainnya seperti Fed Board Governor, Michelle Bowman dan Cleveland Fed President, Loretta Mester dijadwalkan berbicara hari ini.

Fed Beige Book yang berisikan survey kegiatan ekonomi menunjukkan sedikit ekspansi dari akhir Februari sampai awal April, sementara para perusahaan khawatir bahwa usaha menurunkan Inflasi lebih lanjut terkesan stagnan.

Para pelaku pasar perkirakan peluang suku bunga akan mulai dipangkas bulan Juni menjadi hanya tersisa 16.8% saat ini, dan memundurkan proyeksi ke bulan Juli dengan probabilitas lebih besar yaitu 46%, seperti dilansir dari CME FedWatch Tool.

Nanti malam akan kembali dinantikan angka Initial Jobless Claims seperti biasa setiap minggu, yang mana kali ini diperkirakan akan ada penambahan klaim pengangguran sebesar 215 ribu, harusnya lebih besar dari pekan sebelumnya 211 ribu.

Tak lupa Philadephia Fed Manufacturing Index dan angka Existing Home Sales (Mar.) akan menambah pertimbangan dalam menilai kekuatan ekonomi AS lebih lanjut.

Musim pelaporan keuangan juga menarik perhatian para investor dan menambah dinamika pasar. Masih kurang dari 10% dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga saat ini, namun 3 dari setiap 4 perusahaan telah melampaui ekspektasi Wall Street, menurut data dari FactSet. Namun demikian, nyatanya DJIA telah tergerus lebih dari 5% pada bulan April, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite juga telah anjlok lebih dari 4%.

KOMODITAS: harga MINYAK mundur 3% pada perdagangan Rabu seiring adanya lonjakan stok cadangan mingguan minyak mentah AS sebesar 2.7 juta barrel, jauh di atas perkiraan 1.6 juta barrel yang disangka para ekonom. Kekhawatiran bahwa oversupply tidak sesuai dengan demand global yang masih terkesan lesu, lebih besar dari masalah konflik Timur Tengah yang mengancam lancarnya arus logistik minyak global, walau dunia masih nervous menunggu serangan balasan macam apa yang akan diluncurkan Israel terhadap Iran.

MARKET ASIA & EROPA: JEPANG laporkan surplus Trade Balance pada bulan Maret sebesar JPY 366.5 miliar yang sangat kontradiktif dengan posisi bulan sebelumnya defisit JPY 377.8 miliar; walau Ekspor mereka hanya tumbuh 7.3% yoy pada bulan Maret, sedikit melunak dari 7.8% di bulan sebelumnya. Bicara mengenai INFLASI, benua Eropa kelihatannya cukup terkendali secara INGGRIS & EUROZONE masing-masing merilis angka CPI bulan Maret pada level 3.2% yoy dan 2.4%, keduanya mampu mendingin dari posisi bulan sebelumnya: 3.4% untuk Inggris dan 2.6% untuk Eurozone.

Kabar baik dari Retail Sales Indonesia yang diumumkan kemarin (17/4), bahwa ada pertumbuhan 6.4% di bulan Februari, jauh lebih tinggi dari 1.1% di bulan sebelumnya. Namun data tersebut tak mampu membendung penurunan IHSG lebih lanjut, sehingga harus ditutup di level 7130 atau terpotong 34 pts/-0.47% di mana Foreign Net Sell tercatat sebesar IDR 470.67 miliar; membuat IHSG mendarat persis pada Support trendline yang tercipta sejak awal tahun.

Menyikapi kondisi tersebut, analis NH Korindo Sekuritas memperkirakan masih ada ancaman konsolidasi hari ini sampai next Support 7100, walau potensi turun bisa saja tertahan oleh adanya trading opportunities pada beberapa sektor/group saham yang berkapitalisasi besar.

“IHSG berpotensi kembali melemah,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Kamis (18/4).